Arema FC tidak hanya menang 3-1 atas PSIM Yogyakarta di Stadion Kanjuruhan, tetapi juga menunjukkan cara bermain yang membuat tim tamu kesulitan sejak awal. Gol cepat di menit kedua langsung mengubah arah pertandingan dan memaksa PSIM bekerja dalam situasi yang tidak nyaman hampir sepanjang laga.
Jean Paul van Gastel menilai persoalan utama timnya ada pada fokus yang hilang sejak menit awal. Ia melihat PSIM terlalu mudah tertekan karena tidak tampil disiplin pada babak pertama, sehingga kesalahan sendiri justru memberi ruang bagi Arema untuk bermain lebih efektif.
Arema membuka pertandingan dengan intensitas tinggi dan langsung mendapatkan hasil dari serangan yang dibangun melalui aksi individu Dalberto Luan di jantung pertahanan PSIM. Bola kemudian diarahkan kepada Joel Vinicius yang menuntaskannya menjadi gol pembuka.
Keunggulan cepat itu membuat PSIM harus mengubah pendekatan lebih awal. Namun, Arema tetap mampu mengontrol jalannya permainan sampai turun minum dengan cara yang menurut Van Gastel cukup cerdik.
Pelatih asal Belanda itu juga menyoroti keunggulan fisik para pemain Arema yang membuat lawan terus berada di bawah tekanan. PSIM pun kesulitan keluar dari tekanan dan tidak leluasa membangun serangan dari belakang.
Masuk ke babak kedua, Van Gastel mencoba mengubah taktik dari ruang ganti agar PSIM bisa lebih ofensif. Perubahan itu sempat memberi harapan ketika Deri Corfe mencetak gol pada menit ke-52 dan memangkas ketertinggalan menjadi 2-1.
Namun, momentum PSIM tidak bertahan lama karena Arema lebih dulu menambah keunggulan lewat gol Dalberto Luan pada menit ke-48. Situasi itu membuat tim tamu tetap kesulitan mengendalikan tempo pertandingan meski sudah mencoba merespons.
Efektivitas Arema menjadi pembeda lain dalam laga ini. Setiap kesalahan kecil dari PSIM langsung dimanfaatkan dengan cepat, dan itulah yang membuat tuan rumah tampil lebih tajam ketika peluang datang.
Puncaknya terjadi pada menit ke-88 saat Valdeci Moreira memastikan kemenangan 3-1 lewat sepakan jarak jauh yang melengkung dan gagal diantisipasi kiper PSIM, Cahya Supriadi. Gol itu menutup laga dengan keunggulan nyaman bagi Arema sekaligus menegaskan konsistensi mereka sampai akhir pertandingan.
Bagi Van Gastel, hasil ini juga berkaitan dengan karakter kompetisi kasta tertinggi Indonesia yang menuntut kesiapan penuh. Ia menilai banyak tim memakai pendekatan low block dan transisi cepat, sehingga tim yang ingin menguasai bola harus lebih rapi dan lebih fokus.
Pelatih yang pernah menjadi asisten di Feyenoord itu menambahkan bahwa persaingan liga sangat ketat karena tim-tim papan bawah pun bisa menyulitkan siapa saja. Karena itu, kekalahan dari Arema menjadi pelajaran penting bagi PSIM untuk menjaga konsentrasi, memperbaiki koordinasi lini belakang, dan mengurangi kesalahan sendiri sejak awal laga.
Source: mediaindonesia.com