#FiksiPelantar

Pelantar.id. Di edisi perdana ini kami memilih untuk menapilkan tulisan salah seorang penulis fiksi mini atau dikenal juga dengan sebutan flash fiction.

Jadi, mari nikmati sajian fiksi karya seniman musik lokal Batam, Ganjar Perdana (IG: @ganjarhead), di edisi perdana #FiksiPelantar

Penulis: Ganjar Perdana

Bagaimana Cara Rindu Bekerja

Lelaki itu tidak pernah lupa akan doa-doa istrinya di kala pagi sebelum berangkat kerja. Dia suka semua doa itu. Semakin menjadi saja cinta lelaki itu pada istrinya tiap kali dia mendengar doa-doa istrinya di kala pagi sebelum berangkat kerja.

Selain mengingatkan untuk berhati-hati dalam berkendara, sang istri juga mendoakan agar lelaki itu tidak tersangkut di satupun lampu merah selama perjalanan menuju kantor. Mendapat banyak lampu hijau adalah sebuah berkah yang patut kau syukuri. Karena ia membuat perjalananmu menjadi lancar dan menyenangkan.

Tak lupa juga istrinya mendoakan agar lelaki itu mendapatkan makan siang yang memuaskan. Menurutnya, makan siang akan sangat menentukan suasana hatimu sepanjang sisa hari.

Lantas, di malam hari istrinya akan mengajak lelaki itu memasak makanan kesukaan mereka. Untuk mengobati kesedihan atas porsi makan siang yang terlalu kecil, hidangan ayam yang kurang matang, sayur yang rasanya tidak keruan, nasi yang terlampau lembek, atau juga es teh yang dalam sekali teguk bisa membuatmu terkena diabetes.

Yang paling menggelitik lelaki itu adalah tiap kali istrinya mendoakan agar pencernaan lelaki itu baik-baik saja seharian, dengan kuantitas buang air yang teratur dan terhindar dari diare. Mereka akan tertawa bersama tiap kali istrinya mendoakan hal tersebut.

Sayangnya doa-doa itu sudah bertahun-tahun tidak lagi terdengar. Semenjak kematian istrinya setelah mobilnya terperosok ke jurang karena ditabrak dari belakang saat istrinya berkendara sepulang kerja.

Dia tersadar bahwa rindu memang bersifat situasional. Dia teringat akan semua hal itu ketika pagi ini berkendara menuju kantor tanpa tersangkut di satupun lampu merah. Hal ini tidak pernah terjadi, selagi doa-doa istrinya masih dilantunkan. Di samping itu, musim hujan tak hanya membasahi kota tempat lelaki itu tinggal. Namun, juga matanya.

Roti Isi Untuk Sharon

Aku akan berada di apartemen sekitar pukul delapan malam. Sebuah pesan singkat yang aku kirimkan pada Sharon sore itu. Aku menyempatkan mampir di supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan sebelum pulang. Akan aku buatkan roti isi untuknya malam ini.

Tepat pukul delapan malam, Sharon sudah berada di depan pintu. Kebiasaannya memencet bel belasan kali memudahkanku mengenali kedatangannya.

Baca Juga :   Belajar dari Surabaya….eh Bu Risma

“Kau memasak?” tanya Sharon curiga.
“Kalau membuat roti isi terhitung memasak, ya, aku sedang memasak. Aku tak ingin kau pulang dengan perut yang lapar.” jawabku.

“Aaaaaawww.” ujar Sharon panjang sembari melingkarkan tangannya di leherku. Dengan cepat dia mendekatkan wajahnya dan kami berciuman, panjang dan hangat. Selanjutnya adalah pergumulan yang panas dan berpeluh. Sharon cukup berpengalaman dan aku suka akan hal itu.

“Kau tak perlu bayar malam ini.” ujarnya lembut sambil berbaring di dadaku. Panjang dia menghela napas sebelum kemudian melanjutkan “Aku benci ini, tapi aku memang menyukaimu. Oleh karena itu, kau tak perlu bayar malam ini.”

“Tawaranku masih sama seperti sebelumnya. Kau tak perlu terus-menerus bekerja seperti ini. Berhentilah dan tinggal bersamaku. Aku punya cukup uang untuk kita berdua.” bujukku pada Sharon.

“Oh tidak, Sayang. Ini bukan soal uang. Tunggu, aku sedang memikirkan kata yang tepat. Kebebasan?” tanyanya singkat. Kali ini aku kecup keningnya dan Sharon memelukku erat. “Setidaknya kau harus makan roti isi buatanku.”

Kencing Sembarangan

“Jangan kencing sembarangan! Atau kau akan kehilangan kepalamu seperti Amran.”

