Danau Madagaskar Terus Susut, Madagascar Grebe Kian Terjepit di Habitat Yang Makin Sempit

Di tengah menyusutnya lahan basah Madagaskar, nasib Madagascar grebe ikut terjepit. Burung air kecil ini amat bergantung pada danau dangkal, rawa air tawar, dan sungai berarus lambat yang semakin tertekan oleh perubahan lahan.

Spesies endemik bernama ilmiah Tachybaptus pelzelnii itu hanya berukuran sekitar 25 cm, tetapi hidupnya sangat ditentukan oleh kondisi perairan. Tubuhnya yang padat, kaki yang letaknya jauh di belakang, dan kemampuannya menyelam cepat membuatnya jauh lebih nyaman di air daripada di daratan.

Burung penyelam yang nyaris tak lepas dari air

Madagascar grebe termasuk keluarga Podicipedidae, kelompok burung penyelam yang memang dirancang efisien untuk perairan. Ciri fisiknya mendukung kebiasaan itu, mulai dari kepala gelap kehitaman, sisi leher cokelat kemerahan, mata merah terang, hingga paruh pendek kekuningan.

Saat berada di permukaan, burung ini sering tampak tenang. Dalam hitungan singkat, tubuhnya bisa hilang di bawah air untuk mencari mangsa, dan ketika terganggu pun ia lebih memilih menyelam ketimbang terbang menjauh.

Kebiasaan itu membuat sebagian besar aktivitas hariannya berlangsung di atas air. Karena itu, kemampuan berenang dan menyelam menjadi kunci utama untuk bertahan hidup.

Habitat yang terus menyempit

Burung ini hidup di bagian barat dan tengah Madagaskar, terutama di danau dangkal, rawa air tawar, dan sungai yang alirannya lambat. Ia juga menyukai area dengan tumbuhan air lebat seperti teratai dan vegetasi terapung karena tempat itu memberi perlindungan dari predator.

Danau Alaotra pernah menjadi salah satu kawasan penting bagi spesies ini. Namun, wilayah itu kini terus tertekan oleh alih fungsi lahan menjadi pertanian dan perikanan, sementara banyak lahan basah berubah menjadi sawah.

Perubahan itu membuat ruang hidup Madagascar grebe terus menyusut dari tahun ke tahun. Kerusakan ekosistem air tawar juga ikut memukul sumber makanannya.

Makanan kecil, gerakan cepat

Sebagai pemburu di perairan dangkal, Madagascar grebe mengandalkan penyelaman singkat untuk mengejar mangsa kecil. Makanannya terdiri dari serangga air, ikan kecil, dan krustasea.

Strategi ini efektif selama air masih menyediakan cukup ruang dan makanan. Ketika habitat makin terfragmentasi, burung ini semakin bergantung pada sisa lahan basah yang masih bertahan.

Sarang tersembunyi di antara tanaman air

Musim berkembang biak Madagascar grebe biasanya berlangsung antara Agustus hingga Maret. Sarangnya dibuat terapung dari tumbuhan air yang diikat pada vegetasi di sekitar danau agar tetap stabil.

Lokasi sarang biasanya dipilih di area dengan tanaman air padat. Cara itu membantu menyembunyikan telur dari gangguan predator.

Di Bemanevika Protected Area, penelitian terbaru juga menemukan pola pembiakan yang tidak biasa. Selain pasangan biasa, ada unit berkembang biak yang terdiri dari satu jantan dan dua betina, temuan yang jarang ditemukan pada spesies lain dalam famili yang sama.

Ancaman datang dari habitat dan ikan invasif

Madagascar grebe berstatus Endangered menurut International Union for Conservation of Nature atau IUCN. Populasinya diperkirakan kurang dari 5.000 individu dan terus menurun.

Ancaman terbesarnya datang dari kerusakan habitat, terutama akibat perubahan lahan basah menjadi area pertanian dan aktivitas perikanan yang makin intensif. Tekanan ini membuat ruang hidup spesies tersebut semakin terbatas.

Bahaya lain muncul dari ikan predator invasif. Snakehead memangsa burung dewasa dan anakannya di beberapa wilayah danau, sementara ikan asing pemakan tumbuhan merusak vegetasi air yang justru dibutuhkan sebagai tempat berlindung dan bersarang.

Kondisi Madagascar grebe memperlihatkan betapa rapuhnya ekosistem lahan basah Madagaskar. Meski kecil, burung ini tetap menjadi bagian penting dari rantai ekologi danau alami yang sulit digantikan.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version