Sejak kehadirannya di Batam tiga tahun silam, ada upaya tak kenal lelah provider Telkomsel untuk terus menyambungkan ribuan pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau, bak merajut Segantang Lada.

Lapangan Engkuputri, Batam Centre, Batam adalah titik tolak layanan Telkomsel di Kepulauan Riau. Kendati berada pada urutan kesembilan, kota yang menikmati jaringan data supercepat generasi ke 4 atau 4G Long Term Evolution (LTE) tahun 2015 silam, tak perlu waktu lama bagi kota lain di Kepri untuk menyusul.

Sebelum beroperasi di Batam, 4G LTE Telkomsel sudah lebih dulu komersil di Jakarta, Bali, Bandung Medan, Surabaya, Makassar, Lombok dan terakhir Manado. Yang cukup istimewa, Batam termasuk sebagai wilayah awal operasional frekuensi 1.800 MHz. Untuk melayani kota ini, Telkomsel mengalokasikan 90 eNode B untuk BTS 4G.

Secara nasional, anak usaha Telkom ini telah membangun 1.300 eNode B dengan 1,7 juta pelanggan 4G yang menjadikannya komunitas 4G LTE terbesar di Indonesia.

Hal itu seakan mengukuhkan kaitan erat Batam dengan operator yang menjangkau 99 persen populasi Indonesia itu. Pasalnya, sebelum melayani Indonesia, Telkomsel dilahirkan dan melayani pelanggan pertamanya di Batam, tahun 1995 silam.

Selain bersejarah, secara potensi Batam sangat diperhitungkan karena berperan sebagai gerbang Indonesia di wilayah Sumatera, dengan perputaran ekonomi baik dari pariwisata maupun industri. Direktur Sales Telkomsel kala itu, Masud Khamid bahkan menyebut, arus roaming kartu di Batam terbilang tinggi, dengan kisaran 70-80 ribu roamers dari dan ke Singapura tiap tahunnya.

Masih dari data Masud, jumlah pelanggan di Batam yang dua kali lipat dibanding jumlah penduduk kota merupakan potensi bisnis besar, yang konsumsi datanya terus mengalami eskalasi. Tak heran, Telkomsel berani mengoptimalisasi jaringan pita 10 Mhz, yang kala itu dikatakan Masud mampu mencapai kecepatan hingga 75 Mbps

Pada awal diluncurkan, 90 eNode B yang ada di Batam dapat menjangkau 70% populasi di lokasi strategis seperti kawasan bisnis Nagoya, kawasan pemerintahan di Batam Centre, Bandara Hang Nadim, Pusat Bisnis Jodoh, Harbour Bay, Lucky Plaza dan di sekitar wilayah pemukiman sekitar Batam Centre.

Baca Juga :   70 Persen Milenial Indonesia Ingin Jadi Entrepreneur, Startup Terus Tumbuh

Kini setelah tiga tahun berselang, nyaris seluruh pelosok Batam dapat menikmati layanan data cepat Telkomsel. Secara awam, bahkan para pemukim di wilayah pesisir seperti Nongsa Pantai dan Tanjungpinggir di Sekupang tidak lagi terganggu dengan roaming otomatis dari provider negara tetangga yang mengalami spillover.

Benang Tenun yang Terus Merajut

Menara telekomunikasi milik Telkomsel berdiri di pesisir Pulau Moro, Tanjungbalai Karimun. PELANTAR/Joko Sulistyo

Kepulauan Riau lazim disebut Segantang Lada karena terlihat seperti butir-butir rempah dalam wadah saat diamati dalam peta. Mendiang HM Sani, mantan Gubernur Kepri bahkan kerap berseloroh, Kepri memiliki 3598 pulau dalam pidatonya, lalu meminta hadirin untuk menghitung sendiri jika tak percaya.

Guyonan HM Sani mungkin tepat, pasalnya hinggak kini belum ada angka resmi yang valid untuk jumlah pulau yang ada di Kepri. Dengan 90 persen lebih wilayah berupa perairan, transportasi dan telekomunikasi adalah urat nadi yang terus harus dijaga kesehatannya.

Nyaris tiap kunjungan ke wilayah pulau, siapapun pejabat di Kepri selalu jadi sasaran warga untuk mengadu. Hal yang paling kerap terdengar adalah, permintaan sinyal, salah satunya.

Telkomsel menjadi satu-satunya operator yang kemudian kerap diketuk oleh birokrat, anggota DPRD, akademisi, hingga LSM untuk tidak berhenti hanya di Batam. Panggilan menyeru dari masyarakat itu kemudian dijawab dengan perluasan jaringan hingga ke sejumlah kabupaten di Kepri.

Tanjungpinang, Bintan, Natuna, Karimun, Anambas, dan Lingga berturut-turut menikmati layanan data cepat Telkomsel. Seiring penyempurnaan infrastruktur dan jaringan yang makin reliabel, wilayah-wilayah di luar Batam berangsur menyejajarkan diri dengan Batam.

Perlu banyak paragraf untuk menuliskan ulang kisah Telkomsel bertungkus lumus bersama pemerintah daerah menghadirkan layanan data hingga ke pelosok Kepri. Namun semuanya dapat disingkat hanya dengan melihat potensi-potensi daerah luar Batam yang kini menyeruak dan mudah didapati di ranah maya.

