AI Dipertanyakan, Saham Teknologi Asia Terancam Terseret ke Zona Merah

Saham teknologi kembali menjadi titik rapuh bagi pasar Asia setelah gelombang penjualan di bursa global memicu kekhawatiran baru soal valuasi dan belanja besar untuk infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. Di tengah suasana itu, bursa-bursa di kawasan diperkirakan bergerak melemah, dengan Sydney berpotensi dibuka lebih rendah berdasarkan kontrak berjangka, sementara Tokyo tidak beroperasi karena hari libur nasional.

Tekanan sentimen tidak datang dari Asia saja. Pelemahan di Amerika Serikat ikut menyeret pasar regional setelah indeks utama di sana terkoreksi karena saham teknologi menghadapi aksi jual lanjutan.

Kekhawatiran investor makin besar setelah muncul laporan internal yang menyebut OpenAI gagal memenuhi target akuisisi pengguna baru dan volume penjualan. Laporan itu memperkuat anggapan bahwa pengeluaran besar untuk membangun infrastruktur AI belum tentu langsung berbuah laba, terutama jika pertumbuhan bisnis tidak secepat harapan pasar.

Dampaknya terasa ke sejumlah nama yang terkait dengan ekosistem tersebut, termasuk Oracle Corp. dan CoreWeave Inc. Wall Street Journal juga melaporkan OpenAI kehilangan beberapa target penjualan penting, sementara pesaingnya, Anthropic PBC, justru mencatat kemajuan di pasar coding dan segmen perusahaan.

Meski OpenAI membantah kekhawatiran itu dan mengatakan bisnis mereka tetap “berjalan sangat baik,” respons pasar belum berubah arah. S&P 500 pun menjauh dari rekor tertingginya karena investor memilih berhati-hati terhadap prospek belanja AI yang sangat besar.

Fokus pelaku pasar kemudian bergeser ke laporan kinerja raksasa teknologi yang segera menjadi perhatian, yakni Alphabet Inc., Microsoft Corp., Amazon.com Inc., dan Meta Platforms Inc. Laporan-laporan ini dipandang penting karena sektor teknologi masih menjadi penggerak utama pasar saham global.

Ekspektasinya tetap tinggi, dengan proyeksi pertumbuhan kuartal pertama mencapai 41 persen meski ada gangguan dari konflik geopolitik di Iran. Namun, kondisi itu juga membuat pasar lebih sensitif, sebab hasil yang sedikit di bawah perkiraan bisa cepat memicu tekanan jual.

Edward Harrison, strategis makro, menilai pasar sedang menerima tekanan dari beberapa arah sekaligus. Ia mengatakan, “Saham dan obligasi menghadapi tekanan minggu ini di luar kenaikan harga minyak,” sambil menambahkan bahwa ekspektasi tinggi terhadap laba “Magnificent Seven” akan membatasi kenaikan saham.

Ia juga menyoroti obligasi yang masih berisiko tertekan jika sebagian pelaku pasar mulai bertaruh imbal hasil tenor 10 tahun mendekati 4,40 persen. Dalam situasi seperti ini, ruang reli aset berisiko menjadi makin sempit karena investor harus menggabungkan prospek laba, arah suku bunga, dan potensi perubahan kebijakan.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Amerika Serikat bertahan stabil setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 5 persen pada awal pekan. Lonjakan itu muncul karena kekhawatiran atas kemungkinan penutupan Selat Hormuz di tengah ketegangan perang yang kian memburuk.

Harga energi yang lebih tinggi ikut menambah beban bagi pasar, terutama ketika inflasi kembali masuk radar. Federal Reserve sendiri diperkirakan mempertahankan suku bunga untuk pertemuan ketiga secara berturut-turut, sehingga pasar membaca sinyal kebijakan yang masih ketat di tengah tekanan geopolitik.

Efeknya juga mulai dirasakan di kawasan Asia-Pasifik. Kenaikan harga bahan bakar akibat perang dinilai berpotensi mendorong inflasi Australia pada kuartal pertama, sehingga pelaku pasar memilih lebih waspada terhadap arah saham dan obligasi.

Di sisi lain, perkembangan diplomatik dari kawasan konflik tetap dipantau ketat karena bisa memengaruhi sentimen dalam waktu singkat. Pemerintah Iran dilaporkan meminta Amerika Serikat mencabut blokade laut di jalur perairan strategis sebagai bagian dari negosiasi penghentian perang.

Mediator di Pakistan juga menyebut Teheran akan menyerahkan proposal revisi perjanjian dalam beberapa hari mendatang. Dengan kombinasi keraguan soal AI, pelemahan saham teknologi, dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, pasar Asia masih berhadapan dengan sentimen yang mudah berubah dari satu kabar ke kabar berikutnya.

Exit mobile version