Dari Cangkang Udang Jadi Kemasan, Buah Dan Sayur Bisa Lebih Awet Lalu Hancur Cepat

Kemasan untuk buah dan sayuran biasanya hanya dipandang sebagai pembungkus biasa. Namun, tim peneliti dari University of Maryland sedang mendorong bahan baru yang punya dua fungsi sekaligus: menjaga produk segar lebih lama dan terurai dalam waktu singkat setelah dipakai.

Bahan kemasan biodegradable ini dibuat untuk menyaingi plastik dalam hal performa, tetapi tidak menyisakan limbah yang bertahan lama. Laporan 7News menyebut material tersebut berpotensi masuk ke kemasan komersial pada akhir tahun ini jika pengembangannya berjalan sesuai target.

Dibuat dari bahan alami dan bantuan kecerdasan buatan

Pengembangan material ini menggabungkan kecerdasan buatan, machine learning, robotik, serta bahan alami seperti selulosa dan chitosan. Chitosan sendiri berasal dari cangkang udang dan kepiting, dan dipilih sebagai bagian dari pencarian formula pengganti plastik yang tetap kuat serta fungsional.

Project lead Dr. Po-Yen Chen mengatakan kecerdasan buatan memangkas proses riset yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun menjadi sekitar tiga bulan. Sistem itu membantu tim menyaring banyak kombinasi material dengan cepat sampai menemukan formula yang dianggap cocok.

Biomolecular engineer Dr. Abhishek Sose menyebut timnya sudah menemukan material yang dicari dan berharap produk itu segera hadir di pasar. Chen juga mengatakan tim telah bekerja sama dengan mitra industri, dengan target material mulai terlihat di beberapa saluran distribusi, terutama untuk kemasan produk segar, pada akhir tahun.

Lebih lama segar saat dibungkus

Dalam pengujian, material baru ini disebut mampu memenuhi kebutuhan kemasan makanan yang harus tahan air, minyak, dan lemak. Di saat yang sama, bahan itu juga harus cukup kuat untuk pengiriman dan penyimpanan.

Hasil uji menunjukkan produce yang dibungkus dengan material ini bisa bertahan sekitar dua kali lebih lama dibanding produce yang ditutup dengan cling film plastik biasa. Bagi buah dan sayuran, tambahan waktu simpan seperti ini bisa membantu mengurangi makanan terbuang, baik di toko maupun di rumah.

Manfaat itu menjadi menarik karena kemasan bukan hanya soal melindungi isi dari luar. Jika produk segar lebih lama bertahan, konsumen juga bisa punya ruang lebih besar untuk mengatur belanja dan menekan pemborosan.

Mengapa alternatif plastik ini dianggap penting

Sorotan terhadap bahan baru ini juga datang dari masalah plastik konvensional yang bisa bertahan selama ratusan tahun. Seiring waktu, plastik itu perlahan terpecah menjadi mikroplastik yang sudah ditemukan di tanah, air, makanan, hingga tubuh manusia.

Para ilmuwan masih terus mempelajari dampak kesehatannya secara menyeluruh. Karena itu, perubahan di tahap awal seperti kemasan makanan dinilai sangat berarti jika ingin mengurangi sampah plastik dan paparan polusi plastik yang menetap.

Sose menyebut plastik sebagai “a design problem” karena sering dipakai hanya beberapa menit, tetapi bertahan selama berabad-abad. Ia juga mengatakan material baru ini berpotensi jauh lebih murah dibanding banyak pilihan ramah lingkungan yang sudah ada.

Dorongan dari pengalaman di lapangan

Di balik riset ini, ada pengalaman pribadi yang ikut membentuk arah pengembangan. Chen mengatakan ketertarikannya menguat setelah melihat seekor penyu laut mencoba memakan kantong plastik yang mengapung saat sedang menyelam di Palau.

Pengalaman itu meninggalkan kesan besar baginya dan mendorong pencarian bahan yang bisa menggantikan plastik sekali pakai tanpa menambah beban limbah. Jika material ini benar-benar masuk pasar, dampaknya bisa menyentuh dua sisi sekaligus: mengurangi sampah plastik dan membantu produk segar bertahan lebih lama.

Baca Juga

Back to top button