Penulis: H.M Chaniago

Malam panjang, remang-remang…
Di dalam gelap aku dengarkan…
Syair lagu kehidupan.. – Syair Kehidupan karya Areng Widodo.

Pelantar.id – Tulisan ini adalah sebuah obituary demi mengenang kepergian sosok musisi, seniman, penulis lirik Indonesia bernama Areng Widodo.

Mungkin tak banyak yang mengenalnya. Namun jika kalian sempat mengulik lagu-lagu yang dinyanyikan Achmad Albar, atau lady rocker Nicky Astria. Maka mendiang Areng adalah sosok di balik beberapa lagu legendaris yang pernah mereka nyanyikan.

Terhitung beberapa lagu Ia ciptakan dan mendapat tempat tersendiri dalam literatur musik tanah air. Sebagian lagu yang diciptakannya juga masuk daftar 100 lagu terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stones Indonesia.

Kehidupan Areng memang tak sepopuler lagu yang Ia ciptakan. Jauh dari hingar-bingar popularitas seperti kebanyakan musisi atau artis popular masa kini. Seolah-olah syair-syair yang Ia gubah dalam lirik lagu _”Syair Kehidupan”_ adalah rupa yang mewakili sisi hidupnya.

Syair Kehidupan Serupa Representasi Kehidupan Areng

Malam panjang, remang-remang…
Di dalam gelap aku dengarkan…
Syair lagu kehidupan

Itu adalah lirik yang Ia tuliskan dalam lagu _”Syair Kehidupan”_ yang dinyanyikan oleh Achmad Albar. Bisa saja ini membawanya pada legetimasi karier bermusik tersohor, namun tidak, Areng lebih memilih jalan sunyi menjadi sosok di balik layar penyanyi terkenal.

Seperti yang dituliskan Tirto.Id, Areng seolah-oleh lebih memilih untuk membentangkan karpet merah kepada musisi lain agar mereka bisa meniti tangga menuju panggung kebesaran. Sementara Ia sendiri lebih memilih jalur kesunyiannya.

Baca Juga :   Telkomsel Gelar Event Lari Berhadiah Liburan ke Korea

Mengingat jalan Areng, membawa saya mengenang sosok bapak penyair terkenal tanah air bernama Umbu Landu Paranggi. Kebetulan Areng sendiri ketika di Salatiga, Jawa Tengah pernah menempa diri di Bengkel Teater WS Rendra.

Memang tak ada kedekatan atau hubungan tertentu antara Umbu dan Areng, hanya saja jalan yang mereka tempuh seumpama kesunyian yang berhasil membawa yang lainnya menuju _”Theater of Dream”_ masing-masing.

Jika Areng membentangkan karpet merah kapada Achmad Albar dan Nicky Astrea, Umbu pun orang di balik sosok terkenal Emha Ainun Nadjib dan almarhum Linus Suryadi AG. Bahkan konon katanya penyanyi Ebiet G Ade juga pernah berguru kepada Umbu.

Bila ingin kau dengar tentang diriku. Angin tenggara membawa beritaku. Bila ingin kau cari dimana daku. Tanyakan pada bukitan yang berbatu – tulis Areng dalam lagu berjudul “Langkah Pengembara” yang dipopulerkan Achmad Albar.

 

Deretan Karya-Karya Areng Widodo

Tahun 1980 sebuah album dipublish oleh label Metrotama Records. Album itu diberi nama _”Indonesian Artrock”_. Lagu dalam album itu sendiri dinyanyikan oleh sosok tersohor bernama Achmad Albar.

Sementara, Areng Widodo adalah sosok seniman di balik rapinya pengemasan album tersebut. Merunut catatan bebas di internet hampir semua lagu di album ini adalah karya Areng bersama rekannya Ian Antono.

Baca Juga :   Pajak Yacht Dihapus, Indonesia Bisa Dapat Rp6,2 Triliun per Tahun

Di dalamnya terdapat lagu-lagu seperti; Syair Kehidupan, Derita Jiwa, Dunia Huru Hara, Harapan Bunda, Langkah Pengembara, Lembah Damai, serta Hai Kamu yang diciptakan sendiri oleh Areng dan dibantu Ian Antono. Sementara tembang berjudul; Yang Hilang, Balada Gadis Buta, serta Prahara, diciptakan Areng bersama Ian Antono.

Sementara potret lawas lainnya adalah, munculnya Nicky Astria sebagai sosok lady rocker tanah air. Berkat tangan dingin Areng dalam menulis lagu Jarum Neraka, Nicky pun melejit menuju panggung impiannya.

Terakhir, di penghujung obituary singkat ini. Ada kenangan yang menarik dan dituliskan Kompas.com di laman onlinenya. Kala Areng bersua dengan Idris Sardi, setelah Idris memperoleh Piala Citra untuk scoring terbaik dalam film Pacar Ketinggalan Kereta (1988) karya sutradara Teguh Karya.

“Ketika Mas Idris Sardi memperoleh Citra untuk musiknya dalam film Pacar Ketinggalan Kereta, saya mendatanginya memberi selamat,” kata Areng.

“Pada waktu itu, katanya, ‘Ini yang namanya Areng? Kamu tidak hebat, tapi juga tidak jelek. Yang saya suka, kamu membuat musik tidak seperti saya atau yang lainnya. Tahun depan pasti kamu yang menang’,” sambungnya.

Kata-kata Idris Sardi seolah menjadi pelecut yang memacu Areng untuk bermusik lebih baik lagi. Hingga kemudia Ia berhasil membawa pulang Piala Citra dalam Jangan Renggut Cintaku (1990) karya sutradara Nurhadie Irawan.

 

Foto: IG holly caesar