Ekspektasi Terlalu Tinggi Bikin Jurusan Favorit Terasa Mengecewakan Saat Kuliah Dimulai

Rasa menyesal karena jurusan kuliah ternyata tidak selalu muncul karena pilihan yang keliru. Dalam banyak kasus, yang lebih dulu runtuh justru bayangan indah yang keburu dibentuk sebelum masuk kampus.

Banyak siswa mengenal jurusan hanya dari citra luarnya. Psikologi sering dibayangkan seperti kemampuan membaca pikiran, sedangkan komunikasi kerap disederhanakan menjadi public speaking atau kerja sebagai content creator.

Begitu perkuliahan dimulai, gambaran itu cepat bertabrakan dengan kenyataan. Mahasiswa harus menghadapi teori yang banyak, tugas menumpuk, praktikum, laporan, dan mata kuliah yang jauh dari bayangan semula.

Di titik itu, kecewa sering dianggap sebagai tanda salah jurusan. Padahal, masalahnya kerap ada pada ekspektasi yang terlalu sempurna sejak masa SMA, bukan semata pada jurusan yang dipilih.

Minat juga tidak otomatis berarti siap menjalani ritme kuliah. Seseorang bisa sangat tertarik pada kedokteran, desain, menulis, atau teknologi, tetapi belum tentu kuat menghadapi proses belajarnya yang panjang dan melelahkan.

Beban kuliah sering datang dalam bentuk yang terus berulang. Jadwal padat, tekanan akademik, revisi, tenggat waktu, dan belajar sampai larut malam bisa mengikis semangat pelan-pelan.

Akibatnya, rasa suka yang awalnya besar bisa berubah menjadi lelah. Yang dicintai sering kali hanya hasil akhirnya, sementara proses panjang untuk sampai ke sana terasa jauh lebih berat dari yang dibayangkan.

Tekanan dari lingkungan juga ikut memperbesar rasa tidak puas. Banyak mahasiswa mulai meragukan pilihan sendiri saat melihat teman lain tampak lebih santai atau terlihat punya arah karier yang lebih jelas.

Media sosial membuat perasaan itu makin kuat. Melihat teman magang di perusahaan keren, teman lain sudah bekerja lepas dengan bayaran besar, atau orang lain tampak sangat menikmati kuliah bisa memunculkan rasa tertinggal.

Dari sana, muncul pikiran bahwa jurusan sendiri mungkin salah dipilih. Padahal, setiap jurusan punya tantangan masing-masing, hanya bentuk tekanannya yang berbeda.

Peralihan dari SMA ke kampus sering jadi fase paling berat. Di sekolah, siswa terbiasa dengan sistem yang jelas dan terarah, sedangkan di kampus mahasiswa dituntut lebih mandiri dan aktif mencari materi sendiri.

Perubahan cara belajar ini kerap mengejutkan. Adaptasi terhadap ritme kuliah bisa terasa lebih berat daripada isi jurusannya sendiri, apalagi kalau lingkungan belajar tidak terasa hangat.

Ada mahasiswa yang harus menghadapi dosen yang dianggap galak, tugas kelompok yang melelahkan, persaingan akademik, dan rasa kesepian karena sulit menemukan teman yang cocok. Kombinasi itu bisa membuat jurusan yang sebenarnya sesuai minat terasa tidak nyaman dijalani.

Citra keren juga sering menipu pilihan. Sebagian jurusan dipilih karena dianggap bergengsi, pintar, atau menjanjikan masa depan cerah, sehingga perhatian lebih banyak tertuju pada statusnya daripada isi kuliahnya.

Awalnya, label seperti itu memang memberi validasi dari luar. Namun ketika kebanggaan itu mulai pudar, pertanyaan yang lebih jujur muncul: jurusan tersebut benar-benar disukai, atau hanya terlihat bagus di mata orang lain?

Pertanyaan semacam itu sering datang terlambat, setelah mahasiswa terlanjur masuk dan menjalani rutinitas kuliah. Di fase itulah rasa menyesal kerap muncul, bukan karena jurusannya pasti salah, melainkan karena jurusan impian ternyata tidak selalu seindah yang dibayangkan.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version