pelantar.id – Kota Batam terus tancap gas untuk membawa sektor pariwisata melaju lebih cepat dan terbang lebih tinggi. Batam punya semua potensi yang harus dimiliki jika suatu daerah ingin menjadi destinasi wisata kelas dunia.

Kekayaan alam (objek wisata alam) Batam terhampar luas, terutama wisata bahari. Pulau-pulau penyangga di Batam pun sangat layak untuk “dijual” kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Data Badan Pusat Statistis (BPS) Kota Batam sudah mencerminkan betapa Batam memiliki daya tarik di mata turis asing, maupun pelancong-pelancong lokal dari belbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan data BPS Kota Batam, angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam menggambarkan peningkatan yang bagus dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2010, pelancong asing yang masuk ke Batam sebanyak 1.007.446 orang, maka tahun 2015 sudah mencapai 1.443.955 orang. Tahun lalu, kunjungan wisatawan ke Batam sebanyak 1,6 juta orang.

Tahun ini, pemerintah pusat menargetkan Batam bisa menyumbang kunjungan turis asing ke Indonesia sebanyak 1,8 juta orang, dan naik lagi menjadi 2 juta orang sampai akhir tahun. Artinya, ada penambahan target dari capaian tahun sebelumnya sekitar 400.000 orang. Apakah Batam bisa memenuhi target itu? Bisa.

Sepanjang Januari-September 2018, BPS mencatat kunjungan wisman ke Batam sebanyak 1,8 juta, atau naik sekitar 27 persen dibanding periode sama tahun 2017 yang sebanyak 1,4 juta.

Namun, Pemerintah Kota Batam dan juga Badan Pengusahaan (BP) Batam harus lebih giat lagi. Pemerintah sebaiknya tidak menjadikan angka kunjungan wisatawan yang tinggi itu sebagai kegembiraan yang dibangga-banggakan.

Baca Juga :   Film HTTYD 3: Naga Putih dan Dunia Tersembunyi

Meski penting, namun tingginya jumlah kunjungan tidak sepenuhnya menggambarkan kemajuan dunia pariwisata. Ada yang lebih penting. Yakni, bagaimana caranya agar para turis itu betah berama-lama di Batam. Mereka tidak lagi sekadar datang, lalu pulang di hari yang sama setelah hasrat berwisata terpuaskan.

Catatan BPS, wisman yang datang ke Batam rata-rata hanya menghabiskan masa melancongnya tak lebih dari dua malam. Misalnya, mereka datang pagi, lalu menginap semalam dan keesokan paginya sudah kembali lagi ke negara asal. Tahun ini, menurut BPS, lama tinggal wisman di Batam menurun dibanding tahun lalu, dari 2,14 hari menjadi 1,85 hari.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata pun mengakui rendahnya lama tinggal wisman di Batam. Data yang dikumpulkan Pemko Batam menunjukkan, kebanyakan wisman hanya menginap satu malam di Batam, sekadar menghabiskan akhir pekan.

“Meski rasanya tidak mungkin, tapi itulah datanya. Kami sendiri terus berupaya untuk meningkatkan masa tinggal wisman di Batam,” kata Ardi dilansir Antaranews.com, Senin (10/12/18).

Itu menjadi tugas pemerintah dan seluruh elemen masyarakat yang berkecimpung langsung di sektor pariwisata. Bagaimana membuat wisatawan mau menginap minimal lebih dari satu malam di kota ini. Dengan demikian, pergerakan uang dari turis tersebut benar-benar terlihat, betul-betul terasa bagi perekonomian Batam.

Lihatlah Bali, Lombok atau Jakarta. Secara kekayaan alam, Batam tak kalah dengan daerah-daerah itu. Bedanya, wisatawan yang datang ke sana sangat sedikit yang dalam hitungan jam atau sehari. Mereka rela menginap lebih dari satu malam, bisa seminggu bahkan lebih.

