Penulis: H.M Chaniago

Festival Pasar Rame kembali hadir di Kota Batam, 7-8 September 2019. Dalam gelaran kedelapan di Imperium Batam, Festival Pasar Rame tetap mengusung spirit Do It Yourself (D.I.Y).

Bagi penyelenggara, D.I.Y ini bermakna cukup besar dalam membentuk kepribadian secara personal maupun lingkup komunitas.

Di tengah menjamurnya industri kreatif, manajemen Pasar Rame melalui Samadengan Production yang dimotori oleh pasangan suami-istri, Dadang dan Anggrek mengatakan, konsep itu terus diterapkan setiap insan kreatif untuk mengembangkan dan menggali segala lini kreatifitas yang dimiliki.

Menurut mereka, melalui Festival Pasar Rame setiap insan kreatif Kota Batam bisa menyalurkan segala kreasinya, agar bisa dipasarkan atau dinikmati oleh khalayak umum tanpa harus terpaut monopoli atau aturan baku dari sisi satu pihak/perusahaan semata.

“Karena di sini kami sediakan wadahnya, sementara mereka bebas berkreasi dan menampilan hasil dari kreasi itu sendiri,” ujar Dadang ketika diwawancara Pelantar.ID di lokasi kegiatan, Imperium Superblock, Taman Baloi, Batam Center. Sabtu (7/9).

Sebagai pengunjung, kita tidak hanya diajak untuk melanjutkan lajur budaya konsumtif yang terus menjamur di kalangan masyarakat, meski kita dimanjakan dengan aneka jajanan pasar di zona culynary dan tatanan produk-produk clothingan yang menggiur hasrat konsumtif, manajemen Samadengan Production juga turut menyajikan beragam workshops creative sebagai cakrawala pembuka ide agar kita tidak hanya menjadi pembeli semata.

“Harapan kami ketika pengunjung datang ke Pasar Rame, terlepas mereka membeli atau tidak, setidaknya ada pemikiran yang bisa mereka bawa pulang ketika selesai jalan-jalan di festival. Ini lo dunia kreatif, ternyata asyik, kita berkarya sendiri dan memasarkannya dengan kepuasan yang kita miliki tanpa terpaut aturan baku tertentu,” terang Dadang.

Sementara itu dari sisi tenants atau partisipan insan kreatif di Pasar Rame, Dadang mengatakan target stand tenants yang mereka patok 100 persen tercapai. Untuk zona creative total 88 stand yang disediakan langsung disikat oleh tenants. Hal yang sama juga di zona culinary, total 88 stand yang tersedia langsung ludes 3 hari pasca open space.

Baca Juga :   Pemko Batam Lindungi Tenaga Kerja Non ASN

“Jumlah tenants yang memesan stand meningkat, 3 hari kita open space semua langsung sold out. Bahkan ada yang konsisten ikut dari Pasar Rame pertama hingga sekarang, 60 persen tenants ada yang dari pegelaran awal,” ungkapnya dengan senang.

Sementara itu untuk menambah daya tarik pengunjung, Samadengan Production turut memberikan hiburan berupa perform musik dan unsur edukatif berupa beberapa mini workshops di antaranya; Workshop Main Cahaya oleh Kokang Lensa dari Pekanbaru. Workshop ini menyajikan ulasan-ulasan dari sisi kreatifitas dunia fotografi.

Kemudian juga ada workshop RRRAUNGGG “Suara Lantang Lokalitas” yang diisi oleh beberapa narasumber lokal dengan fokus utama pembahasan adalah isu kreatifitas remaja di lingkup dunia permusikan dan segala tetek bengeknya.

Workshop ini sendiri diisi oleh pedagang musik Mario Corex (Demajors Batam), pemusik Ganjar Perdana (Hope/Midnight Clay/Optional Words/Room Temperature/Senandika), dan Gustian Alamsyah (Raja Kapoor).

Selain itu di sisi penampilan musik, gelaran kali ini Pasar Rame diisi oleh Midnight Clay, Mafia Kondang, Sunshy Peach, dan Elfin.

Plastik yang Merusak Lingkungan, Perlahan dan Pelik.

Hal menarik lainnya, di gelaran Pasar Rame VIII ini, turut menghadirkan agenda sadar lingkungan melalui Kampanye Plastik yang digelar oleh sosok bernama Laxban, pria gondrong yang juga vokalis dari band bernama Mafia Kondang ini mengambil tempat dalam talkshow-nya yang mengangkat isu tentang sampah plastik.

Perihal ini kita semua pasti memahami, plastik di era-milenium ke-3 adalah momok yang menakutkan. Menjamurnya budaya konsumtif dan ketakpedulian akan lingkungan atau kurangnya empati terhadap alam membuat plastik begitu merajalela.

Dari lini kehidupan baik sektoral perkotaan maupun pedesaan, plastik menjadi hal yang lumrah, konsumsi utama/pelengkap dari sekian jajanan dan produk yang kita beli.

Mengutip United Nations Environment Program (UNEP) berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2015 silam, sekitar 200 juta ton lebih plastik diproduksi secara masif dan banyak dari plastik itu berakhir di lautan.

Baca Juga :   Natuna dan Obsesi China di Laut China Selatan

Kebayang gak, jika hal ini terus dibiarkan laut dunia akan seperti apa? Ekosistim lautnya, ikan, penyu, dan biota lainnya yang beberapanya kita konsumsi di meja makan, apakah masih sehat?

Bahkan Jenna Romness Jambeck, peneliti yang pernah memenangkan beragam penghargaan lingkungan, dan juga seorang professor madya dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, dalam sebuah penelitiannya di tahun 2015 silam menghasilkan data bahwa Indonesia berada di urutan ke-2 negara penghasil sampah plastik terbesar di lautan setelah China.

Sementara itu, melalui talkshow “Kampanye Plastik”, Laxban menampilkan narasi awal kampanyenya dengan memutar sebuah video dokumentar berjudul Pulau Plastik karya Robi Navicula.

Frontman band asal Pulau Dewata Bali ini mencoba menggugah prilaku konsumtif kita akan plastik, menampilkan dampak buruknya terhadap lingkungan, terutama lingkungan laut yang semakin tercemar.

Dalam film itu disebutkan hasil penelitian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Soegijapranata mengambil sampel ikan belanak yang terkontaminasi oleh sampah plastik.

Disebutkan juga bahwa air laut serta sedimennya terbukti mengandung 4 jenis tipe mikroplastik, yakni fiber, fragmen, film, dan monofilament di tubuh ikan yang kemudian akan kita konsumsi kembali.

Jadi, masihkah kita ingin terus memupuk ketidakpedulian akan bahaya plastik yang tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga nasib laut bagi anak cucuk kita ke depannya? Karena saat ini Batam juga tengah diserbu oleh industri daur ulang sampah limbah plastik yang motori oleh pelaku industri di pulau Batam sendiri.

Di akhir talkshownya, Laxban pun mengajak para pengunjung untuk mulai beralih menggunakan bahan lain sebagai pengganti plastik, seperti membawa tas belanja sendiri atau tote bag, beralih dari sedotan plastik menuju bambu atau lainnya.

“Ayo mari, demi kehidupan yang lebih baik, seharusnya kita bisa,” ajaknya dipenghujung acara.

Plastik terus bergerilya dikehidupan, yang merusak lingkungan perlahan dan peliknya, masihkah kita akan terus memupuk rasa ketidakpedulian dengan pola pikir yang sempit?