Momen kurban sering membuat orang ingin menyantap daging sepuasnya, padahal yang paling menentukan justru cara mengatur porsi dan olahannya. Jika tak hati-hati, menu yang terlalu berat malah membuat asam urat dan kolesterol lebih mudah naik.
Pilihan yang lebih aman sebenarnya tidak rumit. Daging kurban masih bisa masuk menu harian selama bagian yang dipilih tepat, lemaknya dikurangi, dan pengolahannya tidak berlebihan.
Yang perlu paling diwaspadai adalah bagian dengan kandungan purin tinggi, terutama jeroan. Hati, paru, limpa, usus, sampai otak disebut perlu dibatasi karena kadar purinnya jauh lebih tinggi daripada daging biasa.
Kebiasaan makan berlebihan juga ikut memperbesar risiko. Saat konsumsi tidak dikendalikan, kadar Low-Density Lipoprotein atau LDL dapat meningkat, sementara kristal asam urat bisa menumpuk dan memicu nyeri pada sendi.
Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang, Ayu Diawi Ismayawati, menekankan bahwa masalah kesehatan umumnya muncul dari pola konsumsi yang keliru. Daging sapi maupun kambing pada dasarnya tetap mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang masih bermanfaat bila dimakan secukupnya.
Cara masak lebih ringan membantu menekan risiko
Langkah sederhana bisa dimulai sejak daging baru diterima. Lemak putih pada daging segar sebaiknya dibuang lebih dulu sebelum masuk proses masak.
Perebusan awal juga disarankan agar kadar purin bisa berkurang. Kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang, sehingga olahan seperti sup bening menjadi pilihan yang lebih ringan untuk lambung.
Untuk hidangan seperti gulai atau tongseng, santan tidak perlu dibuat terlalu kental. Lemak yang mengambang di permukaan masakan juga bisa diambil dengan sendok atau dibantu es batu setelah masakan agak dingin.
Minyak, santan, dan teknik olah perlu dijaga
Memasak dengan banyak minyak bukan pilihan terbaik bila ingin makan daging kurban dengan lebih aman. Metode tumis air dapat menjadi alternatif yang lebih ringan karena tetap memberi rasa tanpa menambah lemak berlebihan.
Masalahnya, banyak keluhan setelah makan daging kurban bukan datang dari dagingnya saja. Beban makanan sering naik karena tambahan santan, minyak, dan bagian berlemak yang dibiarkan masuk ke piring.
Selama porsi lemak dan santan dikendalikan, daging kurban masih bisa dinikmati sebagai lauk yang lebih aman. Kuncinya ada pada cara memasak yang tidak terlalu berat sejak awal.
Penyimpanan juga tidak boleh asal
Pengelolaan daging setelah dibagi sama pentingnya dengan cara memasaknya. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mencairkan daging beku, mengambil sebagian, lalu memasukkannya lagi ke freezer.
Daging sebaiknya langsung dibagi ke kantong-kantong kecil sesuai takaran sekali masak. Setelah itu, simpan di freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius agar mutunya lebih terjaga.
Saat akan digunakan, pencairan ideal dilakukan di chiller, bukan dibiarkan di suhu ruang. Siklus pembekuan dan pencairan ulang tidak disarankan karena bisa mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba.
Setiap kemasan juga sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan. Cara ini membantu memantau kualitas daging sebelum diolah kembali di rumah.
Porsi wajar tetap jadi patokan
Untuk orang dewasa sehat, konsumsi daging matang dianjurkan sekitar 50 hingga 100 gram per hari. Jumlah itu membuat asupan tetap wajar tanpa berlebihan.
Agar lebih seimbang, daging perlu ditemani sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, dan air putih yang cukup. Kombinasi ini membantu menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna.
Dengan porsi yang terukur, bagian daging yang tepat, olahan yang lebih ringan, dan penyimpanan yang benar, daging kurban tetap bisa dinikmati. Cara itu membuat sajian tetap lezat tanpa membuat asam urat dan kolesterol lebih mudah naik.
Source: lifestyle.bisnis.com