Peserta Batam International Carnaval membawakan tema Suku Laut, Minggu (9/12/18).
Foto: Eliza Gusmeri/PELANTAR.ID

Jangan Terkonsentrasi di Satu Tempat

Baca Juga :   Segera Rilis, Huawei Mate 20 dan Mate 20 Pro Berbekal Tiga Lensa Kamera

Semangat Pemko dan BP Batam dalam upaya mengembangkan pariwisata sejauh ini sudah bagus. Belbagai event digelar, mulai dari festival seni kebudayaan, kuliner, olahraga hingga mendatangkan artis dari Jakarta.

Meski kegiatan-kegiatan itu cukup untuk mengundang wisman datang ke Batam, tapi belum mampu untuk menahan mereka tinggal lebih lama. Apalagi, hajatan yang digelar itu seringkali terkonsentrasi di satu tempat. Batam Centre atau Nagoya. Padahal, potensi wisata Batam yang mau dijual bukan cuma di dua kawasan itu, kan?

Bisa saja, pemerintah membuat acara kebudayaan di pulau-pulau penyangga atau di wilayah hinterland. Dan waktu penyelenggaraannya pun harus dijadwal sedemikian rupa. Dalam satu bulan, misalnya, pemerintah membuat acara di pantai-pantai kawasan Barelang. Bergiliran, dengan kemasan acara yang berbeda.

Pemerintah harus berani memecah konsentrasi wisatawan. Setiap event yang dibuat, nantinya tetap dijual satu paket dalam promosi. Inilah mengapa menggandeng swasta atau pelaku usaha pariwisata menjadi penting. Agen-agen perjalanan harus diajak serta mennyusun paket-paket wisata yang hendak ditawarkan kepada turis.

Memang, jika mau melakukan itu, anggaran yang dibutuhkan tidak sedikit. Sinergi dengan DPRD pun dibutuhkan, agar anggaran untuk sektor pariwisata bisa memadai. Tentu saja, anggaran yang sudah dialokasikan harus benar-benar digunakan sebaik mungkin sesuai dengan tujuan. Jangan pula anggaran sudah ada dan dipakai, tapi pola kunjungan wisman yang datang ke Batam tak berubah.

Baca Juga :   Hari Santri Nasional, Jokowi Ajak Santri Rawat Indonesia

Dan yang tak kalah penting adalah, keterlibatan masyarakat. Pemerintah harus mampu membangun kesadaran masyarakat untuk ikut serta “menahan” wisman yang datang ke daerahnya. Kampung-kampung wisata perlu diciptakan. Lokasinya bisa di pusat kota, wilayah pesisir, atau di pulau-pulau.

Nantinya, di kampung-kampung wisata itu dapat dibuat beberapa acara rutin, bisa mingguan atau bulanan. Ke sanalah para wisman dibawa. Mereka menginap di rumah-rumah warga, berbaur untuk menikmati sekaligus mempelajari kehidupan masyarakat setempat.

Sekali lagi, Batam punya nilai jual yang lumayan untuk mendatangkan wisman dari banyak negara. Bukan hanya Singapura dan Malaysia.

Pemko dan BP Batam pun tak perlu berebut gengsi dan pencitraan dari masyarakat Batam. Jangan lagi dua institusi itu menggelar acara yang seolah-olah hanya ingin pamer; “Ini loh, acara kami. Bagus, kan? Ramai, kan?

Sangat lucu jika Pemko Batam dan BP Batam melanjutkan “persaingan” mereka di sektor pariwisata ini. Apalagi kalau penonton yang diperebutkan hanya dari masyarakat Batam sendiri, sungguh aneh dan menggelikan.

Sesekali, bolehlah Pemko dan BP Batam bersama-sama menggarap acara yang digelar di dataran Engku Putri atau Bundaran BP Batam. Pemko Batam mengurus soal kebudayaan lokal, sedang BP Batam mendatangkan artis ibu kota. Padukan dengan festival kuliner Melayu dan Nusantara. Buat acaranya dua malam berturut-turut atau bahkan sepekan nonstop. Kan sedap.

***

Yuri B Trisna