Bank Neo Commerce masih mampu mencatat laba bersih Rp136,98 miliar pada kuartal I/2026. Meski turun 14,36% dari Rp159,95 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, capaian ini menunjukkan bank digital tersebut tetap bertahan di tengah tekanan pada beberapa pos pendapatan.
Penopang utamanya masih datang dari efisiensi dan struktur pendanaan yang relatif kuat. Di saat pendapatan bunga serta pendapatan operasional lain sama-sama tertekan, Bank Neo Commerce atau BNC tetap menjaga fundamental bisnisnya agar tidak goyah.
Tekanan dari sisi bunga belum hilang
Pendapatan bunga BNC pada kuartal I/2026 tercatat Rp738,94 miliar. Angka itu turun 8,83% dibandingkan Rp810,44 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, beban bunga justru ikut turun menjadi Rp190,80 miliar dari Rp193,22 miliar. Kondisi ini membuat pendapatan bunga bersih masih bertahan di level Rp548,14 miliar, meski tetap lebih rendah daripada Rp617,23 miliar pada kuartal I/2025.
Artinya, penurunan beban bunga belum cukup untuk menutup pelemahan pendapatan bunga. Namun, kontribusi bisnis inti BNC masih terlihat solid, terutama karena bank tetap mampu menjaga margin dari aktivitas bunganya.
Rugi operasional menyempit, tetapi laba belum ikut terdorong
Di luar bisnis bunga, pos pendapatan dan beban operasional lainnya masih mencatat rugi Rp411,54 miliar. Meski tetap negatif, angka ini membaik 10,02% dari rugi Rp457,59 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan itu belum cukup kuat untuk mengangkat laba operasional secara lebih besar. Laba operasional BNC turun menjadi Rp136,60 miliar dari Rp159,64 miliar, sedangkan laba sebelum pajak ikut turun 14,50% menjadi Rp136,49 miliar.
Tekanan serupa juga terlihat pada laba komprehensif tahun berjalan yang hanya mencapai Rp74,08 miliar. Capaian itu merosot 57,10% dari Rp172,73 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga ruang kenaikan laba masih terasa terbatas pada awal tahun berjalan.
Neraca masih menunjukkan basis bisnis yang besar
Dari sisi aset, BNC membukukan total aset Rp18,35 triliun per 31 Maret 2026. Di saat yang sama, penyaluran kredit mencapai Rp7,03 triliun, yang menandakan fungsi intermediasi bank masih berjalan.
Dana pihak ketiga atau DPK tercatat Rp13,42 triliun. Komposisinya terdiri dari giro Rp566,97 miliar, tabungan Rp3,51 triliun, dan deposito Rp9,35 triliun.
Porsi dana murah atau CASA dari giro dan tabungan berada di level Rp4,07 triliun. Struktur ini memberi BNC bantalan pendanaan yang masih cukup kuat untuk mendukung operasional dan ekspansi bisnis digital.
Manajemen tetap menaruh efisiensi di garis depan
Direktur Utama BNC Eri Budiono menegaskan bahwa kinerja perseroan masih mencerminkan fundamental yang terjaga. Ia menyebut arah perusahaan tetap berfokus pada pertumbuhan berkualitas dengan prinsip kehati-hatian yang ketat.
“Kami terus menjaga pertumbuhan yang berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat model bisnis digital untuk mendukung kinerja berkelanjutan,” ujar Eri dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).
Pernyataan itu sejalan dengan kondisi BNC yang masih mengandalkan efisiensi sebagai penahan tekanan laba. Di tengah persaingan bank digital yang ketat, kemampuan menjaga biaya operasional dan memperkuat sumber dana murah menjadi elemen penting bagi daya tahan kinerja.
Transformasi bisnis masih jadi modal utama
Sebelumnya, BNC membukukan laba bersih Rp565,69 miliar sepanjang 2025. Capaian tersebut disebut sebagai hasil dari transformasi bisnis dan peningkatan efisiensi operasional yang berkelanjutan.
Modal dari kinerja tahun lalu itu masih menjadi pijakan bagi perseroan untuk memasuki awal tahun berjalan. Dengan total liabilitas Rp14,04 triliun dan ekuitas Rp4,30 triliun, ruang gerak BNC tetap tersedia selama pengendalian risiko dan disiplin efisiensi bisa dijaga.
Kinerja kuartal I/2026 memperlihatkan bahwa tekanan pada pendapatan bunga dan pos operasional lain masih belum reda. Namun, selama efisiensi tetap dijaga dan model bisnis digital terus diperkuat, BNC masih memiliki fondasi untuk mempertahankan profitabilitas di tengah kondisi yang menantang.
Source: finansial.bisnis.com