Hari Raya Waisak 2018

pelantar.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengucapkan selamat Hari Raya Waisak 2562 kepada umat Buddha yang merayakannya di manapun berada. Ia berharap, perayaan Waisak dapat menjadi momen untuk menyucikan dan membersihkan hati.

“Selamat Hari Raya Waisak 2018. Sucikan dan bersihkan hati untuk kedamaian dan kebahagiaan bersama -Jkw,” kata Jokowi melalui akun media sosial Twitter miliknya, @jokowi, Selasa (29/5/2018).

Pesan Jokowi tersebut ditulis pukul 13.54. Hingga pukul 17.00, kicauan Jokowi itu sudah disukai 3.681 pengguna Twitter dan di-retweet 1.509 kali.

Perayaan Waisak di Batam
Di Kota Batam, Kepulauan Riau, ribuan umat Budha tampak memadati sejumlah vihara, salah satunya di Maha Vihara Duta Maitreyawira, Bukit Beruntung, Seipanas.

Baca Juga :   Singapura Siapkan Jalur Terpisah untuk Pelancong Bisnis dengan Masa Tinggal Singkat

Pandita Liyas Masri, pengurus harian Vihara Maitreyawira memperkirakan ada sekitar 4.000 hingga 6.000 umat Budha yang datang untuk memperingati proses kehidupan Sidharta Gautama, mulai dari hari kelahiran Sang Budha, hari mencapai penerangan agung hingga hari mencapai parinibbana (wafat).

Ia mengajak seluruh umat Budha agar terus belajar dari kehidupan Budha Gautama. Setiap manusia, dituntut untuk selalu menebar kebaikan. Hal itu sesuai dengan tema yang diusung dalam peringatan Waisak kali ini, Menabur Kebaikan, Membangun Keharmonisan.

“Setiap manusia mempunyai kedudukan sederajat, tidak ada perbedaan. Itu yang ditemukan Sang Budha,” katanya.

Proses memandikan rupang Budha di Vihara Maitreyawira, Batam, Selasa (29/5)

Pandita Liyas mengatakan, rangkaian ritual persembahan dimulai sejak pagi hingga malam, yang ditutup dengan panggung kesenian. Ritual diawali dengan panjatan doa kepada Tuhan dan Sidharta Gautama dan para Budha agar selalu memberikan berkatnya kepada umat manusia di muka bumi.

Baca Juga :   5 Cara Menjadi Pribadi yang Gampang Disukai Orang Lain

Selanjutnya, persembahan lilin dan bunga, yang melambangkan harumnya kebajikan sekaligus pengorbanan.

“Maknanya, hidup kita ini hendaknya seperti lilin, yang merelakan kehidupannya demi terus memberikan cahaya bagi semesta,” katanya.

Ritual terakhir adalah pemandian rupang Budha. Ritual ini bermakna manusia harus selalu instropeksi diri, membersihkan hati dan jiwa agar bisa selalu berkelakuan baik bagi sesama dan lingkungannya.

Eka, pemeluk Budha di Batam yang ditemui di vihara itu berharap, perayaan Waisak tahun ini diharapkan bisa memberi kedamaian bagi semua orang khususnya untuk bangsa Indonesia.

“Seperti yang selalu diajarkan Sang Budha, harmoni penting sekali dalam kehidupan berbangsa,” katanya.

Menurut warga Baloi ini, keharmonisan menjadi hal penting dalam membuat kekuatan besar. “Apalagi Indonesia ini memiliki banyak suku, Bhineka Tunggal Ika sangat penting, dengan harmoni, bersatu, akan menjadi kekuatan besar bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga :   Kucing Oranye adalah Kucing yang Ramah? Berikut Tiga Fakta Menarik Tentang Kucing Oranye

Yuri B Trisna