Banyak orang mengenal Disneyland sebagai dunia imajinasi, tetapi sedikit yang tahu bahwa salah satu pengaruh penting di baliknya justru datang dari kompleks industri Ford di Detroit. Dari kunjungan singkat ke kawasan itu, Walt Disney menangkap cara baru melihat teknologi: bukan hanya sebagai mesin produksi, melainkan juga sebagai tontonan yang bisa memikat publik.
Jejak itu terlihat dalam cara Disneyland dirancang. Gagasan tentang Main Street, USA dan Tomorrowland tidak muncul begitu saja, karena Disney sempat menyaksikan bagaimana Ford mengubah pabrik menjadi pengalaman yang bisa dinikmati pengunjung.
Setelah menghadiri Chicago Railroad Fair, Walt Disney dan animator Ward Kimball mengunjungi beberapa lokasi milik Ford. Mereka melihat koleksi lokomotif dan mobil antik di Greenfield Village, lalu berakhir di River Rouge, kompleks pabrik raksasa Ford di Detroit.
River Rouge yang membuat Disney terpaku
River Rouge berdiri di atas lahan sekitar 1.200 acre. Di sana, bijih untuk membuat baja masuk dari satu sisi, lalu mobil jadi keluar dari sisi lain hanya dalam 28 jam, dari bahan mentah hingga kendaraan selesai.
Skala itu membuat River Rouge tampak seperti pertunjukan teknologi yang terus bergerak. Bagi Disney dan Kimball, yang terlihat bukan cuma pabrik, tetapi juga sistem besar yang memadukan produksi massal dengan daya tarik visual.
Ada alasan lain mengapa tempat itu begitu berkesan. River Rouge memang dirancang sebagai tujuan wisata untuk mempromosikan merek Ford, sehingga area kerja dan area hiburan menyatu dalam satu pengalaman.
Empat tahun sebelum pembukaan penuh, tur di dalam kompleks itu sudah berjalan. Pengunjung dipindahkan dari satu titik ke titik lain dengan bus khusus beratap kaca, sementara perjalanan dimulai dari Ford Rotunda yang awalnya dibuat untuk pameran di Chicago pada 1933-34 lalu dipindahkan ke dekat River Rouge.
Dari Detroit ke dunia Disney
Roland Betancourt menilai Greenfield Village punya kaitan kuat dengan Main Street, USA di Disneyland. Sementara itu, River Rouge ia hubungkan langsung dengan Tomorrowland karena keduanya sama-sama memancarkan kesan masa depan, teknologi, dan gerak mesin yang tertata.
Pandangan itu cocok dengan suasana Amerika Serikat pascaperang, saat otomatisasi mulai ramai dibicarakan. Pada periode dari akhir 1940-an hingga 1960-an, otomatisasi juga memunculkan kekhawatiran soal hilangnya banyak pekerjaan.
Namun bagi Disney, teknologi tidak harus tampil dingin atau menakutkan. Yang ia lihat di Ford justru menunjukkan bahwa mesin bisa dikemas menjadi pengalaman publik yang menarik, hidup, dan mudah dinikmati.
Ide itu kemudian ikut membentuk cara Disneyland dijalankan. Otomatisasi membuat rancangan Disney bisa diwujudkan dengan hasil yang konsisten, dapat diulang, dan tetap memberi ruang bagi efek khusus di balik layar.
Contohnya terlihat pada Peter Pan, yang menurut Betancourt memakai sistem konveyor umum dengan penumpang digantung dari rel di atas kepala. Lalu ada Matterhorn Bobsleds yang dikendalikan dengan programmable logic controllers dari industri otomotif.
Di sisi lain, magnetic tape drives yang berasal dari pengujian misil dipakai untuk membuat macaw di Tiki Room bergerak. Rangkaian ini menunjukkan bahwa Disneyland tidak hanya lahir dari imajinasi visual, tetapi juga dari teknologi industri yang dipindahkan ke dunia hiburan.
Lima hari setelah kembali ke California pada 1948, Disney mengirim pesan kepada seorang production designer tentang “Mickey Mouse Park.” Isi pesan itu memuat rel kereta, desa dengan toko, dan elemen lain yang ia lihat di Greenfield Village.
Saat Disneyland akhirnya dibuka untuk publik di Anaheim, California, pada Senin, 18 Juli 1955, visi itu sudah berkembang jauh. Atraksi seperti Mr. Toad’s Wild Ride, Jungle Cruise, Snow White’s Adventures, Space Station X-1, Castle, dan Stagecoach menjadi bagian dari dunia yang ia bangun.
Lebih dari 70 tahun kemudian, ada enam taman bertema Disney di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Jejak dari Detroit pada 1948 itu kini terlihat sebagai salah satu titik yang ikut mengubah arah hiburan modern.





