Di Tengah Harga Minyak Naik Dan Geopolitik Memanas, Rupiah Terkapar Ke Rp17.366

Tekanan terhadap rupiah belum mereda dan pasar kembali dibuat waspada oleh kombinasi faktor luar negeri serta sentimen dalam negeri. Pada perdagangan pagi, mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.366 per dolar AS pada pukul 09:05 WIB, setelah dibuka melemah 0,36 persen ke Rp17.353 per dolar AS.

Situasi itu membuat rupiah berada di level terlemah sepanjang masa. Yang menarik, pelemahan tersebut terjadi meski indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia justru turun tipis 0,11 persen ke 98,85, sehingga tekanan pada rupiah tidak bisa hanya dijelaskan oleh penguatan dolar global.

Harga minyak ikut memperberat tekanan

Kenaikan harga minyak mentah dunia menambah beban bagi pasar domestik. Bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara pengimpor minyak bersih, kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi bisa ikut terdorong lebih tinggi.

Di mata pelaku pasar, harga minyak yang naik berarti biaya impor energi berpotensi bertambah. Dampaknya tidak berhenti di sektor energi saja, karena tekanan itu juga bisa merembet ke stabilitas nilai tukar yang saat ini memang sedang rapuh.

Pergerakan di kawasan Asia pun tidak seragam, tetapi rupiah tercatat sebagai mata uang yang paling dalam pelemahannya. Ringgit Malaysia dan baht Thailand juga tertekan, sementara won Korea Selatan, yen Jepang, dan yuan justru bergerak lebih kuat di tengah gejolak yang masih dipicu faktor eksternal.

Pasar masih berhitung soal The Fed

Pakar strategi makro dan pendapatan tetap Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, menilai rupiah masih rentan melemah sepanjang perdagangan. Ia memperkirakan kurs akan bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS.

Menurut Lionel, pasar masih dibayangi ketidakjelasan arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Ia menyebut Gubernur Jerome Powell tetap berupaya menjaga forward guidance agar terlihat dovish, tetapi ketidakpastian arah kebijakan membuat investor cenderung berhati-hati.

Dalam kondisi seperti ini, arus sentimen global belum cukup ramah bagi mata uang negara berkembang. Pelaku pasar lebih suka menahan risiko dan memilih aset yang dianggap lebih aman, sehingga tekanan ke rupiah ikut bertahan.

Geopolitik dan isu fiskal belum keluar dari radar

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, melihat dinamika geopolitik masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang gerak rupiah dalam waktu dekat. Selama tensi global belum turun, volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi.

Josua menempatkan Rp17.300–Rp17.500 per dolar AS sebagai area perdagangan jangka pendek jika tekanan geopolitik tetap kuat. Namun, ia juga menilai peluang penguatan masih ada bila beberapa faktor bergerak bersamaan ke arah yang lebih baik.

Syarat itu mencakup turunnya harga minyak dunia, membaiknya arus modal masuk, serta langkah nyata Bank Indonesia dan pemerintah dalam meredam kekhawatiran terkait isu fiskal. Jika kondisi tersebut membaik, rupiah dinilai masih berpeluang kembali ke bawah Rp17.200 per dolar AS.

Dalam skenario yang lebih positif, Josua bahkan menyebut rupiah bisa bergerak bertahap menuju kisaran Rp16.800–Rp17.100 per dolar AS. Meski begitu, peluang itu masih sangat bergantung pada perbaikan kondisi eksternal dan domestik yang sampai saat ini belum terlihat stabil.

Tekanan juga terlihat di kurs bank

Gambaran pelemahan rupiah tidak hanya muncul di pasar spot, tetapi juga tercermin pada kurs perbankan nasional. Sejumlah bank besar memasang kurs jual di atas Rp17.300 per dolar AS, dengan selisih antara kurs online dan fisik yang masih cukup lebar.

Bank Mandiri mencatat kurs online Rp17.290 dan kurs fisik Rp17.370 per dolar AS. BNI dan BCA sama-sama menampilkan kurs online Rp17.385, sementara kurs fisik berada di Rp17.370 pada BNI dan Rp17.465 pada BCA.

CIMB Niaga juga mencatat kurs fisik Rp17.339 per dolar AS, meski data transaksi online tidak tercantum. Kondisi ini menunjukkan tekanan rupiah merembet ke layanan yang langsung diakses masyarakat dan pelaku usaha.

Pasar keuangan domestik kemudian bersiap memasuki jeda perdagangan karena tutup pada hari Jumat untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Dengan begitu, sesi Kamis menjadi penutup pekan yang masih dibayangi minyak, geopolitik, arah The Fed, dan kekhawatiran fiskal dalam negeri.

Exit mobile version