Gugatan Kecanduan Media Sosial Mulai Runtuh, Kini Meta dan TikTok Jadi Sorotan Utama

Tekanan hukum terhadap raksasa media sosial kembali menguat setelah Snap dan YouTube memilih berdamai dalam salah satu perkara paling disorot soal kecanduan media sosial. Langkah itu muncul hanya beberapa minggu sebelum persidangan dimulai dan langsung membuat perhatian bergeser ke Meta dan TikTok yang masih berada dalam gugatan yang sama.

Yang membuat perkara ini menonjol bukan cuma nama besar para tergugatnya, tetapi juga posisi kasusnya sebagai salah satu gugatan awal yang benar-benar siap dibawa ke pengadilan. Gugatan itu diajukan oleh distrik sekolah di Kentucky, Amerika Serikat, yang menilai sejumlah platform media sosial berdampak buruk pada kesehatan mental dan perilaku pelajar.

Snap dan YouTube memilih jalur damai

Detail kesepakatan antara Snap, YouTube, dan pihak penggugat belum dibuka ke publik. Nilai penyelesaiannya juga tidak diumumkan, sehingga publik belum bisa melihat sejauh mana kesepakatan itu mengubah posisi masing-masing pihak.

YouTube mengatakan kepada Bloomberg bahwa gugatan terhadap platformnya telah diselesaikan secara damai. Perusahaan itu juga menegaskan akan terus mengembangkan produk yang lebih sesuai untuk usia pengguna, terutama remaja dan anak-anak.

Snap mengambil sikap serupa. Induk Snapchat itu menyampaikan bahwa penyelesaian dilakukan secara damai, tetapi tidak membuka rincian lebih lanjut.

Sorotan kini berpindah ke Meta dan TikTok

Perkara Kentucky tidak berhenti pada dua perusahaan tersebut. Meta dan TikTok juga ikut digugat dalam kasus yang sama, dan hingga kini belum ada informasi apakah keduanya sudah mencapai kesepakatan atau masih akan melanjutkan proses hukum.

Sidang perkara itu dijadwalkan berlangsung bulan depan di Oakland, California. Karena Snap dan YouTube sudah lebih dulu berdamai, muncul pertanyaan apakah Meta dan TikTok akan mengambil langkah yang sama sebelum perkara masuk ruang sidang.

Bagi banyak pengamat, kelanjutan kasus ini penting karena hasil akhirnya bisa ikut memengaruhi arah sengketa hukum lain yang menyinggung platform digital. Perhatian publik pun makin besar karena dua nama yang tersisa masih berada di pusat gugatan yang berpotensi jadi acuan untuk perkara serupa di masa depan.

Kecanduan media sosial jadi tekanan yang makin serius

Isu kecanduan media sosial bukan perkara baru. Banyak pihak menilai algoritma platform digital sengaja dirancang agar pengguna bertahan lebih lama di aplikasi, dan kekhawatiran itu terus diarahkan ke dampaknya pada kesehatan mental, fokus belajar, dan pola sosial anak muda.

Penggunaan media sosial di kalangan remaja juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi itu membuat sekolah, orang tua, hingga pemerintah semakin sering menempuh jalur hukum terhadap perusahaan teknologi besar.

Snap sendiri bukan kali ini saja berhadapan dengan perkara serupa. Pada awal tahun 2026, perusahaan itu juga diketahui telah menyelesaikan gugatan besar terkait kecanduan media sosial di Los Angeles.

Dalam kasus Los Angeles, juri justru menyatakan Meta dan YouTube bersalah atas tuduhan yang berkaitan dengan kecanduan media sosial. Saat itu, Meta sempat berargumen bahwa kecanduan media sosial bukan kondisi nyata seperti bentuk kecanduan lainnya.

Dampaknya bisa sampai ke cara platform dirancang

Rangkaian perkara seperti ini dinilai bisa mendorong perubahan pada cara perusahaan teknologi membangun layanan mereka. Tekanan hukum yang meningkat berpotensi membuat platform media sosial menyiapkan fitur pembatas penggunaan, kontrol orang tua, dan perlindungan usia yang lebih ketat.

Meta sendiri juga baru menghadapi perkara lain terkait keamanan pengguna di New Mexico. Dalam kasus itu, perusahaan dijatuhi denda 375 juta dolar AS.

Dengan sederet gugatan yang masih berjalan di berbagai wilayah Amerika Serikat, termasuk New York dan Seattle, langkah damai Snap dan YouTube belum membuat tekanan hukum mereda. Justru dari sana terlihat bahwa industri media sosial masih harus menghadapi fase hukum yang makin menentukan.

Source: www.gadgetdiva.id

Baca Juga

Back to top button