pelantar.id – Pemerintah Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau menggelar Festival Lampu Cangkok antardesa dan kelurahan selama Ramadan 1439/2018. Festival ini sebagai upaya menjaga tradisi masyarakat Melayu Bintan di bulan puasa.

Bupati Bintan Apri Sujadi telah menginstruksikan para camat, lurah dan kepala desa se-Bintan untuk bersama-sama menghidupkan kembali tradisi tersebut.

“Tradisi lampu cangkok ini adalah ciri khas Melayu kita, harus tetap kita jaga dan pertahankan nilai-nilainya agar tak hilang ditelan zaman,” katanya.

Apri mengajak para camat, lurah dan kepala desa beserta jajarannya menghidupkan lampu pelita di sepanjang jalan menuju jalan-jalan desa, khususnya ke rumah ibadah, masjid dan musala.

Festival ini akan memperebutkan Piala Bergilir Bupati Bintan. Tentang teknis pelaksanaan dan penilaiannya, menurut Apri akan disampaikan pada Forum Rapat Koordinasi Kepala Desa/Lurah yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Baca Juga :   Adele Kini Tampak Langsing, Apa Rahasianya?

“Penilaiannya rencana akan dimulai pada 17 Ramadan sampai akhir Ramadan. Nanti disampaikan dalam rakor kades/lurah tersebut,” katanya.

Bupati Bintan Apri Sujadi bersama istri, Deby membawa lampu cangkok, di Desa Air Glubi, Kecamatan Bintan Pesisir, beberapa waktu lalu. Foto: Humas Pemkab Bintan

Ungkapan Syukur
Festival Lampu Cangkok bukan sekadar menjaga tradisi agar tak lekang dimakan waktu, namun juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas datangnya bulan suci Ramadan.

Lampu cangkok sebenarnya adalah nama yang diberikan masyarakat setempat untuk lampu atau pelita. Di daerah lain, lazim pula disebut dengan lampu obor.

Lampu ini, dari bentuk fisiknya memang terlihat sangat tradisional karena terbuat dari bahan-bahan kaleng, bambu, botol dan sejenisnya, dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Lampu cangkok yang sudah jadi, kemudian ditempatkan berderet di sepanjang jalan desa hingga di depan rumah ibadah.

Baca Juga :   Begini Cara Jepang Paksa Warga Naik Angkutan Umum

Tujuan awalnya, adalah untuk memberi penerangan bagi siapa saja yang ingin beribadah hingga larut malam pada bulan suci Ramadan. Namun di sebalik itu, keberadaan lampu cangkok juga memberi keunikan tersendiri.

Suasana perkampungan menjadi lebih hidup dan semarak, terang-benderang dengan lampu berbagai ornamen. Bukan hanya menerangi jalan ke rumah ibadah, masyarakat juga memenuhi pekarangan rumah dengan lampu cangkok.

Lampu-lampu yang dibuat pun semakin banyak variasinya. Ada yang menyerupai bulan, bintang, hingga bangunan masjid. Untuk mendapatkan bentuk-bentuk tersebut, terlebih dahulu harus dibuatkan rangkanya. Bisa dari bambu, kain, dan lainnya yang dirangkai sedemikian rupa hingga tercapai motif atau bentuk yang diinginkan.

Tradisi Lampu Cangkok, sudah menanamkan ingatan yang kuat bagi anak-anak Bintan di masa lampau. Hal inilah yang diharapkan Apri Sujadi. Ia ingin, generasi muda tidak lupa dengan warisan Melayu yang penuh dengan nuansa Islami ini di masa depan.

Editor: Yuri B Trisna