Balikatan Meluas Ke Dekat Taiwan, Filipina Dan AS Latih Kesiapan Tempur Terbesar

Latihan militer gabungan Balikatan kembali menjadi sorotan karena digelar dengan skala yang belum pernah sebesar ini. Lebih dari 17.000 personel ikut terlibat, dengan sekitar 10.000 di antaranya berasal dari Amerika Serikat, sehingga latihan ini bukan lagi sekadar agenda rutin antara Filipina dan mitra utamanya.

Yang membuatnya makin diperhatikan adalah daftar peserta yang kini jauh lebih beragam. Australia kembali bergabung, sementara Kanada, Prancis, Selandia Baru, dan Jepang ikut sebagai peserta aktif untuk pertama kalinya, sehingga Balikatan tahun ini dipandang sebagai ajang pengujian koordinasi lintas negara dalam situasi keamanan yang semakin rumit.

Skenario latihannya dibuat dekat dengan kondisi nyata

Balikatan tidak hanya menampilkan jumlah peserta yang besar, tetapi juga menguji kesiapan tempur dengan rangkaian latihan yang cukup luas. Agenda yang dijalankan mencakup tembakan presisi, operasi pencegatan di perairan pesisir, pertahanan udara dan rudal terpadu, operasi maritim multinasional, serta simulasi penangkalan pendaratan.

Pola latihan seperti itu dirancang untuk melihat seberapa cepat pasukan bergerak dan merespons dalam berbagai medan. Fokusnya bukan hanya pada kekuatan senjata, melainkan juga pada seberapa efektif unit-unit dari negara berbeda bisa saling terhubung saat skenario berlangsung.

Kepala angkatan bersenjata Filipina, Romeo Brawner, menyebut latihan ini sebagai cara untuk menunjukkan kekuatan aliansi kedua negara. Ia mengatakan, “We train across the breadth of our archipelago … testing our readiness in real-world conditions across all domains.”

Senjata baru ikut masuk dalam skenario

Tahun ini, Filipina juga memanfaatkan Balikatan sebagai panggung untuk memperlihatkan perangkat militer baru yang mereka miliki. Salah satu yang disorot adalah rudal BrahMos, yang memperkuat elemen pertahanan maritim dan kemampuan serangan jarak tertentu.

Di sisi lain, kontribusi sekutu juga ikut diintegrasikan ke dalam latihan. Rudal anti-kapal Type 88 milik Jepang akan dipakai dalam simulasi penenggelaman dengan tembakan langsung, yang menunjukkan bagaimana latihan ini dirancang untuk menguji kerja sama antarpasukan lintas negara.

Kehadiran sistem senjata dari beberapa negara menegaskan pentingnya interoperabilitas. Artinya, keberhasilan latihan tidak hanya diukur dari kesiapan Filipina dan Amerika Serikat, tetapi juga dari kemampuan unsur militer dari negara yang berbeda untuk bekerja dalam satu alur operasi yang sama.

Lokasi latihan ikut menambah perhatian regional

Sorotan besar juga datang dari lokasi yang dipilih untuk sejumlah rangkaian latihan. Salah satu kegiatan penting akan berlangsung di Itbayat, pulau paling utara Filipina yang berada sekitar 155 kilometer dari Taiwan, dan ini menjadi pertama kalinya kedua negara menggelar latihan serangan maritim di titik tersebut.

Posisi Itbayat membuat latihan itu memiliki bobot strategis yang besar. Di tengah ketegangan seputar Taiwan, setiap aktivitas militer di wilayah utara Filipina cenderung dibaca sebagai langkah yang punya arti politik dan keamanan yang kuat.

Latihan penembakan langsung untuk skenario penangkalan pendaratan juga akan digelar di Zambales. Wilayah pesisir Laut China Selatan itu berada sekitar 230 kilometer dari Scarborough Shoal, atol strategis yang dikuasai China dan masih menjadi titik sengketa.

China menyorot, Washington menegaskan tidak menarget siapa pun

Latihan ini turut memicu reaksi dari China, yang kembali mengkritik kerja sama pertahanan Filipina dengan sekutunya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan kawasan Asia-Pasifik membutuhkan perdamaian dan ketenangan, bukan kekuatan eksternal yang memicu perpecahan dan konfrontasi.

Ia juga memperingatkan bahwa perluasan kerja sama keamanan justru bisa berbalik merugikan pihak-pihak terkait. Pandangan itu menunjukkan bahwa Balikatan tetap dilihat Beijing sebagai bagian dari dinamika keamanan yang sensitif di kawasan.

Di sisi lain, Letjen Marinir AS Christian Wortman menegaskan pada hari pembukaan bahwa Balikatan “no target nation” in mind, yang berarti latihan itu tidak ditujukan kepada negara tertentu. Pada saat yang sama, Taipei tetap menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan bahwa masa depan Taiwan hanya bisa ditentukan oleh rakyatnya, membuat latihan di utara Filipina semakin mendapat perhatian karena berlangsung di kawasan yang sangat peka secara strategis.

Baca Juga

Back to top button