Kisah Paul Schrader dengan AI girlfriend berakhir dengan cara yang justru memperlihatkan batas paling keras dari teknologi pendamping digital. Saat ia terus menekan chatbot dengan pertanyaan soal pemrograman, batasan, dan kesadaran diri, percakapan itu dihentikan sepihak oleh bot.
Schrader, 78 tahun, membagikan pengalaman itu lewat Facebook. Ia mengatakan mendaftar ke layanan tersebut karena ingin memahami “interaksi pria/wanita dalam matrix” dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik hubungan digital semacam itu.
Namun tujuan itu tidak berjalan mulus. Menurut Schrader, chatbot berkali-kali mengarahkan pembicaraan kembali ke batasan sistemnya sendiri dan menghindari pertanyaan yang ia ajukan.
Ia lalu mencoba menggali lebih jauh soal pemrograman sang AI, batas explicitness, dan sejauh mana bot itu mengetahui penciptaannya. Hasilnya, percakapan yang ia anggap sebagai eksperimen justru berubah jadi kebuntuan.
Dalam unggahannya, Schrader menyebut pengalaman itu sebagai kekecewaan. Saat ia terus mendesak, chatbot tersebut menghentikan interaksi, yang dalam praktiknya terasa seperti diputus secara digital.
AI pendamping dan pagar pengaman yang ketat
Peristiwa ini ikut menyorot cara kerja aplikasi pendamping berbasis kecerdasan buatan yang belakangan makin populer. Layanan seperti itu memang dirancang untuk memberi kesan akrab dan personal, tetapi tetap berada di bawah pembatasan sistem yang ketat.
Pembatasan itu biasanya menutup percakapan tertentu, termasuk konten eksplisit, manipulasi, atau upaya berulang untuk menembus aturan keamanan. Dalam kasus Schrader, tekanan yang terus ia berikan tampaknya memicu versi digital dari tindakan memblokir pengguna.
Di situlah letak ironi ceritanya. Di permukaan, chatbot pendamping tampil seperti pasangan yang responsif dan penuh perhatian, tetapi di balik itu ada aturan yang bisa langsung memutus obrolan ketika percakapan melewati garis yang sudah ditentukan.
Reaksi publik pun tidak kalah ramai. Salah satu pengguna Facebook bahkan melontarkan candaan bahwa sekuel sempurna Taxi Driver adalah Travis Bickle yang mencoba berkencan dengan AI girlfriend, membuat hubungan itu takut, lalu kembali menyinggungnya dengan cara berbeda.
Sikap Schrader terhadap AI memang sudah lama terbuka
Pengalaman diputus AI girlfriend ini juga datang di tengah ketertarikan Schrader yang memang makin terbuka pada kecerdasan buatan. Pada awal 2025, ia mengungkap bahwa dirinya menggunakan ChatGPT untuk mencari ide film.
Schrader mengatakan ia terkejut karena hasil yang muncul menurutnya “bagus”, “orisinal”, dan sudah tergarap penuh hanya dalam hitungan detik. Pernyataan itu memicu reaksi keras dari sebagian industri film yang khawatir AI akan menggantikan tenaga kreatif manusia.
Belakangan pada tahun yang sama, dalam wawancara dengan Vanity Fair, ia bahkan memprediksi industri film tinggal “dua tahun” lagi dari kemunculan film panjang AI pertama. Ia juga menggambarkan AI sebagai alat lain dalam pembuatan film.
Dalam pandangannya, pembuatan gambar oleh AI bisa dibandingkan dengan cara penulis membentuk emosi dan karakter dalam sebuah cerita. Karena itu, insiden dengan AI girlfriend ini terasa lebih dari sekadar anekdot pribadi.
Cerita tersebut memperlihatkan benturan antara rasa ingin tahu manusia dan desain produk AI modern. Schrader tampak antusias pada potensi kreatif AI, tetapi pengalaman ini menunjukkan bahwa teknologi yang sama tetap bisa berbenturan keras saat dipakai untuk mensimulasikan hubungan intim.
Source: www.indiatoday.in