pelantar.id – Keinginan Batam menjadi kawasan hub logistik nasional untuk pasar Asia Pasifik semakin mendekati kenyataan. DPR RI menyatakan mendukung penuh keinginan itu, termasuk bakal memenuhi kebutuhan angaran untuk pembangunan infrastruktur di Batam.

Ketua Komisi VI DPR RI, Teguh Juwarno mengatakan, posisi Batam yang sangat strategis di jalur perdagangan internasional, membuat daerah ini sangat tepat dijadikan kawasan ekonomi unggul di era digitalisasi seperti sekarang ini. Menurutnya, selain cocok untuk hub logistik, Batam juga bisa menjadi pusat maintenance, repair and overhaul (MRO) pesawat.

“Batam satu-satunya daerah di Indonesia yang memiliki potensi yang menyeluruh. Posisinya sangat strategis pada jalur perdagangan internasional, kawasan industri banyak dan berdekatan,” katanya saat kunjungan kerja di BP Batam, Batam Centre, Rabu (10/10).

Teguh mengatakan, Batam bisa memanfaatkan keunggulan Bandara Internasional Hang Nadim untuk mendukung kawasan hub logistik nasional dan MRO tersebut. Peran strategis Batam memang layak menjadi pusat perekonomian Indonesia. DPR akan mendorong pemerintah pusat untuk melakukan pengembangan-pengembangan di kawasan ini.

Menurut dia, pengembangan Batam akan menjadikan daerah ini sebagai sumber pendapatan ekonomi yang luar biasa bagi Indonesia. Pengelolaan Batam sebagai kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) harus dimaksimalkan. Pusat akan segera menyelesaikan berbagai hambatan yang ada di Batam, terutama perihal perizinan investasi termasuk pengembangan pelabuhan dan bandara.

“Ini memang harus didukung penuh oleh pemerintah pusat. Sekarang kan era e-commerce. Kalau Batam jadi hub logistik nasional, dan juga industri pesawat dikembangkan di sini, ini akan menjadi sumber ekonomi yang sangat besar,” kata dia.

Baca Juga :   Merpati Airlines Tahun Depan Beroperasi, Pemerintah Setengah Hati?

Baca Juga : Ini 3 Sektor Andalan BP Batam Gaet Investor

Terkait anggaran, Teguh memastikan Komisi VI akan mengawal agar usulan anggaran yang dismapaikan BP Batam untuk melaksanakan pengembangan infrastruktur di daerah ini terpenuhi. Sebelumnya, DPR sudah menyetujui anggaran BP Batam untuk 2019 sebesar Rp1,8 triliun lebih.

Teguh mengatakan, selain anggaran tersebut, pihaknya juga sedang berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan tentang penambahan anggaran Rp225 miliar untuk perbaikan dan pengembangan Bandara Hang Nadim.

“Kami belum bisa memastikan apakah tambahan anggaran itu disetujui atau tidak, masih dalam pembahasan bersama Kementerian Keuangan,” katanya.

Ketua Komisi VI DPR RI, Teguh Juwarno bersama Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo di Batam, Rabu (10/10).
Foto: Istimewa

Pada pertemuan itu, selain membahas potensi Batam menjadi hub logistik dan MRO pesawat, Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo juga memaparkan beberapa proyek stategis BP Batam. Menurut Lukita, Batam strategis karena terletak di tepi Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan tersibuk kedua di dunia. Di jalur tersebut, terdapat lebih dari 60 ribu kapal yang melintas dalam setahun.

Menurut Lukita, padatnya lalu lintas di Selat Malaka, hampir tiga kali dari Terusan Panama dan lebih dari dua kali lipat dari Terusan Suez. Karena itu, ia optimistis Batam bisa mejadi pusat kegiatan ekonomi di pasar Asia Pasifik. Caranya, dengan memaksimalkan potensi kedekatan Bandara Internasional Hang Nadim dan Pelabuhan Kabil untuk menjadi pusat e-commerce, pusat hub logistik dan pusat perawatan pesawat terbesar di Indonesia.

Baca Juga :   Delapan Langkah Meningkatkan Daya Ingat Otak

“Konsep hub logistik Batam nantinya akan menghubungkan pelabuhan dengan bandara di satu kawasan terpadu. Dalam kawasan itu ada pusat bisnis seperti kargo, logistik, kawasan industri dan perbaikan pesawat,” ujarnya.

Baca Juga : BP Batam Tawarkan Tujuh Proyek Infrastruktur ke Swasta

Sedangkan proyek-proyek strategis Batam, lanjut Lukita, di antaranya adalah pengembangan gedung dan fasilitas kesehatan rumah sakit, pengembangan dermaga curah cair Kabil, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau Waste Water Treatment Plant (WWTP) dan pembangunan jalan kolektor di enam kawasan industri.

Lukita mengatakan, pada triwulan II tahun 2018, perekonomian Batam menopang perekonomian Kepri dengan peningkatan sekitar 4,51 persen. Ia berharap perekonomian bisa tumbuh di atas 5 persen.

Keuntungan bagi Investor
Lukita mengatakan, BP Batam sudah merancang agar pelabuhan dan bandara di Batam dapat menjadi hub logistik dagang elektronik (e-commerce). Menurutnya, Batam menawarkan banyak keuntungan bagi para investor dan pelaku pasar khususnya e-commerce.

“Batam dirancang untuk bisa menjadi hub trade logistik. Kami menawarkan dua hal. Pertama, perusahaan bisa menyimpan produknya di storage Batam. Keuda, perusahaan bisa menempatkan pabriknya di Batam,” ujarnya.

Menurut Lukita, dengan adanya storage atau gudang di Batam, perusahaan bisa mempunyai akses yang lebih mudah untuk mengekspor barangnya. Sedangkan jika membuka pabrik di Batam, perusahaan tidak akan dikenakan pajak bila menggunakan bahan baku impor.

“Batam bebas bea masuk kalau bahan baku impor, bebas PPN, dan ekspor juga bebas. Kami memberikan insentif besar, bandara dan pelabuhan ada. Ini akan menjadi keuntungan bagi investor,” kata dia.

 

Reporter : Fathurrohim
Editor : Yuri B Trisna