Sony punya cara sendiri untuk tetap kuat di industri teknologi. Nama besarnya memang sering langsung dikaitkan dengan kamera, tetapi mesin utama perusahaan ini justru tersebar di beberapa lini yang pengaruhnya jauh lebih luas, seperti sensor gambar, PlayStation, Xperia, dan BRAVIA.
Di banyak pasar, kekuatan Sony tidak datang dari satu produk saja. Perusahaan asal Tokyo, Jepang, yang berdiri sejak 1946 itu membangun posisi lewat ekosistem perangkat yang saling menguatkan, sehingga tetap relevan di tengah persaingan yang sangat ketat.
PlayStation jadi salah satu tumpuan terbesar
Di luar kamera, PlayStation adalah wajah Sony yang paling mudah dikenali di sektor hiburan digital. Konsol ini sudah lama menjadi salah satu produk paling populer di dunia dan berperan besar sebagai pintu masuk Sony ke pasar gim.
Statista mencatat PS5 sudah terjual 3,9 juta unit pada pertengahan 2025. Di sisi lain, PS2 masih tercatat sebagai salah satu konsol terlaris sepanjang masa, yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh PlayStation dalam sejarah industri gim.
Sony juga tidak berhenti di penjualan perangkat keras. Perusahaan ini ikut memproduksi dan mendistribusikan gim untuk PlayStation, termasuk gim eksklusif yang menjadi pembeda penting sekaligus sumber pemasukan.
Sensor Sony justru tersebar lebih luas
Kalau kamera jadi produk yang paling terlihat, sensor gambar adalah bagian lain yang diam-diam membuat nama Sony punya pengaruh besar. Komponen ini bekerja sejak awal proses pengambilan foto dan video karena bertugas menangkap cahaya sebelum data gambar diolah lebih lanjut.
Sony memproduksi sensor dalam banyak jenis, mulai dari kebutuhan ponsel, kamera medium format, sampai penggunaan industri. Karena itu, jejak Sony tidak hanya hadir di perangkat bermerek Sony, tetapi juga di produk dari banyak produsen lain.
Mengutip 91Mobiles, Sony disebut sebagai salah satu pemasok sensor kamera HP terbesar. Beberapa ponsel yang memakai sensor Sony antara lain OPPO Reno 15, OnePlus 15, dan vivo V60.
Kamera tetap jadi wajah paling dikenal
Meski bisnisnya jauh lebih luas, kamera masih menjadi lini yang paling melekat di benak banyak orang saat nama Sony disebut. Brand ini memang punya portofolio kamera yang cukup lengkap, dari DSLR sampai mirrorless, lalu dibagi lagi untuk fotografer, videografer, dan pengguna kasual.
Daya tarik kamera Sony ada pada gabungan fitur yang lengkap, kualitas gambar yang tajam, bodi yang relatif ringan, serta dukungan lensa yang luas. Karena itu, lini kamera Sony tetap dianggap penting sebagai salah satu pilar citra merek di mata konsumen.
Sejumlah model yang disebut layak dilirik pada 2026 antara lain Sony a7 VI, a7C II, a6700, a6400, ZV-E10, ZV-E1, RX100 VII, FX, dan DSC-RX1R III. Daftar itu memperlihatkan bahwa Sony masih kuat di kamera premium sekaligus kamera ringkas untuk konten.
Xperia belum hilang dari peta, meski tekanannya besar
Sony masih menjaga eksistensinya di pasar smartphone lewat Xperia. Namun, penjualannya disebut terbatas, dan ponsel Sony juga tidak dijual resmi di Indonesia.
Fokus Xperia saat ini berada di segmen mid-range dan flagship, dengan model seperti Sony Xperia 5 IV, Xperia 10 VII, dan Xperia 1 VII. Keberadaan lini ini menunjukkan bahwa Sony belum sepenuhnya keluar dari pasar ponsel, meski ruang geraknya tidak seluas lini lain.
Persaingan dengan Apple dan Samsung membuat posisi Xperia tidak dominan. Android Authority bahkan menyebut ada kemungkinan Sony hengkang dari industri smartphone, sementara jumlah pengguna ponsel Sony pada 2015-2019 turun drastis hingga 80 persen.
BRAVIA menjaga nama Sony di kelas televisi premium
BRAVIA menjadi bukti lain bahwa Sony masih punya taji di luar kamera. Lini televisi ini hadir dengan resolusi 4K, panel OLED, HDR, Google TV, layar luas, dan dukungan Dolby Vision.
Kombinasi itu membuat BRAVIA unggul dalam menampilkan warna cerah, hitam pekat, dan detail yang tajam. Speaker yang kuat juga membuatnya cocok dipakai untuk home theater maupun penggunaan di ruang keluarga.
Sony bahkan disebut mampu menghadirkan layar yang responsif untuk gaming. Dari sini terlihat bahwa Sony tidak hanya menjual perangkat, tetapi juga membangun karakter produk yang jelas di tiap segmen agar tetap kompetitif dan mudah dikenali pasar.
Source: www.idntimes.com