Begitulah para orang tua menasehati anaknya agar tak kencing sembarangan, karena kegiatan itu dianggap kurang pantas dan kotor. Selain itu, cerita tentang Amran yang kehilangan kepalanya setelah kencing sembarangan menjadi alasan yang paling masuk akal bagi anak-anak di kampung itu untuk tak melakukannya.

Anak-anak kampung percaya bahwa Amran telah dihukum oleh hantu yang menunggui pohon tempatnya kencing dulu. Si hantu begitu marah hingga ia memisahkan kepala Amran dari tubuhnya. Beberapa anak juga mengaku pernah melihat jasad tanpa kepala yang tengah kencing di balik pohon ketika mereka pulang mengaji. Mereka yakin itu adalah arwah Amran yang masih penasaran; mencari kepalanya yang tak kunjung ditemukan.

Empat tahun yang lalu, Amran kecil berjalan sendirian setelah pulang mengaji. Sebelumnya dia harus menyetor beberapa hapalan surat pendek sebelum pulang. Di tengah perjalanan, Amran memutuskan untuk kencing di balik pohon di pinggir jalan.

Amran mendengar sesuatu agak jauh di dalam semak. Rasa penasaran menuntunnya untuk menyelidiki suara itu. Terkejut dia ketika melihat dua pria yang tengah bergantian menggagahi seorang gadis. Tak ada yang dia kenal dari mereka. Sayangnya, kedua pria itu menyadari kehadiran Amran.

Tiga hari setelah kejadian itu, tubuh Amran masuk liang lahat tanpa dilengkapi kepala. Karena hingga saat ini pun tak ada yang berhasil menemukannya. Sementara itu, anak-anak kampung masih melihat Amran kencing sembarangan saat pulang mengaji.

Baca Juga :   Tak Seperti Hari Batik, Hari T-shirt Band Nasional Malah Diperingati Setiap Hari

Sederhana

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..”

Dengan lembut kau lantunkan sepenggal puisi milik Sapardi itu. Namun tak kutangkap lagi kata-kata setelahnya. Pikiranku terpaut pada hal-hal tak menarik lainnya. Kuning lampu jalan, udara lembab selepas hujan dan sayup-sayup siaran radio.

“Kita jadikan kutipan di undangan saja barangkali. Gimana?” tanyamu.

Aku tak menjawab. Sesekali aku menoleh. Memerhatikan wajahmu sebelum kembali fokus pada kemudi mobil. Wajahmu kerlap-kerlip diterpa lampu jalan yang berjarak-jarak.

Kini giliranku memikirkan potongan puisi tadi. Entah bagaimana cara mencintai yang sederhana. Ditambah dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Atau dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

“Aku mencintaimu” ujarku. Tak ada jawaban. Mendarat sebuah kecupan di pipi kiri yang menjalarkan udara hangat ke rongga dada. Tak ada yang sederhana dari ini. Hanya Sapardi yang tau jawabnya

Dino Kecil yang Bingung

Dino kecil bingung melihat kondisi kedua orang tuanya. Pendengaran mereka sedang buruk belakangan ini. Ditandai dengan betapa kerasnya mereka berbicara padahal dalam jarak yang cukup dekat.

Dan malam ini adalah kondisi terburuk dari keduanya dimana mereka berbicara hingga setengah berteriak. Pun terlihat acap kali keduanya membanting beberapa perabotan di rumah.

Dino kecil semakin tak mengerti akan kondisi kedua orang tuanya. Ibunya akan marah apabila Dino kecil berbicara dengan suara tinggi, apalagi setengah berteriak. Membanting mainan juga merupakan hal yang terlarang.

Puncak dari kejadian malam ini adalah saat Ayahnya membanting pintu kemudian pergi dari rumah, meninggalkan Ibunya yang menangis tersedu di ruang tengah. Dino kecil semakin tak tahu harus berbuat apa.

Dino kecil lantas menemui Ibunya sembari membawa boneka kesayangan miliknya. Langsung saja Dino kecil memeluk Ibunya. Semakain deras tangisan wanita itu. Dino kecil bingung bukan main. Ia teringat bagaimana tiap kali menangis, Ibunya akan membawa boneka kesayangannya dan memeluk Dino erat-erat. Dino kecil ingat betul betapa menenangkan pelukan itu.

Foto: Lukisan karya Vincent Van Gogh

———-
*Alerta!!!: Kolom khusus fiksi ini sengaja hadir untuk pembaca Pelantar.id yang menggandrungi urusan-urusan kepenulisan berbau sastrawi.*

*Sehingga jika pembaca memiliki ragam tulisan baik fiksi mini, cerpen, cerbung, puisi dan lain-lain. Berminat untuk menampilkannya, bisa langsung menghubungi Pelantar.id (IG: @pelantar.id).*