Di tengah ramai dugaan awal soal gangguan sistem, KNKT justru menemukan arah yang berbeda dalam kecelakaan KRL dengan taksi online Green SM di sekitar Stasiun Bekasi Timur. Data kendaraan menunjukkan tidak ada catatan error sistem pada satu jam sebelum insiden, sehingga dugaan bahwa masalah utama berasal dari elektronik mobil makin mengecil.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, data on board unit atau OBU pada kendaraan B 2864 SBX tidak memperlihatkan gangguan sistem. Dari temuan itu, KNKT menilai persoalan inti tidak mengarah pada kerusakan perangkat kendaraan.
Pemeriksaan KNKT juga mencatat kendaraan tersebut sudah lulus pengujian electro magnetic compatibility atau EMC sesuai standar India. Soerjanto menyebut pengujian EMC memang tidak diwajibkan di Indonesia, dan mobil itu juga dilengkapi fitur keselamatan Electric Parking Lock Module.
Rangkaian data tersebut membuat dugaan tentang kerusakan elektronik atau gangguan sistem kendaraan semakin kecil. Soerjanto menyampaikan hal itu dalam rapat kerja bersama DPR RI Komisi V.
Justru pada urutan gerak kendaraan sebelum tabrakan, KNKT menemukan sejumlah detail yang menjadi perhatian. Mobil sempat berada di posisi D dengan laju normal sekitar 15 km per jam, lalu berpindah ke posisi N dan meluncur pada kecepatan sekitar 3 sampai 7 km per jam.
KNKT belum mengetahui alasan kendaraan dinetralkan saat meluncur di jalan menurun menuju perlintasan sebidang. Pada fase itu, mobil hanya bergerak sambil direm ringan sebelum mendekati titik kejadian.
Saat mobil sudah dekat perlintasan, pengemudi mencoba menekan pedal gas hingga 25 persen. Namun kendaraan tetap tidak bergerak karena transmisi masih berada di posisi N.
Tekanan pedal gas kemudian meningkat sampai 51 persen. Meski begitu, mobil tetap tidak dapat melaju dan kecepatannya akhirnya turun menjadi 0 km per jam.
KNKT juga mencatat transmisi sempat dipindahkan ke posisi D. Akan tetapi, pada saat itu pengemudi tidak menginjak pedal gas sehingga mobil tidak bergerak menjauh dari lintasan.
Setelah itu, transmisi berubah lagi ke posisi P. Dalam kondisi tersebut, pengemudi beberapa kali mencoba menghidupkan kendaraan sambil menginjak gas, rem, dan menekan tombol on-off, tetapi mobil tetap tidak bisa bergerak karena posisi transmisi masih di P.
Soerjanto menjelaskan pengemudi berulang kali mencoba mematikan dan menyalakan kendaraan lewat tombol start-stop. Upaya itu tidak diikuti pemindahan mode transmisi yang tepat untuk membuat mobil kembali bergerak.
Selain aspek teknis, KNKT juga menyorot sisi sumber daya manusia. Pengemudi yang terlibat dalam kecelakaan itu disebut baru bekerja sekitar tiga hari hingga lima hari setelah direkrut melalui job fair.
Masa kerja yang sangat singkat itu membuat pengenalan teknis kendaraan kepada pengemudi masih minim. Pelatihan yang diberikan pun hanya berupa kelas teori singkat dengan materi dasar pengoperasian kendaraan.
Materi pelatihan tersebut mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, lampu indikator, knop transmisi, dan penggunaan sabuk pengaman. KNKT juga menilai knop lampu indikator pada siang hari sulit terlihat.
Dengan begitu, fokus penyelidikan bergeser dari dugaan gangguan teknis ke cara pengoperasian kendaraan di lapangan. Dalam kasus ini, data OBU dan rangkaian posisi transmisi menjadi kunci untuk memahami apa yang terjadi sebelum tabrakan.
Kecelakaan antara KRL Commuter Line dan taksi online itu sempat memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik. Salah satu isu yang mencuat adalah dugaan sistem kendaraan terganggu saat melintas di area rel, tetapi temuan KNKT sementara tidak menguatkan arah itu.
Data kendaraan justru menunjukkan seluruh sistem pengoperasian tidak mencatat error menjelang kejadian. Karena itu, perhatian kini tertuju pada tindakan pengemudi dan penanganan transmisi sesaat sebelum mobil berada di lintasan.
Source: otomotif.kompas.com