Melalui media sosial, mikroblogging, blog hingga situs mandiri, pelaku UMKM dan pariwisata di sejumlah daerah mulai membanjiri dunia maya. Pun demikian dengan persaksian dari para wisatawan yang mengunggah kenangan mereka melalui berbagai media, selepas berkunjung ke Kepri. Jika ada wilayah yang urat nadinya adalah jaringan telekomunikasi, Kepri salah satunya.

Baca Juga :   Harga Pangan Turun Memasuki Pertengahan Ramadan

Dua tahun silam, mungkin tak banyak orang luar provinsi mengenal pelosok Lingga, Karimun, Natuna atau Anambas. Kini, mesin pencari begitu rajin menghadirkan citra baru kemolekan Segantang Lada, lengkap dengan pontensi kuliner dan peluang ekonominya.

Hingga titik ini, Telkomsel adalah untaian benang tenun yang seperti tiada berhenti merajut. Segantang Lada yang dahulu seperti berderai, terpisah-pisah dan saling merasa sunyi, kini nyaring dan riuh rendah.

Kementerian Pariwisata bahkan secara berturut-turut dalam tiga tahun belakangan menempatkan Kepri di urutan atas daerah yang dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Efek ekonominya jelas, tak hanya tas, pakaian, mainan dan elektronik kwalitas bajakan, namun industri manufaktur kakap semacam Xiaomi, RIM hingga industri berbasis digital berproduksi di Batam, dan beberapa wilayah lainnya di Kepri.

Ahua, Fatimah dan Zulfahmi adalah Para Penyaksi

KERUPUK TENGGIRI MORO. Sejumlah warga sedang membuat kerupuk ikan tenggiri di Pulau Moro, Kepulauan Riau, Sabtu (20/12). Melimpahnya ikan tenggiri yang dihasilkan oleh nelayan pada puncak panen, seringkali tidak terserap pasar, untuk mengakalinya warga mengolah menjadi kerupuk yang dijual dengan harga Rp.50 ribu perkilo dan dipasarkan secara daring sampai ke Singapura dan Malaysia. PELANTAR/Joko Sulistyo

Moro, sebuah ibukota kecamatan di Karimun, tahun 2016 silam mungkin belum banyak dikenal. Jika ada berita tentang pulau itu terdengar hingga ke Batam yang jaraknya hanya dua jam pelayaran, biasanya hanya dibawa oleh sanak kerabat, atau awak speedboat.

Ahua mungkin tidak menyadari, dirinya adalah saksi perubahan dinamika masyarakat di Pulau Moro, yang terjadi berkat masuknya layanan data cepat Telkomsel. Sehari-hari, dia hanya fokus menekuni usaha pembuatan kerupuk ikan, dengan memanfaatkan melimpahnya hasil tangkapan nelayan setempat. Kerupuk buatannya, dia bawa sendiri ke pengecer di Karimun, atau kerabat yang ada di wilayah lain.

Fatimah adalah warga kebanyakan di Pulau Senayang, Kabupaten Lingga. Sehari-hari, dia membuat kerupuk ikan, seperti Ahua. Untuk menjual hasil buatannya pun dia memanfaatkan jalur seadanya. Menitipkan pada keponakan yang berkuliah di Tanjungpinang, mengantar ke pulau lain di wilayah kabupaten, atau membawanya sendiri ke wilayah lain.

Baca Juga :   DPT Kabupaten Lingga 66.876 Orang

Jarak Pulau Senayang dan Moro cukup jauh dan tidak tersambung langsung dengan pelayaran kapal cepat. Ahua dan Fatimah adalah dua orang yang kemudian mendapatkan manfaat langsung masuknya layanan data cepat ke kampungnya.

Meskipun hanya 3G dan kadang 4G, namun keduanya sudah sangat bersyukur dapat memajang kerupuk ikan buatannya di sosial media. Tak jarang, mereka menerima pesanan dari pembeli yang berada di luar wilayah, hingga luar pulau. Ahua bahkan mengaku kadang kewalahan memenuhi permintaan dari Singapura dan Malaysia, yang pesanannya mencapai bilangan ribuan kilo.

Sebelum layanan data dapat mereka nikmati, jangankan memajang produk. Untuk sekadar menelepon atau menerima Short Message Service (SMS) saja mereka harus rela menyemut berebut posisi dengan tetangga di dermaga desa. Di Kepri, lazimnya dermaga adalah lokasi di mana sinyal berada, dan jarang sekali gulita saat malam tiba.

Saat malam tiba, di Senayang misalnya, dermaga desa menjadi seramai pasar malam, lengkap dengan pedagang kaki limanya.

Zulfahmi adalah mahasiswa yang mencari tambahan uang saku dengan mengerjakan order foto dokumentasi dan menjadi pemandu wisata partikelir. Dengan piranti sederhana, dia menjaring relasi melalui media sosial, memamerkan foto-foto eksotika Segantang Lada.

Zul, tak jarang harus kalang kabut mengatur jadwal kuliah dan untuk melayani relasi yang akan menggunakan jasanya. Cita-citanya sederhana, mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan ke kampung halamannya di Kabupaten Kepulauan Anambas.

Telkomsel, Zul, Ahua, dan Fatimah sepintas tidak saling terkait. Namun ada layanan data yang membuat mereka terus bergerak, menggali sebanyak yang mereka mampu. Hingga titik ini, pemeliharaan stabilitas jaringan dan perluasan jangkauan menjadi tantangan Telkomsel. Karena, meskipun kecil jumlah pelanggan yang ada di pulau-pulau itu, seperti ketiganya, Telkomsel harus optimis, untuk besar bersama di Batas Negara.

Penulis : Joko Sulistyo