Pelantar.id _Rabies atau dikenal sebagai penyakit ”anjing gila”, merupakan penyakit serius yang menyerang otak dan sistem saraf.

Penyakit ini digolongkan sebagai penyakit mematikan yang harus ditangani dengan cepat. Penyakit ini bersifat Zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Penyebab penyakit rabies disebabkan oleh virus lyssaviruses. Virus ini ditularkan pada manusia melalui hewan yang sebelumnya telah terjangkit penyakit ini juga.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI sekitar 55.000 orang didunia meninggal akibat Rabies dan di Indonesia selama periode 2011 hingga 2017.

Lebih 500.000 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang dilaporkan di Indonesia dan sebanyak 836 kasus positif rabies.

Kematian akibat rabies pada manusia mencapai 100 orang per tahun, yang sebagian besar menimpa anak-anak.

Di Indonesia, 98 persen kasus rabies ditularkan melalui gigitan anjing dan 2 persen ditularkan melalui gigitan kucing dan kera. Bahkan, rabies pada hewan di Indonesia sudah ditemukan sejak tahun 1884.

Sedangkan kasus rabies pada manusia di Indonesia, pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di Jawa Barat.

Di provinsi Kepri khususnya Batam hingga saat ini masih dinyatakan sebagai daerah yang bebas dari penyakit Rabies. Hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 240/Kpts/PD.650/4/2015 tanggal 7 April 2015 tentang Pernyataan Provinsi Kepri sebagai Daerah Bebas Rabies.

Keputusan menteri tersebut berdasarkan hasil surveilans aktif yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian, Kehutanan dan Peternakan Provinsi Kepri dan Balai Veteriner Bukittinggi, dalam jangka waktu 2 (dua) tahun terakhir tidak ditemukan penyakit Rabies di seluruh wilayah provinsi Kepri.

Hal itu dipertegas Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam Mardanis bahwa di Batam sampai saat ini belum pernah ada kasus rabies.

Baca Juga :   Chadwick Boseman Pemeran Black Panther Meninggal Dunia

“Walaupun ada beberapa kali laporan gigitan oleh anjing dan kera, tapi setelah diobervasi tidak menunjukkan gejala rabies,” kata Mardanis.

Apa saja upaya yang dilakukan pemda dalam hal ini Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk mempertahankan Batam dari bebas rabies?

Menurut Mardanis upaya mempertahankan bebas penyakit, tentunya juga jauh lebih sulit dari mengupayakan bebas penyakit.

“Pertama kali upaya yang dilakukan adalah peningkatan kewaspadaan terhadap kemungkinan penularan baru penyakit Rabies,” kata dia.

Kemudian, Pemda juga perketat pengawasan lalu lintas Hewan Penular Rabies (HPR) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Perlu diketahui bahwa vaksinasi Rabies tidak dilakukan di wilayah Provinsi Kepri sebagai daerah bebas rabies secara historis.

Kata Mardanis, masyarakat memegang peran penting untuk mendukung pemerintah, setidaknya peduli terhadap kesehatan hewan peliharaannya.

” Misalnya pemilik hewan bisa memperhatikan asupan pakan, gizi dan diurus sebagaimana mengurus keluarga. Paling tidak, pemilik hewan harus bertanggungjawab terhadap hewan kesayangannya,” kata dia.

Penanganan Kasus Rabies

Langkah konkrit Pemerintah daerah adalah bekerjasama BVet Bukittinggi melaksanakan kegiatan surveilans rabies dengan mengirimkan sampel (otak anjing) ke BVet Bukittinggi setiap tahun dalam 3 tahun terakhir ini.

“Alhamdulillah hasilnya negatif rabies.
Pemerintah Daerah juga bekerja sama dgn BKP Kls I Batam dan Seluruh Karantina Pertanian di Kepri untuk melarang pemasukan HPR dari daerah lain ke dal wilayah Kepri, khususnya Batam,” kata dia.

Selain itu Pemerintah mengajak organisasi penyayang hewan seperti Perkin, ICA, dan komunitas pencinta anjing dan kucing untuk bersama sama memberikan KIE kepasa anggota dan masyarakat untuk memelihara hewan kesayangan mereka dengan baik dan benar.

Baca Juga :   Baliho dan Spanduk Caleg Banyak Langgar Aturan

Juga melakukan tindakan sterilisasi untuk membatasi populasi anjing & kucing jalanan yang ada di Kota Batam, bekerjasama dengan PDHI (para dokter hewan praktik) di Kota Batam.

Pelarangan HPR tertuang dalam SE Gubernur Kepri No. 0257 b / Kdh. Kepri 524/04.09 tentang pelarangan pemasukan HPR di Kepri.

Mardanis mengatakan tahun ini tidak ditemukan kasus gigitan anjing di Kota Batam.

Masyarakat dapat melapor ke Instansi terkait jika menemukan kasus gigitan anjing. Misalnya untuk penanganan hewannya, masyarakat diminta untuk melapor ke dinas yang membidangi Kesehatan Hewan (Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian).

Untuk penanganan pada manusianya, diminta untuk melapor ke puskesmas atau Dinas Kesehatan setempat.

Selain itu, perlu kiranya masyarakat juga mampu melaksanakan langkah penanganan pertama rabies.

Bila digigit anjing

Jika seseorang telah digigit hewan yang berpotensi menularkan rabies (digigit atau dicakar HPR, yaitu anjing atau kucing). Ada beberapa penanganan cepat yang harus dilakukan

Pertama kali adalah mencuci luka gigitan tersebut dengan sabun dan air bersih yang mengalir.

Selanjutnya bersihkan luka dengan menggunakan antiseptik atau alkohol.

Jangan tutupi luka dengan menggunakan perban, kain kasa, atau apa pun. Jadi dengan kata lain biarkan luka tetap terbuka.

Segeralah menuju ke rumah sakit atau klinik kesehatan terdekat untuk diperiksa lebih lanjut.

Hewan anjing yang telah menggigit jangan dibunuh. Tetapi dikandangkan secara terpisah/karantina dan tetap dipelihara sebagaimana biasanya.

Upaya observasi akan dilakukan oleh petugas. Secara teknis teori, jika hewan tersebut mengidap penyakit rabies, dalam kurun waktu sekitar 14 hari, hewan anjing tersebut akan mati.

elizagusmeri

foto: equator.co.id