Penulis: H.M Chaniago.

Kita dikasih tuhan dua kuping, satu mulut. Maksudnya kita dua kali lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Ternyata politisi itu tidak memanfaatkan dua kupingnya, tapi memanfaatkan dua kali mulutnya untuk berbicara lebih banyak dari pada mendengarkan – Karni Ilyas dalam Indonesia Lawyers Club

Pelantar.Id – Mendadak sosok politikus Arteria Dahlan yang juga anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan menjadi bahan perbincangan netizen Indonesia beberapa hari ini. Hal ini dikarenakan sikap arogansinya tatkala menghadiri dialog langsung di acara talk show terkenal, “Mata Najwa “, Trans7.

Dalam dialog di talk show Rabu (9/10) malam itu. Politikus kelahiran Jakarta 44 tahun silam ini menjadi bahan ejekan dan kecaman netizen karena attitude yang ia tampilkan tatkala membantah setiap pernyataan lawan bicaranya, ekonom Emil Salim dan bintang tamu lain.

Karena persona emosian dan kengototan untuk terus selalu didengar saat dialog, sontak netizen banyak memperolok-olok Arteria yang kabarnya juga pernah berbicara kasar ke Jaksa Agung dan Menteri Agama kala rapat kerja antara Komisi III DPR RI, bersama Kejaksaan Agung.

Sementara itu kekesalan netizen semakin memuncak tatkala dalam diskusi di program Mata Najwa, dalam tema “Ragu-ragu Perpu”dengan pembahasan khusus revisi UU KPK dan penerbitan Perpu UU KPK, Arteria Dahlan menujukkan etika diskusi yang tidak pada tempatnya.

Baca Juga :   Per September Utang Indonesia Meningkat Rp 4.363 Triliun

Terlihat dengan jelas Arteria mengarahkan telunjuknya ke Emil Salim karena perbedaan pendapat dan juga beberapa kali Arteria selalu memotong penjelasan narasumber lain, karena merasa ingin lebih didengar. Bahkan Najwa Shihab, selaku host acara juga turut menegur kelakuan politikus muda ini.

Puncak kekesalan netizen akan etika alumnus Ilmu Hukum, Universitas Indonesia ini akhirnya dilampiaskan dengan beragam parade meme dan juga turut mengganti keterangan deskripsi pribadi Arteria di laman Wikipedia berbahasa Indonesia.

Dalam laman Wikipedia tersebut dituliskan, “Arteria Dahlan, S.T., S.H., M.H.B.A.C.O.T adalah seorang tukang bacot pengacara dan politisi yang gila hormat di Indonesia dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Yak pokoknya buat keluarga beliau, sabar saja ya. Gua yang bukan siapa-siapa saja malu apalagi kalian. Sabar ya,” tulisan tambahan dari diskripsi awal di profil Arteria Dahlan di laman Wikipedia.

Hal ini tentunya menjadi bahan banyolan bahkan cercaan di banyak media sosial terkhusunya Instagram dan Twitter. Bahkan saat akhir acara Mata Najwa, Arteria Dahlan yang tidak memilih menjabat tangan Emil Salim dan panelis lainnya turut menjadi bahan cemoohan.

“So.. this is how a loser @arteriadahlan walked out from a civilised democratic debate at #MataNajwa last night. He did not even shake hands with the rest of the panelists. Gosh! Your mom should be ashamed having a son with bad attitude like you. Shame on you #ArteriaDahlan” tulis salah satu akun di Twitter https://t.co/u9x4pMM89M.

Baca Juga :   Analisa Ilmuan: Gempa Palu Di luar Dugaan

“Betapa rendahnya adab kader PDIP Arteria Dahlan ini. Bahkan kepada orang tua yg dihormati Presiden Jokowi dia maki2 secara kalap begini. Wahai pendukung Jokowi, lihatlah perilaku biadab ini! #MataNajwa” dikutip dari laman Twitter https://t.co/fhUf39PlHS.

Bahkan salah seorang netizen lainnya, menimpali trading topic Arteria di Twitter dengan pernyataan host Indonesia Lawyer Club, Karni Ilyas melalui video yang berbunyi, “Kita dikasih tuhan dua kuping, satu mulut. Maksudnya kita dua kali lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Ternyata politisi itu tidak memanfaatkan dua kupingnya, tapi memanfaatkan dua kali mulutnya untuk berbicara lebih banyak dari pada mendengarkan,” ucap Karni Ilyas dalam video tersebut.

Bahkan hingga kini, merujuk kembali pada laman profile khusus Arteria Dahlan di Wikipedia, karena adanya pihak tertentu yang kandung terundung akan tingkahnya dan mengganti deskripsi awalnya. Pihak Wikipedia pun memilih mengunci lama profile tersebut agar tidak kembali menjadi ungkapan kekesalan netizen.