China Makin Mendominasi EV Dunia, Penjualan Global Diprediksi Tembus 23 Juta Unit Pada 2026

Dominasi China di pasar kendaraan listrik dunia makin sulit dibendung. Dalam proyeksi terbarunya, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan penjualan EV global akan mencapai 23 juta unit pada 2026, dengan porsi besar masih datang dari produsen asal Negeri Tirai Bambu.

Yang membuat tren ini menarik, dorongan pertumbuhan kini tidak lagi bertumpu pada subsidi. IEA menilai pasar bergerak karena permintaan yang makin kuat, biaya operasional yang lebih efisien, serta harga bahan bakar yang membuat mobil listrik semakin masuk akal untuk dipakai jangka panjang.

Harga minyak ikut mengubah pilihan konsumen

Gejolak geopolitik di Timur Tengah turut mempercepat pergeseran itu. IEA mencatat lonjakan harga minyak internasional telah menaikkan biaya konsumsi bensin, sehingga kendaraan listrik terlihat lebih rasional bagi banyak pembeli.

Dalam Global EV Outlook terbaru, penjualan EV dunia pada 2026 diproyeksikan naik sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pangsa EV juga diperkirakan mendekati 30 persen dari total penjualan mobil baru di dunia.

Momentum tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak 2025. Sepanjang tahun itu, penjualan kendaraan listrik global naik 20 persen secara tahunan dan untuk pertama kalinya menembus 20 juta unit.

China masih memegang kendali besar

IEA menegaskan posisi China tetap paling dominan di industri ini. Sekitar 60 persen EV yang terjual di dunia pada 2025 berasal dari produsen otomotif China, sedangkan Eropa dan Amerika Serikat masing-masing hanya menyumbang sekitar 15 persen.

Pengaruh China juga terlihat dari sisi ekspor. Pada 2025, ekspor EV dari negara tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dan menembus 2,5 juta unit, yang menjadi rekor tertinggi sejauh ini.

Di luar pasar China, Eropa, dan Amerika Serikat, sekitar 55 persen EV yang terjual di dunia juga merupakan produk impor dari China. Angka itu melonjak jauh dibandingkan lima tahun lalu yang masih berada di bawah 5 persen.

Asia Tenggara jadi sasaran berikutnya

Ekspansi produsen China kini banyak mengarah ke Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Di kawasan Asia Tenggara, penjualan kendaraan listrik pada 2025 naik dua kali lipat dan pangsa pasarnya mendekati 20 persen.

Indonesia ikut menjadi bagian dari laju tersebut. Data wholesales Gaikindo menunjukkan penjualan mobil listrik pada 2025 mencapai 103.931 unit, naik 141 persen secara tahunan dan menyumbang lebih dari 12 persen dari total penjualan mobil baru.

IEA memperkirakan penetrasi kendaraan listrik di Asia Tenggara bisa mencapai 60 persen pada 2035 jika tren pertumbuhan ini terus berlanjut. Proyeksi itu menunjukkan kawasan tersebut akan menjadi salah satu medan penting bagi ekspansi EV global.

Rantai pasok baterai juga dikuasai

Kekuatan China tidak berhenti pada penjualan dan ekspor. Pada 2025, negara itu menguasai lebih dari 80 persen kapasitas produksi sel baterai kendaraan listrik global, termasuk dominasi dalam pengolahan bahan baku utama baterai.

Posisi ini memberi China pengaruh besar terhadap biaya dan ketersediaan komponen kunci EV di seluruh dunia. Di saat yang sama, harga baterai yang turun dan mobil listrik yang makin kompetitif dibanding kendaraan konvensional terus memperkuat pertumbuhan pasar.

IEA juga mencatat sebaran pertumbuhan yang makin luas. Per Maret 2026, hampir 90 negara membukukan kenaikan penjualan kendaraan listrik dibandingkan tahun sebelumnya, dan sekitar 30 negara mencetak rekor penjualan EV bulanan tertinggi.

Dalam jangka panjang, IEA memperkirakan jumlah kendaraan listrik global akan melompat dari sekitar 80 juta unit saat ini menjadi 510 juta unit pada 2035. Proyeksi itu menunjukkan pasar EV masih punya ruang tumbuh besar, meski pusat persaingan dunia tetap mengerucut pada China.

Baca Juga

Back to top button