Di pasar motor bekas, angka murah sering membuat orang langsung tertarik. Padahal, ada beberapa model yang justru menuntut biaya bensin dan perawatan lebih besar setelah dibawa pulang.
Risiko itu paling terasa pada motor lawas yang lahir ketika efisiensi bahan bakar belum jadi perhatian utama. Ada juga yang sejak awal dirancang untuk mengejar performa, sehingga wajar kalau konsumsi BBM-nya tidak ramah dipakai harian.
Boros tidak selalu terlihat dari harga jual
Harga bekas yang turun memang membuat sejumlah motor tampak menggoda. Namun, jika dipakai rutin, pengeluaran harian bisa melonjak karena motor-motor ini terkenal haus bensin.
Contohnya ada pada Yamaha Mio karburator. Skutik generasi awal ini pernah sangat populer, tetapi konsumsi bensinnya dikenal tinggi karena lahir pada masa efisiensi belum jadi fokus utama pabrikan.
Herdi Nofriadi dari channel YouTube HND Garage menilai Mio karbu wajar disebut boros, bukan cuma dari sisi bahan bakar, tetapi juga perawatan. Di pasar bekas, unit ini rata-rata dibanderol sekitar Rp 3 jutaan hingga Rp 12 jutaan, tergantung kondisi dan orisinalitas.
Motor kencang, biaya ikut cepat habis
Daftar motor yang sering bikin pemilik menyesal juga diisi Kawasaki Ninja 150 varian 2-tak. Motor ini masih diburu karena suara khas, akselerasi instan, dan citra sporty yang kuat sampai sekarang.
Masalahnya, performa brutal itu datang dengan konsekuensi operasional yang besar. Mesin 2-tak dengan teknologi katup Super KIPS membuat tarikan terasa ringan dan “nampol”, tetapi frekuensi mampir ke SPBU ikut meningkat.
Herdi menggambarkan efeknya seperti dompet yang cepat terkuras saat motor dipakai. Harga bekas Kawasaki Ninja 150R dan 150RR sendiri masih cukup tinggi, berada di kisaran Rp 23.000.000 hingga menembus Rp 50.000.000 untuk unit terawat.
Karburator dobel yang ikut menambah beban
Kawasaki Ninja 250 4-tak generasi karburator juga sering masuk daftar incaran karena harga bekasnya sudah turun jauh. Motor sport fairing dua silinder ini kini bisa ditemukan di kisaran belasan juta, bahkan sekitar Rp 14,8 juta hingga Rp 30 jutaan.
Penurunan harga itu memang membuat banyak orang tergoda. Tetapi sistem pengabutan yang masih mengandalkan dua karburator konvensional untuk dua silinder 125 cc membuat konsumsi BBM-nya tidak ringan.
Herdi menyebut sensasinya seperti menghidupi dua motor karburator sekaligus dalam satu waktu. Secara tampilan dan suara, Ninja 250 karbu tetap terasa seperti moge kecil yang gagah, tetapi untuk mobilitas rutin, biaya bensinnya perlu dipikirkan matang.
Motor hobi yang makin berat dipakai harian
Berbeda dari tiga model sebelumnya, Yamaha RX-King sudah bergeser statusnya dari kendaraan fungsional menjadi barang hobi dan investasi. Unit yang dirawat baik dengan komponen orisinal kini bisa dihargai sangat tinggi di pasar.
Mesin 2-tak 135 cc milik RX-King dikenal boros bensin sekaligus oli samping. Beban biaya ini sering bertambah karena banyak pemilik melakukan modifikasi performa, mengganti knalpot racing, atau merestorasi total motor.
Di pasar online, harga RX-King sangat fluktuatif, mulai dari sekitar Rp 13,8 juta hingga Rp 88 juta untuk unit istimewa. Karena itu, motor ini jelas bukan pilihan yang pas untuk pembeli yang mengejar efisiensi pengeluaran bulanan.
Moge klasik yang juga tidak ramah konsumsi
Honda CB400 Super Four menunjukkan bahwa mesin besar dan tampilan gagah tidak selalu sejalan dengan biaya pakai yang bersahabat. Moge klasik 400 cc ini memikat lewat desain kekar dan raungan empat silinder segaris yang khas.
Sumber utama keborosannya ada pada empat karburator vakum yang menyuplai empat silinder sekaligus. Dalam gambaran sederhana, karakter ini terasa seperti membawa empat motor yang bekerja bersamaan dalam urusan asupan bahan bakar.
Herdi menyebut satu karburator vakum di skutik saja sudah sering dikeluhkan boros, apalagi jika ada empat yang berbaris untuk mesin 400 cc. Di marketplace, beberapa unit Honda CB400 Super Four terpantau dijual di kisaran Rp 59 jutaan, meski harganya kerap sulit ditebak.
Lima motor ini menunjukkan bahwa harga bekas yang terlihat menarik tidak otomatis berarti hemat dipakai. Untuk pembeli yang mengejar kendaraan operasional, konsumsi BBM dan biaya rawat tetap perlu dihitung sejak awal supaya tidak berubah jadi beban setelah motor dibawa pulang.
Source: www.suara.com




