pelantar.id – Pemerintah berencana memasang pipa bawah laut untuk menyedot dan mengalirkan air dari air terjun Jelutung di Kabupaten Lingga ke Pulau Batam. Proyek itu untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Batam yang terus meningkat di masa depan.

Diprediksi, jika tidak mencari sumber air baru, Batam akan kekurangan air pada tahun 2040 atau 2045. Kebutuhan air di Batam pada masa itu diproyeksikan sebesar 7.081 liter per detik.

Saat ini, Batam memiliki 6 waduk untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Batam, Rempang, dan Galang. Ketersediaan air di Batam saat ini sebesar 3.800 liter per detik. Konsumsi air per hari antara 170 sampai 180 liter per orang setiap harinya.

“Asumsi kami, pada tahun 2045 kebutuhan air per hari per orang akan naik antara 200 sampai 300 liter,” kata Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan di acara Focus Group Discussion yang membahas tentang Air Terjun Jelutung Lingga, Solusi Atas Permasalahan Air Bersih di Pulau Batam di Gedung BP Batam, Batam Centre, Senin (12/11/18).

Binsar mengatakan, semakin tingginya kebutuhan air seiring dengan pengembangan Batam di masa mendatang. Karena itu, selain mencari sumber-sumber air yang baru di wilayah Pulau Batam, pemerintah akan memanfaatkan sumber dari luar daerah. Salah satunya, dari air terjun Busung di Kabupaten Bintan dan air terjun Jelutung di Kabupaten Lingga.

Baca Juga :   Dinkes Batam Akan Beli Lima Mobil Khusus untuk Jemput Pasien TB

Penjajakan kerja sama pemanfaatan air terjun Jelutung, yang diteruskan dengan memorandum of understanding (MoU) antara BP Batam dengan Pemerintah Kabupaten Lingga sudah dilakukan tahun 2017. Binsar berharap, kerja sama ini bisa segera terealisasi.

Deputi IV BP Batam, Eko Budi Soepriyanto menambahkan, dalam rencana kerja sama itu, pemerintah akan membangun pipa bawah laut untuk menarik air dari Lingga ke Batam ini sepanjang 100 kilometer. Setidaknya, butuh waktu 5 tahun untuk membangun pipa bawah laut tersebut.

“Untuk kajian pemasangan pipa dan kerja sama ini, sepenuhnya merupakan wewenang dari Balai Wilayah Sungai,” kata dia.

Air terjun Jelutung di Desa Mentuda, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga.
Foto: Batamtoday.com/Nur Jali

Butuh Anggaran Pusat

Di tempat yang sama, Bupati Lingga, Alias Wello mengatakan, sumber air baku di Lingga saat ini ada 8 titik. Untuk satu sumber seperti air terjun Jelutung misalnya, debit air yang dihasilkan bisa mencapai 6.000 liter per detik, atau sekitar 4.000 liter per detik di saat musim kering.

Baca Juga :   Blunder Ulreich Bantu Real Madrid ke Final

“Tidak ada masalah kalau soal air di Lingga, sudah terpenuhi,” katanya.

Masalah yang dihadapi Lingga, menurut Alias Wello, hanya soal pembangunan infrastruktur penunjang pemanfaatan air. Selama ini, masih banyak air bersih di Lingga yang terbuang cuma-cuma ke laut.

Ia mengatakan, Pemkab Lingga tidak bisa hanya mengandalkan keuangan daerah (APBD Lingga) untuk membangun infrstruktur tersebut. Karena itu, Lingga juga berharap ada kerja sama dengan daerah lain untuk pemanfaatan air bersih.

“Sumber air kami berlimpah, tapi untuk membangun infrastrukturnya sulit karena keuangan daerah sangat terbatas. Makanya kami menawarkan kerja sama pemanfaatan air terjun Jelutung ini,” kata dia.

Menurut Alias Wello, dengan kerja sama antara Pemkab Lingga dan BP Batam, diharapkan ada kontribusi positif bagi dua daerah. Ia ingin pemerintah pusat hadir dalam proyek ini lewat alokasi anggaran di APBN.

“Sebenarnya bukan hanya Batam, daerah-daerah lain di Kepri juga bisa dipasok airnya dari Lingga. Tentu anggarannya besar, makanya pemerintah pusat harus ikut andil melalui pembiayaan APBN. Kalau hanya dari daerah, berat,” ujarnya.

 

Reporter : Fathurrohim

Editor : Yuri B Trisna