April menjadi bulan yang berat bagi pasar kripto setelah serangan besar menguras lebih dari $606 juta dari berbagai protokol. Nilai kerugian itu setara sekitar Rp9,8 triliun dan langsung memunculkan satu pertanyaan yang paling diburu pelaku pasar: apakah tekanan harga crypto akan makin dalam setelah gelombang peretasan ini?
Sorotan utama bukan cuma pada besarnya dana yang hilang, melainkan pada reaksi pasar setelahnya. Dalam banyak kasus, harga aset utama tidak selalu jatuh seketika, tetapi kepercayaan investor dan pergerakan dana di sektor keuangan terdesentralisasi atau DeFi sering kali menerima pukulan lebih dulu.
Dua serangan besar jadi penyumbang utama
Kerugian pada April tidak tersebar merata. Dua insiden besar disebut menyumbang sekitar 95% dari total nilai aset yang raib, sehingga keduanya menjadi pusat perhatian pasar kripto.
Satu serangan terjadi pada 1 April dan menyasar salah satu proyek di ekosistem Solana. Serangan lain menyusul pada 18 April dan menimpa proyek di ekosistem Ethereum.
Kedua insiden itu dikaitkan dengan Lazarus Group dari Korea Utara. Polanya juga bukan sekadar bug kode yang muncul tiba-tiba, tetapi operasi yang tampak sudah disiapkan berbulan-bulan dengan campuran rekayasa sosial dan tindakan yang terlihat sah di dalam protokol.
Tekanan paling terasa justru di DeFi
Walau nama Solana dan Ethereum ikut terseret, dampak yang paling cepat terlihat bukan pada runtuhnya jaringan inti. Tekanan justru muncul di aktivitas dana dalam protokol DeFi, karena investor cenderung bergerak lebih cepat saat risiko meningkat.
Aave termasuk salah satu platform yang paling terkena imbas. Dalam 48 jam pertama setelah serangan, lebih dari $8,4 miliar deposito keluar dari Aave, sementara total value locked atau TVL di seluruh protokol DeFi turun lebih dari $13 miliar.
Arus keluar semacam ini penting karena TVL sering dipakai sebagai ukuran kepercayaan dan minat pengguna terhadap ekosistem DeFi. Saat dana berpindah cepat ke tempat yang dianggap lebih aman, pasar biasanya membaca situasi itu sebagai tanda bahwa kehati-hatian sedang meningkat.
Kenapa sentimen bisa ikut melemah
Yang membuat kondisi April terasa lebih berat adalah situasi psikologis pasar yang memang belum kuat. Serangan besar datang di tengah sentimen investor terhadap DeFi yang sudah lemah, sehingga efeknya justru memperkuat dorongan untuk mengurangi risiko.
Dalam keadaan seperti ini, sebagian pelaku pasar mulai mempertanyakan lagi posisi DeFi, baik sebagai instrumen investasi maupun sebagai sistem keuangan yang benar-benar efisien. Tekanan harga bisa muncul bukan karena fondasi jaringan utama rusak, tetapi karena investor memilih keluar lebih dulu dan menahan eksposur.
Solana dan Ethereum tetap berjalan, tapi bukan berarti bebas tekanan
Penting untuk dicatat bahwa serangan yang menyeret dua ekosistem besar itu tidak berarti Solana maupun Ethereum mengalami kompromi di level utama. Masalahnya berada pada proyek pihak ketiga, sehingga kerusakan tidak menjalar langsung ke fondasi chain.
Meski begitu, data pergerakan dana menunjukkan tekanan tetap nyata. Selama April, total modal di protokol DeFi milik Ethereum dan Solana sama-sama turun signifikan, dan Ethereum bahkan mencatat arus keluar $1,6 miliar hanya pada 24 April.
Bagi pasar, keadaan seperti ini biasanya membuat aset terkait lebih mudah bergerak volatil. Saat likuiditas menipis dan investor memilih bersikap defensif, ruang untuk tekanan harga memang jadi lebih besar.
Apakah harga crypto bisa turun lebih dalam?
Risiko penurunan masih terbuka bila dana terus keluar dari DeFi dan mengalir ke aset yang dianggap lebih aman. Tekanan itu bisa berlanjut, terutama jika aktivitas transaksi dan utilitas jaringan ikut melemah.
Namun, pasar kripto juga punya sejarah menyerap guncangan seperti ini setelah fase panik mereda. Serangan siber bukan hal baru di ekosistem ini, dan kejutan semacam itu tidak selalu berubah menjadi tren turun yang panjang.
Untuk saat ini, fokus pasar ada pada aliran dana dan pemulihan kepercayaan. Selama likuiditas belum kembali stabil, aset yang bergantung pada aktivitas DeFi dan proyek pihak ketiga yang rentan tetap berada dalam posisi rawan menghadapi tekanan tambahan.