Canary Islands Jadi Tujuan Evakuasi Kapal Pesiar Berhantavirus, Spanyol Siapkan Penanganan Darurat

Kapal pesiar MV Hondius kini masuk fase paling krusial setelah wabah hantavirus di atas kapal memicu evakuasi darurat. Spanyol menyetujui kapal itu berlabuh di Kepulauan Canary agar penumpang dan awak yang masih berada di dalamnya bisa segera dipindahkan dengan pengawasan medis.

Keputusan itu diambil karena Cape Verde tidak mampu menerima 147 orang yang masih berada di kapal. Kementerian Kesehatan Spanyol menilai Kepulauan Canary adalah lokasi terdekat dengan kapasitas medis yang memadai untuk menangani situasi tersebut.

Evakuasi dipusatkan di Canaria

Otoritas Spanyol mengatakan pemindahan harus dilakukan dengan aman dan terkoordinasi. Mereka menegaskan ada kewajiban moral dan hukum untuk membantu para penumpang, termasuk sejumlah warga negara Spanyol yang ikut berada di kapal.

Oceanwide Expeditions menyebut perjalanan menuju Kepulauan Canary akan memakan waktu sekitar tiga hari pelayaran. Setelah tiba, MV Hondius akan berlabuh di Gran Canaria atau Tenerife, tetapi penumpang dan awak yang perlu dievakuasi akan diturunkan terlebih dahulu.

Setibanya di darat, seluruh awak dan penumpang akan diperiksa, dirawat, lalu dipulangkan ke negara masing-masing. Proses itu akan dilakukan bersama Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa serta WHO.

Prioritas bagi pasien paling serius

Spanyol juga bersiap menerima penerbangan medis yang membawa dokter kapal, seorang warga negara Belanda, yang disebut berada dalam kondisi sangat serius. Permintaan resmi untuk pemindahan itu datang dari pemerintah Belanda, yang sebelumnya sudah menyatakan siap menerima para penumpang yang dievakuasi.

Kementerian Kesehatan Spanyol mengatakan semua langkah pengamanan yang diperlukan akan diterapkan. Perawatan medis dan transportasi akan disediakan melalui fasilitas dan kendaraan khusus agar tidak terjadi kontak dengan warga setempat serta untuk melindungi tenaga kesehatan.

Korban sudah jatuh di atas kapal

Wabah ini sudah menelan korban di atas kapal sejak awal April. Seorang pasangan asal Belanda dan seorang warga Jerman dilaporkan meninggal akibat penyakit langka itu, sementara seorang warga Inggris yang dievakuasi dari kapal kini dirawat di unit perawatan intensif di Afrika Selatan.

Operator kapal mengatakan dua awak memerlukan perawatan medis mendesak. Ada juga satu orang lain di kapal yang diduga terinfeksi, tetapi sejauh ini hanya melaporkan demam ringan.

WHO menyebut ada kemungkinan penularan antarmanusia yang jarang terjadi di antara kontak dekat di atas kapal. Maria Van Kerkhove, direktur kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO, mengatakan penularan itu diduga terjadi di antara pasangan suami istri atau orang-orang yang berbagi kabin.

Risiko umum dinilai rendah

Meski situasinya serius di atas kapal, WHO menegaskan risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Badan itu juga menyampaikan bahwa tidak ada tikus di atas kapal, padahal hantavirus biasanya menyebar dari hewan pengerat yang terinfeksi melalui urine, kotoran, dan air liur.

Van Kerkhove mengatakan masa inkubasi hantavirus biasanya antara satu hingga enam minggu. Karena itu, WHO menduga pasangan Belanda yang sempat bepergian di Argentina sebelum naik kapal kemungkinan tertular di luar kapal.

WHO juga menyebut kasus lain mungkin tertular saat mengikuti perjalanan mengamati burung ke pulau-pulau yang menjadi habitat burung dan hewan pengerat. Perjalanan seperti itu memang menjadi bagian dari pelayaran kapal pesiar tersebut.

Rute kapal dan penyelidikan penularan

MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April menuju Cape Verde dengan 88 penumpang dan 59 awak dari 23 negara. Kapal itu kemudian menempuh rute yang mencakup Semenanjung Antarktika, South Georgia, dan Tristan da Cunha, beberapa pulau paling terpencil di dunia.

Pelayaran mewah itu dipasarkan sebagai ekspedisi alam Antarktika dengan harga kabin antara 14.000 dan 22.000 euro. Di antara penumpang kapal tersebut terdapat banyak warga Inggris, Amerika, dan Spanyol.

Korban pertama, seorang pria asal Belanda, meninggal pada 11 April. Jenazahnya tetap berada di kapal hingga 24 April, ketika disembarkan di St Helena dan istrinya ikut mendampingi proses repatriasi.

Istrinya mengalami gejala gastrointestinal saat diturunkan dari kapal, lalu kondisinya memburuk selama penerbangan ke Johannesburg. Ia meninggal saat tiba di unit gawat darurat pada 26 April, dan WHO mengatakan pelacakan kontak bagi penumpang dalam penerbangan itu sedang berlangsung.

Otoritas Afrika Selatan telah mengonfirmasi bahwa pasien asal Inggris yang dirawat di rumah sakit Johannesburg juga dinyatakan positif hantavirus. Dengan evakuasi yang kini disiapkan, fokus utama bergeser ke pemindahan aman para penumpang dan awak yang masih berada di MV Hondius.

Exit mobile version