pelantar.id– Gempa dan Tsunami di Palu mengejutkan para ilmuan. Prediksi tsunami memang terjadi namun tidak menyangka bencana tersebut sebesar itu.

Apalagi tak semua gempa bisa memicu tsunami. Setidaknya ada tiga hal yang harus terpenuhi, yakni pusatnya di tengah laut dan dangkal, kekuatan lindu di atas 6,5 skala Richter, dan polanya sesar naik atau turun (vertikal).

Sementara gempa di Palu terjadi secara horizontal atau sesar mendatar (strike-slip), di mana gerakan bumi sebagian besar horizontal. Gerakan semacam itu biasanya tidak akan menciptakan tsunami.

Namun, apa yang terjadi di Palu relatif ‘aneh’. Seorang ahli geofisika Amerika, Jason Patton, yang bekerja di perusahaan konsultan Temblor, dan mengajar di Humboldt State University di California menyebut kejadian tersebut di luar dugaan dan di luar hal-hal yang belum mereka temukan.

Baca Juga :   9 Mata Uang yang Bisa Bikin Investasi Untung Besar

” Memang kami menduga tsunami tapi tidak sebesar itu,” kata Jason.

Menurutnya studi tentang dasar laut akan sangat penting untuk memahami peristiwa tersebut. Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) itu menghantam Palu dengan gelombang setinggi 5,4 meter terhempas ke darat, meruntuhkan bangunan, menghancurkan kendaraan, dan menewaskan ratusan orang.

Jumlah korban jiwa yang tinggi juga dapat mencerminkan kurangnya sistem canggih yang mendeteksi dan peringatan tsunami, kata ahli tsunami.

Petaka tsunami sering berupa akibat gempa bumi besar, ketika bagian besar dari kerak bumi berubah bentuk, bergerak secara vertikal di sepanjang patahan.

Perubahan itu tiba-tiba tergantikan sejumlah besar air, menciptakan gelombang yang melaju berkecepatan tinggi melintasi cekungan samudra dan menyebabkan kehancuran ribuan kilometer dari asal gempa.

Tsunami Samudra Hindia 2004, yang memiliki gelombang setinggi 30 meter dan menewaskan hampir seperempat juta orang dari Indonesia hingga Afrika Selatan, dihasilkan dari gempa berkekuatan dahsyat 9,1 di Sumatera.

Baca Juga :   DJP Akan Kejar Wajib Pajak yang Belum Lapor SPT

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi, tsunami Palu mencapai hampir 6 meter saat mencapai daratan.

Ada faktor lain yang mempengaruhi

Tsunami juga dapat dipengaruhi oleh lokasi Palu di ujung teluk sempit. Garis pantai dan kontur dasar teluk bisa memfokuskan energi gelombang dan mengarahkannya ke teluk, meningkatkan tinggi gelombang saat mendekati pantai.

Efek semacam itu juga telah terlihat sebelumnya di Crescent City, California, yang telah dihantam oleh lebih dari 30 tsunami, termasuk sekali sesudah gempa Alaska pada 1964 di mana 11 orang tewas, karena kontur dasar laut di wilayah tersebut serta topografi dan lokasi kota.

sumber: liputan6.com