Penulis: H.M Chaniago

Terkadang ada hal yang tak pernah kita rencanakan, namun terkesan asyik untuk terus dilanjutkan

Pelantar.id – Aku tak terlalu mengenal Gogo, saat bertemu kami hanya saling sapa dan berbalas senyum sekadar saja. Namun Fadli dan Indra, aku cukup mengenalnya karena pernah ngobrol panjang lebar dari hal cuai hingga muskil dipikiran.

Sementara dua orang lagi, Ponco dan Roma bagiku pria baik-baik yang menjadi korban birahi musiknya Fadli untuk bergabung dalam Gogo and the Indies Boys. Tapi kalau boleh jujur, pernyataan di kalimat ini hanyalah akal-akalanku saja untuk membuka narasi awal menuliskan ulasan musik sederhana tentang mereka.

Gogo and the Indies Boys adalah unit alternatif rock asli Batam, beranggotakan Gogo (Rissau), Fadli Tarigan (Gan-Gan Noise/Hope), Indra Amd (Shut the Silent) Ponco (Optional Words), dan Roma (Raja Kapor).

Panggung pertama Gogo dan kawan-kawan adalah Home of the Underground Loka Suara, kebetulan saat itu mereka menjadi band pertama yang membuka panggung musik atas kedatangan unit band negeri tetangga, lotion dan Kranky Doodles.

Baca Juga :   Bebas Murni hingga Berganti Nama, Masih Ingatkah Anda dengan Lidya Pratiwi?

Sementara panggung selanjutnya adalah Samadengan art space, berhubungan panggung pertama mereka saya datangnya telat dan ketinggalan aksi liarnya Fadli, maka di panggung kedua ini saya benar-benar bisa menyaksikan nostalgia sederhana akan musik alternatif 90’an.

Seolah-olah snow ball effect dari kemunculan Rissau dan Midnight Clay, bagi saya Gogo and the Indies Boys sepertinya telah siap siaga sedari awal untuk berkutat dalam pusaran musik alternatif Batam.

Dua lagu malam itu mereka nyanyikan, seingat saya. Yakni berjudul My Mess dan In The Cage. Lagu pertama di awali dengan suara noise yang akan membuat kita bergumam, “Fad, udahlah… Kau mau ngapain sih?”.

Bayangan-bayangan menyebalkan sebenarnya bisa saja bermunculan, namun tidak ketika musik mereka resmi dimainkan. Berdasarkan analisis gembel saya tentang musik, terutama ketika In The Cage dinyanyikan. Bebunyian gitar dan tetabuhan drum langsung mengingatkan saya akan The Smashing Pumpkins.

Baca Juga :   Nasib Anak Saksi Yehova antara Hormat Bendera dan Mengikuti Kepercayaan Orangtua

Sementara ketika suara Indra Amd selaku vokalis terdengar, semakin mempertebal keyakinan saya “wah ini memorabilia rasa baru”, alhasil rasa suntuk sepajang hari yang saya rasakan seketika hilang sesaat.

Nuansa-nuansa musik alternatif 90’an membaur dengan rona surf dan seatle sound di telinga, saya pikir band ini harusnya terus bermain lebih dalam lagi, setidaknya hingga satu album atau EP tercipta.

Sayangnya sembari tertawa atau memang ingin melawak, di akhir penampilan Fadli berucap, “Ini panggung terakhir kita ya” diikuti tawa-tawa liar di sekitar. Saya pribadi tidak terlalu peduli mereka memilih bubar atau tidak, namun sayang saja musik asyik seperti ini mereka hentikan.

Setidaknya bubar nama saja udahlah, lalu di panggung selanjutnya mungkin beberapa bulan lagi terdengar MC berkata, “Kita sambut, Fadli and the Playboys”, hingga pusaran alternatif itu pun terus berkumandang. “Semoga saja boys”.

Link Bandcamp: Gogo

Foto: Dokumentasi Edy Nst