Penulis: H.M Chaniago

It is important in life not to be strong, but to feel strong, to measure yourself at least once. If you want something in life, reach out and grab itChristopher McCandless

Pelantar.id – Film Joker (2019) masih bertahan hingga minggu ini di setiap Bioskop di kota Batam. Film yang mengangkat narasi psikologis sosok bernama Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), yang kemudian menamai dirinya dengan Joker ini secara langsung menampilkan kepada kita, perihal gejala mental yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Selama ini kesehatan mental sering dianggap remeh. Bahkan posisinya di tengah masyarakat terkadang berubah menjadi perundungan sosial, hingga gejala ini kuat berkembang karena pengaruh lingkungan sekitar.

Pun kesehatan mental diposisikan tidak sedarurat kesehatan fisik lainnya. Jika melihat angka dan statistik bunuh diri, persoalan kesehatan mental sangat tidak bisa dianggap biasa saja.

Berdasarkan data termutakhir World Health Organization (WHO) yang telah diperbaharui pada tanggal 1 Mei 2018. Disebutkan, angka bunuh diri di Indonesia cukup tinggi. Angka ini membuat posisi Indonesia berada di urutan 103 dari 183 negara dan posisi sembilan di lingkungan negara Asia Tenggara.

Berdasarkan data WHO, penyebab bunuh diri beragam, di antaranya; problema ekonomi, persoalan pribadi seperti roman percintaan, penyakit yang diderita. Selain itu bunuh diri rentan juga dengan kelompok marginal yang mengalami diskriminasi sosial serupa pengungsi, imigran, kelompok LGBT, dan kalangan napi.

Sementara itu, hal lainya dari penyebab bunuh diri adalah kesehatan mental atau gangguan kejiwaan. Sebagai pembanding mungkin kita masih ingat, perihal Juandi Saragih (33) yang belakangan disebutkan adalah seorang transgender perempuan (transpuan).

Baca Juga :   Apple Watch Series 4 Berfitur Deteksi Jantung dan Pesan Emergency

Juandi melakukan aksi bunuh dirinya dengan cara melompat dari Jembatan I Raja Haji Fisabilillah Barelang, Senin (14/10) lalu. Masih belum diketahui penyebabnya, hanya saja statusnya sebagai kaum marginal LGBT dan juga tekanan sosial yang Ia terima, bisa saja berujung pada aksi penutupan riwayat hidupnya.

Selain itu baru-baru ini di ranah K-pop, penggemar musik Korean Pop dikejutkan dengan meninggalnya Choi Jin-ri alias Sulli, yang diduga bunuh diri karena mengalami depresi dan Syndrome panic attack.

Sulli bukanlah satu-satunya artis dari negeri gingseng yang memilih hilang dari peradaban sosial manusia karena kasus depresi, jauh sebelumnya terdapat sederetan nama-nama lain seperti; Kim Jong-Hyun (2017), Ahn So-jin (2015), Kim Daul (2009), Jang Ja-Yeon (2009), U;Nee (2007), Jeong Da-Bin (2007), Lee Eun-Ju (2005) dan banyak lagi.

Pada dasarnya bunuh diri hanyalah kulminasi dari problema kesehatan mental, dan dari keabaian kita akan dampak paling buruk dari kondisi jiwa yang sangat tidak stabil. Hingga berujung dengan tragedi penutupan riwayat.

 

Puskesmas Sediakan Layanan hingga Obat Gangguan Jiwa

Pemerintah melalui Menteri Kesehatan pun akhirnya menerbitkan Permenkes 59 tahun 2014, tentang kesehatan jiwa yang kini menjadi prioritas penanganan medis. Bahkan konsultasi kesehatan mental bisa dilayani oleh Puskesmas terdekat dari kota/kabupaten tempat kita tinggal.

Didi Kusmarjadi, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) kota Batam mengatakan Dinas Kesehatan hingga kini masih tetap menyediakan dokter spesialis jiwa dan bahkan pelayanan kejiwaan di Puskesmas. Lebih tepatnya Ia katakan Puskesmas memberikan terapi suportif, berupa pendampingan pada si penderita.

Baca Juga :   Bright PLN Resmikan Pos Pelayanan Unit Galang

“Di Puskesmas kita ada obat untuk gangguan jiwa berat, cuma sifatnya hanya pertolongan awal sebelum dirujuk ke rumah sakit atau dokter spesialis kejiwaan,” terangnya.

“Dan sekarang penanganan kita tentang kasus kejiwaan malah sudah berbasis ke masyarakat. Kita bekerja sama dengan masyarakat berupa konseling. Juga langsung ke rumah penderita dan mengedukasi keluarganya juga. Karena seperti kasus Skizofrenia atau Bipolar selain faktor keturunan, lingkungan juga mendorong ini semakin berkembang,” pungkasnya.

Ringkasnya, kesadaran akan kesehatan jiwa di negeri ini masih sangat rendah, dan salah satu pemicunya adalah stigma yang melekat akan si penderita gangguan jiwa yang cenderung begitu sangat negatif.

Butuh pikiran jernih atau orang yang tepat untuk bercerita bagi penderita, karena kematian bukanlah jawaban atas segala peliknya hidup yang mendera.

Jika Anda atau orang yang Anda kenal dan cintai sedang mengalami masa tersulit di dalam hidupnya, mohon langsung hubungi dokter kesehatan jiwa di setiap Puskesmas atau Rumah sakit terdekat dari tempat anda berada.

 

Berikut Daftar Puskesmas Batam untuk Berkonsultasi

Total hingga tahun 2018, menurut data terakhir Dinas Kesehatan Kota Batam terdapat 20 unit Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Batam, di antaranya;

foto: Alamy