Dari FABA PLTU ke Baterai Litium Murah, Inovasi 3 Mahasiswa ITB Ini Mengejutkan

Kapasitas anoda berbasis limbah FABA dari tim SULE jadi salah satu bagian paling mencuri perhatian dalam inovasi mahasiswa ITB ini. Material yang mereka kembangkan mampu mencapai kapasitas hingga 1450,3 mAh/g, angka yang menunjukkan potensi besar untuk baterai lithium-ion yang lebih murah dan lebih berkelanjutan.

Yang membuatnya menarik, bahan baku yang dipakai bukan material mahal dari luar negeri, melainkan Fly Ash dan Bottom Ash atau FABA dari industri pembangkit listrik tenaga uap. Lewat pendekatan ini, limbah yang selama ini berisiko mencemari lingkungan diubah menjadi komponen bernilai tinggi untuk teknologi energi masa depan.

Tim SULE terdiri dari Malika Fatima Lawe, Rufaida Khairina, dan I Dewa Ayu Andina Angelia. Tiga mahasiswa ITB ini melihat FABA bukan sekadar residu, melainkan sumber silika dan alumina yang masih bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan material baterai.

Untuk mengolahnya, mereka memakai metode direct alkaline leaching dan ammonium sulfate roasting. Dari proses itu, lahirlah material anoda silikon-karbon dan lapisan keramik alpha-alumina yang menjadi inti inovasi mereka.

Bagian separator juga tidak kalah penting dalam hasil uji yang mereka dapatkan. Lapisan alpha-alumina yang dihasilkan tetap stabil pada suhu hingga 200 derajat Celsius, sehingga lebih unggul dibanding separator plastik biasa dalam menghadapi panas.

Performa itu membuat inovasi SULE dinilai punya peluang sebagai alternatif bahan baku baterai yang lebih ramah lingkungan. Selain memanfaatkan limbah industri, pendekatan ini juga berpotensi menekan biaya produksi karena tidak bergantung sepenuhnya pada material konvensional.

Prestasi mereka semakin menonjol setelah meraih Juara 1 dalam kompetisi nasional I-CHALLENGE 2026 pada kategori Industry Case Analysis Competition atau I-CAC. Pengakuan ini menegaskan bahwa gagasan dari kampus bisa menjawab persoalan energi sekaligus lingkungan.

Relevansinya juga besar untuk kebutuhan energi bersih di Indonesia. Baterai berkualitas tinggi dibutuhkan untuk kendaraan listrik, penyimpanan energi tenaga surya, dan penyediaan listrik di wilayah terpencil.

Di sisi lain, tim SULE menilai pemanfaatan FABA dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor material baterai. Selama ini, sebagian besar bahan baku baterai masih berasal dari luar negeri sehingga biaya produksi cenderung lebih mahal.

Manfaat lain datang dari sisi pengelolaan limbah. Jumlah FABA dari industri energi sangat besar setiap tahun, sehingga pemanfaatannya menjadi peluang untuk menekan pencemaran sekaligus emisi karbon.

Pendekatan yang mereka bawa juga sejalan dengan ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang punya nilai guna lebih tinggi. Bagi industri energi, cara ini membuka ruang baru untuk pengembangan baterai nasional yang lebih efisien dan tidak terlalu bergantung pada sumber impor.

Tim SULE tidak berhenti di tahap kompetisi. Mereka menargetkan riset lanjutan pada 2026 dan melanjutkannya ke tahap komersialisasi pada 2027.

Jika langkah itu berhasil, teknologi ini bisa menjadi salah satu jalan untuk memperkuat industri baterai nasional. Dari limbah batubara, mereka menawarkan arah baru menuju baterai yang lebih murah, stabil, dan ramah lingkungan.

Source: pemmzchannel.com
Exit mobile version