Bagi Beijing, perang di Iran bukan sekadar kabar dari Timur Tengah. Pertempuran yang terus berlangsung itu justru dipandang sebagai ajang uji nyata untuk membaca cara Amerika Serikat bertempur, terutama dalam bayangan skenario Taiwan.
Yang membuat situasinya menarik adalah campuran antara senjata murah dan senjata canggih di medan yang sama. Dari drone Shahed berbiaya rendah sampai serangan presisi dengan F-35, B-2, B-1, B-52, dan F-15, konflik itu memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh teknologi paling mahal.
Cermin bagi perang modern
Sejumlah pengamat di Tiongkok, Taiwan, dan negara lain menilai konflik di Iran memperlihatkan satu hal penting: kecanggihan tidak selalu menjamin hasil. Ketahanan pasokan, pengalaman tempur, dan kemampuan bertahan di bawah tekanan ikut menentukan arah perang.
Iran disebut mampu memanfaatkan drone murah dan rudal balistik berbiaya rendah untuk menembus sistem pertahanan udara Amerika di kawasan Teluk Persia. Di sisi lain, Amerika Serikat mengandalkan armada pesawat tempur dan amunisi berpemandu untuk menghancurkan target strategis.
Pola itu membuat perang di Iran dipandang sebagai laboratorium besar bagi militer dunia. Dari sana, banyak pihak mencoba membaca apakah sistem pertahanan, logistik, dan taktik yang ada masih sanggup menghadapi serangan yang terus berubah.
Apa yang dicermati Beijing
Mantan kolonel Angkatan Udara Tiongkok, Fu Qianshao, melihat pelajaran paling penting justru ada pada pertahanan dalam negeri. Ia menilai Iran berhasil menemukan celah dalam sistem pertahanan udara Amerika seperti Patriot dan THAAD.
Fu menekankan bahwa kelemahan pertahanan harus dipetakan secara serius. Menurut dia, lokasi penting, lapangan terbang, dan pelabuhan perlu dilindungi lebih kuat dari serangan mendadak.
Pembacaan seperti ini tidak lepas dari arah pengembangan militer Tiongkok sendiri. Tentara Pembebasan Rakyat atau PLA terus memperkuat kemampuan ofensif, termasuk rudal hipersonik yang dirancang untuk menghindari pencegat musuh dan jet siluman J-20 yang diproduksi lebih cepat.
Lembaga kajian pertahanan Inggris, Royal United Services Institute, bahkan memperkirakan Tiongkok dapat memiliki sekitar 1.000 unit J-20 untuk misi serangan presisi jarak jauh di masa depan. Selain itu, Beijing juga sedang mengembangkan pembom siluman jarak jauh dengan karakteristik mirip B-2 dan B-21 milik Amerika Serikat.
Taiwan masuk ke pusat hitungan
Di balik semua itu, Taiwan tetap menjadi titik yang paling sensitif. Pulau itu dipandang sebagai lokasi konflik paling mungkin antara Beijing dan Washington, karena Partai Komunis Tiongkok berulang kali menegaskan tekad untuk reunifikasi, termasuk melalui opsi militer jika dianggap perlu.
Karena itu, setiap pelajaran dari perang modern langsung ditarik ke kemungkinan konflik lintas Selat Taiwan. Analis Taiwan menilai Tiongkok kini menggabungkan kemampuan serangan presisi ala Amerika Serikat dengan taktik drone murah dalam skala besar seperti Iran.
Chieh Chung dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan menyebut roket jarak jauh dan kawanan drone akan memainkan peran kunci dalam operasi gabungan Tiongkok. Di saat yang sama, kemampuan industri Tiongkok juga ikut diperhitungkan karena negara itu merupakan produsen drone terbesar di dunia.
Laporan War on the Rocks pada 2025 menyebut produsen sipil Tiongkok dapat beralih memproduksi hingga satu miliar drone bersenjata per tahun dalam waktu kurang dari setahun. Namun, kapasitas sebesar itu tidak otomatis menjamin kemenangan di medan perang.
Kesiapan Taiwan dan pelajaran untuk Washington
Masalah serupa juga muncul di sisi Taiwan. Laporan lembaga pengawas pemerintah Taiwan menyebut sistem penangkal drone militernya saat ini tidak efektif dan menimbulkan risiko keamanan besar bagi infrastruktur strategis.
Direktur eksekutif produsen drone Taiwan, Thunder Tiger, Gene Su, menyerukan produksi massal yang berkelanjutan. Ia menekankan perlunya produksi tanpa henti untuk menghadapi lawan dalam skenario perang modern.
Amerika Serikat juga mencermati konsekuensi lain dari perang di Iran. Dalam kemungkinan konflik di Pasifik, Washington diperkirakan akan lebih menonjolkan strategi defensif, terutama jika harus menghadapi serangan drone dan rudal dalam jumlah besar.
Komandan Komando Indo-Pasifik AS, Laksamana Samuel John Paparo, sebelumnya menegaskan bahwa drone dapat membuat perang jauh lebih mahal bagi pihak penyerang. Dalam konteks Taiwan, drone bisa dipakai untuk menyerang kapal dan pesawat Tiongkok yang membawa pasukan PLA melintasi Selat Taiwan.
Pengalaman tempur masih jadi pembeda
Di atas semua perhitungan teknologi, ada satu faktor yang tetap sulit diabaikan, yaitu pengalaman perang nyata. PLA dinilai masih minim pengalaman dalam perang besar, dengan konflik terakhir yang melibatkan Tiongkok terjadi saat perang melawan Vietnam pada 1979.
Sebaliknya, militer Amerika Serikat sudah melalui operasi besar di Irak, Afghanistan, Kosovo, dan Panama. Perbedaan ini penting karena perang modern menuntut adaptasi cepat, koordinasi lintas matra, dan pengambilan keputusan di bawah tekanan.
Analis militer Tiongkok, Song Zongping, menyebut perang Iran sebagai gambaran perang modern yang sesungguhnya. Sementara itu, Drew Thompson dari Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Singapura mengingatkan bahwa pilot yang andal dengan pesawat biasa dapat mengalahkan pilot biasa dengan pesawat yang sangat bagus.
Pesan yang muncul dari konflik ini cukup jelas. Perang modern tidak hanya soal senjata paling canggih, tetapi juga soal celah pertahanan, ketahanan logistik, kemampuan bertahan, dan daya rusak konflik yang bisa meluas jauh melampaui medan tempur awal.
Source: mediaindonesia.com




