pelantar.id – Pemerintah Desa Sungai Buluh, Kecamatan Ungar, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau mulai mengembangkan mata air untuk sumber penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas). Tahap awal, sudah dilakukan pengecekan kadar PH air oleh Dinas Kesehatan Karimun di lokasi sumber mata air Dusun Kedencer, Kamis (28/6).

Sekretaris Desa Sungai Buluh, Ahmad Yani mengatakan, pengecekan PH dilakukan guna mengetahui kandungan bahan kimia air, sehingga nantinya bisa ditentukan apakah air tersebut baik untuk dikonsumsi atau kebutuhan lainnya. Ia mengatakan, pengembangan Pamsimas sangat diperlukan masyarakat Desa Sungai Buluh, terutama yang bermukim di wilayah pesisir dan perbukitan.

Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat setempat kerap menumpang dari sumur milik warga lain. Agar bisa mendapatkan air bersih itu, warga harus menempuh perjalanan setidaknya satu kilometer.

Baca Juga :   Masih Amankah Menggunakan WhatsApp?

“Menurut tim dari Dinas Kesehatan tadi, kondisi air di sumber mata airr Dusun Kedencer cukup bagus. Tapi, apakah layak untuk dikonsumsi atau tidak, masih menunggu hasil uji laboratorium. Mereka sudah membawa sampel air untuk memeriksa kadar PH air,” kata Ahmad Yani.

Yani mengatakan, sebelumnya Kementerian Pekerjaan Umum pernah membangun fasilitas air bersih untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat se-Pulau Ungar. Namun, fasilitas yang dibangun beberapa tahun lalu itu tidak maksimal, lantaran tak mampu melayani masyarakat hingga ke Kelurahan Alai.

“Itulah yang membuat kami berinisiatif mengembangkan Pamsimas ini, agar kebutuhan air bersih masyarakat Desa Sungai Buluh terpenuhi,” katanya.

Menurut dia, jika pengembangan Pamsimas Desa Sungai Buluh ini terealisasi, akan dapat melayani sedikitnya 200 rumah. Sebagai pengelola, nantinya akan dibentuk dibentuk Kelompok Kegiatan Masyarakat (KKM).

Baca Juga :   Donald Trump Tegaskan Akan Blokir Tiktok di AS

“Kami belum bisa memastikan kapan ini bisa terealisasi, sekarang masih tahap pengecekan air. Untuk biaya, kami butuh setidaknya Rp200 juta. Mudah-mudahan segera terealisasi agar masyarakat tak harus repot lagi mendapatkan air bersih dengan membawa jerigen atau mendorong gerobak sampai satu kilometer,” kata dia.

Penulis : Abdul Gani
Editor : Yuri B Trisna