Cara Como bermain di bawah asuhan Cesc Fabregas mulai membuat namanya kembali ramai dibicarakan di Inggris. Bukan sebagai gelandang andalan seperti dulu, melainkan sebagai pelatih yang berhasil memberi arah jelas pada tim Serie A itu.
Perhatian itu muncul karena Como tidak sekadar bertahan di papan tengah. Klub milik Hartono bersaudara tersebut justru bersaing di papan atas Serie A dan masih punya peluang menembus Liga Champions, sesuatu yang jarang dikaitkan dengan mereka sebelumnya.
Como tampil dengan identitas yang lebih tegas
Yang paling menonjol dari kerja Fabregas di Como bukan cuma hasilnya, tetapi cara tim itu bermain. Ia membangun tim dengan penguasaan bola, sirkulasi bola yang cepat, dan serangan vertikal yang lebih tajam.
Pendekatan itu membuat Como terlihat lebih agresif saat memancing tekanan lawan. Di atas lapangan, para pemain muda dalam skuadnya mampu menjalankan ide tersebut dengan cukup baik.
Hasilnya terlihat dari posisi Como yang kini berada di peringkat keenam klasemen sementara. Dengan posisi itu, mereka masih punya harapan besar untuk terus menekan zona atas dan menjaga peluang lolos ke kompetisi Eropa.
Kalau tiket Liga Champions tidak datang, finis di zona Liga Europa atau UEFA Conference League tetap akan jadi lompatan besar. Untuk klub seperti Como, capaian seperti itu sudah cukup menunjukkan betapa jauh perkembangan mereka di bawah Fabregas.
Nama Fabregas mulai dipantau lagi dari Inggris
Performa Como otomatis ikut mengangkat reputasi Fabregas sebagai pelatih muda. Sejumlah klub Premier League disebut mulai mengawasi perkembangannya, dan Chelsea termasuk di antaranya karena sedang mencari manajer tetap untuk musim mendatang.
Ketertarikan itu tidak datang tanpa alasan. Fabregas dinilai bukan hanya membawa hasil, tetapi juga membentuk identitas permainan yang jelas dan mudah dikenali.
Situasi ini membuatnya kembali masuk radar liga yang dulu membesarkan namanya sebagai pemain. Dari sisi pembinaan karier, pencapaian di Como memberi sinyal bahwa Fabregas mulai dianggap serius sebagai kandidat pelatih untuk level yang lebih tinggi.
Premier League masih terbuka, tapi belum jadi tujuan yang dikejar terburu-buru
Fabregas sendiri tidak menutup kemungkinan kembali ke Premier League. Ia menyebut kompetisi itu sebagai liga terbaik di dunia berdasarkan pengalamannya sebagai pemain, pelatih, dan penggemar.
“Saya sudah selalu jelas tentang itu,” ujar Fabregas soal pandangannya terhadap Premier League. “Saya merasakannya sebagai pemain, sebagai pelatih, dan sebagai penggemar.”
Meski begitu, mantan gelandang Barcelona, Arsenal, dan Chelsea itu tidak ingin terburu-buru mengambil langkah berikutnya. Ia mengingat pesan Jose Mourinho yang menyebut dirinya masih punya banyak waktu untuk membangun karier di dunia kepelatihan.
Fabregas menilai jalur yang ia tempuh masih panjang. Karena itu, ia masih membuka kemungkinan bertahan lebih lama di Italia sebelum akhirnya kembali ke Inggris.
Fokusnya tetap di Como untuk saat ini
Di tengah spekulasi yang terus berkembang, Fabregas memilih tetap tenang. Ia ingin menikmati momen bersama Como dan tidak terlalu cepat memikirkan masa depan yang masih jauh.
“Saya suka menikmati momen ini. Kami menjalani hal yang indah di sini,” kata Fabregas. “Jadi lihat saja apa yang akan terjadi di masa depan.”
Sikap itu membuat posisinya menarik. Di satu sisi, ia sedang membangun proyek yang berjalan baik di Como, sementara di sisi lain pintu menuju Premier League masih terbuka lebar bila performa timnya terus konsisten.
Untuk sekarang, Como menjadi panggung utama yang mengembalikan Fabregas ke pusat perhatian. Jika laju mereka terus terjaga, pembicaraan soal kembalinya Fabregas ke Inggris tampaknya akan semakin sulit diabaikan.





