pelantar.id – Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi dihujani kritik oleh pimpinan negara lain selama menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean di Singapura. Suu Kyi yang selalu memilih bungkam tentang penyiksaan yang dialami oleh ratusan ribu warga Rohingya, juga diasingkan dalam pertemuan itu.

Salah satu pemimpin dunia yang paling keras memberi kritikan terhadapnya adalah Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. Mahathir menyebut Suu Kyi tidak menunjukkan tanggung jawab sebagai pemimpin saat warga Rohingya disiksa oleh pasukan militer Myanmar.

“Seseorang yang sebelumnya pernah ditahan seharusnya lebih tahu penderitaan mereka dan tidak akan membebani mereka yang malanh,” kata Mahathir sesaat sebelum pertemuan dimulai, dikutip dari Asia One, Jumat (16/11/18).

Baca Juga :   Perawatan Khusus untuk Jenis Kulit yang Berbeda-beda

“Tapi tampaknya Aung San Suu Kyi malah mencoba membela apa yang tidak seharusnya,” tambahnya.

Usai menyuarakan kritikan itu, Mahathir yang menghabiskan serangkaian acara di KTT bersebelahan dengan Suu Kyi karena abjad negara antara Malaysia dan Myanmar berdekatan, tampak canggung. Keduanya bahkan saling diam selama sisa pemotretan, sesi meja bundar, dan makan malam meski bersisian.

Selain dari Mahathir, kritikan serupa juga diungkapkan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence yang turut menghadiri pertemuan. Pence menyebut bahwa kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap warga Rohingya dilakukan tanpa alasan dan tak bisa dimaafkan.

Baca Juga : 

Penghargaan Amnesty International untuk Aung San Suu Kyi Resmi Dicabut

Baca Juga :   Penghargaan Amnesty International Aung San Suu Kyi Resmi Dicabut

Menanggapi kritikan itu, Suu Kyi mengatakan bahwa krisis Rohingya adalah urusan internal Myanmar. Tidak ada negara lain yang memahami isu tersebut dengan lebih baik selain negaranya sendiri.

Sementara itu, seorang diplomat Asia Tenggara yang menolak menyebutkan namanya mengatakan bahwa tahun ini penerimaan pejabat negara lain terhadap Suu Kyi tidak seperti sebelumnya. Hal tersebut disebabkan pihak internasional mengharapkan lebih banyak dari Suu Kyi dalam menyikapi krisis Rohingya.

Sumber : merdeka.com