Ebola Menyebar Lagi di Kongo dan Uganda, WHO Naikkan Status Darurat Tertinggi

Status darurat internasional kembali melekat pada Ebola setelah wabah di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, dan Uganda memicu perhatian serius WHO. Langkah ini diambil ketika jumlah korban terus naik dan ratusan kasus suspek mulai tersebar di lapangan.

Di Ituri, WHO mencatat hingga 16 Mei 2026 ada delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, 246 kasus suspek, dan 80 kematian yang diduga terkait wabah. Kasus-kasus itu tersebar di sedikitnya tiga zona kesehatan utama, yaitu Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.

Ebola tetap dianggap berbahaya karena penularannya cepat dan dampaknya bisa fatal. Virus ini menyebar lewat kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, benda yang terkontaminasi, termasuk kontak dengan jenazah orang yang meninggal akibat infeksi Ebola.

Gejala awalnya sering tampak seperti penyakit biasa, mulai dari demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Pada sebagian pasien, kondisi dapat berkembang menjadi muntah, diare, nyeri perut, hingga pendarahan internal maupun eksternal.

Tingkat kematian Ebola sangat bervariasi antarwabah, dari 25% sampai 90%. Rata-rata fatalitasnya sekitar 50%, sehingga penanganan medis selalu menuntut perlindungan penuh bagi tenaga kesehatan dan lingkungan sekitar pasien.

Wabah lama yang belum benar-benar hilang

Virus Ebola pertama kali diidentifikasi pada 1976 di wilayah yang kini dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo. Nama Ebola diambil dari Sungai Ebola di Zaire, nama lama negara tersebut, saat wabah awal muncul hampir bersamaan di Sudan dan Zaire.

Wabah di Zaire tercatat sebagai salah satu yang paling mematikan. Dari 318 orang yang terinfeksi, 280 meninggal dunia, atau setara tingkat kematian 88,1%.

Penyebaran di Rumah Sakit Misi Yambuku kala itu juga memperlihatkan betapa praktik medis yang tidak memadai dapat mempercepat penularan. Peristiwa itu kemudian mendorong respons internasional besar dari WHO dan CDC.

Setelah kemunculan awal tersebut, Ebola terus muncul dalam berbagai wabah di Afrika Sub-Sahara. CDC mencatat kasus di sejumlah negara seperti Gabon, Uganda, dan Republik Demokratik Kongo pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an.

Pelajaran dari wabah terbesar

Ancaman Ebola mencapai skala terbesar dalam sejarah pada wabah di Afrika Barat antara Desember 2013 hingga Maret 2016. Total ada 28.652 kasus infeksi dan 11.325 kematian di 10 negara, dengan 99% korban berasal dari Guinea, Sierra Leone, dan Liberia.

Laporan The Lancet Global Health menyebut Kementerian Kesehatan Guinea melaporkan wabah itu kepada WHO pada 23 Maret 2014. Itu menjadi momen penting karena Ebola untuk pertama kalinya muncul di luar Kawasan Afrika Tengah.

Kasus indeks ditelusuri berasal dari seorang anak berusia 18 bulan di desa di Guinea selatan. Anak itu diduga terpapar setelah kontak dengan kelelawar pada Desember 2013, lalu wabah menyebar hingga ibu kota Guinea dan negara-negara tetangga.

Skala krisis tersebut memicu perubahan besar dalam kesiapsiagaan kesehatan dunia. WHO membentuk WHO Health Emergencies Programme pada 1 Juli 2016, sementara Africa CDC lahir setahun kemudian untuk memperkuat respons darurat kesehatan masyarakat di Afrika.

Perhatian kini tertuju ke varian Bundibugyo

Dalam perkembangan terbaru, perhatian juga tertuju pada Bundibugyo virus. Menurut CNN, ada enam spesies virus yang berkaitan dengan Ebola, tetapi hanya tiga yang paling sering memicu wabah besar, yakni Ebola virus, Sudan virus, dan Bundibugyo virus.

Bundibugyo tergolong varian yang baru dan jarang muncul. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk Bundibugyo virus, berbeda dengan Ebola-Zaire yang sudah memiliki terapi dan vaksin yang disetujui.

Kondisi itu membuat wabah lebih sulit dikendalikan, terutama jika penularan sudah meluas sebelum kasus diumumkan secara resmi. Karena itu, WHO mendorong pengawasan yang lebih ketat, termasuk isolasi kasus terkonfirmasi, skrining di perbatasan dan jalur transportasi utama, serta pengaktifan sistem manajemen darurat nasional.

WHO dan Africa CDC juga terus berkoordinasi lintas negara untuk mempercepat respons. Di kawasan dengan mobilitas penduduk tinggi, pelacakan kontak, pelibatan masyarakat, dan pemeriksaan dini menjadi kunci agar rantai penularan tidak meluas lebih jauh.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version