Pelantar. id- Penghujung tahun 2018 bencana tak kunjung berhenti melanda Indonesia. Petaka mengejutkan datang dari daerah Anyer, Banten. Tsunami menerjang beberapa daerah di sekitar Selat Sunda itu pada Sabtu, 22 Desember 2018, sekitar pukul 21.00 WIB.

Seperti yang diberitkan liputan6.com, puluhan orang meninggal dunia akibat bencana ini.

Menurut data BNPB, hingga hari ini pukul 07.00 WIB tadi, ada 43 orang meninggal dunia. Sementara ratusan orang mengalami luka-luka.

Kejadian ini sangat mengejutkan karena banyaknya korban yang jatuh dalam kejadian itu tanpa adanya peringatan dini dari BMKG.

Pihak BMKG segera mengkonfirmasi penyebab bencana tersebut. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menegaskan tsunami yang terjadi di Selat Sunda akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kejadian ini bukan karena gempa bumi.

Baca Juga :   WALHI: Pengkhianatan terhadap Rakyat pada Pengesahan RUU Cipta Kerja

“Untuk kasus tsunami akibat Gunung Anak Krakatau belum ada peringatan dini. Yang ada peringatan dini akibat gempa bumi tektonik,” ujar Triyono di Gedung BMKG, Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Dia menambahkan, kejadian ini sudah pernah terjadi pada 1983. Saat itu, Gunung Krakatau meletus hingga menimbulkan bencana besar.

“Kalau gunung ada di laut dampaknya seperti itu, pada 1983 Krakatau meletus dampaknya luar biasa. Ini terjadi tidak separah tahun itu,” ucap dia.

Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat yang berlibur agar tidak bermain di pantai Selat Sunda. Sebab aktivitas gunung Anak Krakatau masih dalam status waspada.

“Penigkatan vulkanik Gunung Anak Krakatau, harus lebih waspada. Ada dampak yang ditimbulkan, seperti tsunami yang siginifikan,” ucap dia.

Baca Juga :   Antisipasi Berita Hoax, Google dan AJI Gelar Training di Batam

===============
sumber: liputan6.com

foto: idntimes