pelantar.id – Serangan demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kian mengkhawatirkan. Hingga akhir Februari ini, sudah 360 warga terjangkit penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri sudah menetapkan Siaga I untuk serangan penyakit ini. Dinkes berharap, status Kepri tidak naik menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Untuk saat ini kasus DBD di Kepri belum dapat ditingkatkan sebagai KLB lantaran pada empat tahun lalu jumlah kasus penyakit itu lebih tinggi dibanding tahun ini,” kata Kepala Dinkes Kepri, Tjetjep Yudiana di Tanjungpinang, Rabu (27/2/19).

Ia mengatakan, dari 360 kasus penderita DBD, paling banyak ditemukan di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Karimun. Sementara, ada dua penderita DBD yang meninggal dunia, yakni berasal dari Kota Batam dan Tanjungpinang.

Baca Juga :   Selama Tahun 2020, Terjadi 4 Gerhana di Indonesia

“Mulai akhir 2018 sebenarnya sudah nampak kasus ini meningkat. Ya, mudah-mudahan jangan sampai KLB,” ujarnya.

Menurut Tjetjep, potensi Kepri ditetapkan sebagai KLB DBD cukup besar jika penanganan DBD masih dilakukan secara sporadis.

“Pemberantasan sarang jentik-jentik harus dilakukan secara menyeluruh. Jika tidak, nyamuk terus berkembang biak, dan jumlah penderita DBD potensial bertambah banyak,” tegasnya.

Kepala Dinkes Kepri, Tjetjep Yudiana

Jaga Kebersihan Lingkungan

Tjetjep mengemukakan, Pemerintah Kepri sudah menetapkan Siaga I DBD agar pemberantasan sarang nyamuk dapat dilakukan secara massif.

Penetapan Siaga I dalam penanganan kasus DBD setelah dua penderita penyakit itu meninggal dunia.

Penetapan Siaga I DBD juga untuk membuka mata pemerintah dan masyarakat agar bersama-sama menjaga lingkungan rumah dan sekitar rumah bersih dari sarang nyamuk.

Baca Juga :   Para Ahli: Minum Kopi Sebelum Sarapan Berbahaya, Berikut Alasannya

Secara teknis, kepala daerah, camat, lurah, kades, RT dan RW yang lebih memiliki kapasitas untuk mengajak masyarakat memberantas sarang nyamuk.

“Perang terhadap nyamuk tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah tingkat atas, melainkan harus diikuti hingga di tingkat RT dan RW,” ucapnya.

Pemberantasan sarang nyamuk harus dilakukan di rumah, dan di sekitar lingkungan rumah.

Jadi percuma kalau rumah kita bersih dari sarang nyamuk, sementara rumah tetangga masih ada sarang nyamuk, katanya.

Tjetjep menjelaskan, Gubernur Kepri Nurdin Basirun sudah melayangkan surat kepada pemerintah kabupaten dan kota untuk mengajak masyarakat bersama-sama memberantas nyamuk dengan cara memastikan tidak ada jentik-jentik di sekitar rumah.

Pemko Tanjungpinang dan Pemko Batam sudah memulai kegiatan gotong-royong membersihkan seluruh wadah tempat nyamuk berkembang biak.

Baca Juga :   Panduan Sederhana Bagi Pendatang Baru di Batam

“Semestinya gotong-royong itu dilanjutkan hingga di tingkat RT,” ujar Tjetjep.

*****

Sumber : Antara