Gula Darah Tinggi Bikin Penderita Diabetes Lebih Rentan Infeksi Hantavirus, Dokter Ingatkan Batas Aman

Kadar gula darah yang tidak terjaga membuat penderita diabetes berada dalam posisi yang lebih rawan saat tubuh berhadapan dengan infeksi. Karena itu, peringatan soal hantavirus ikut menyorot pentingnya kontrol gula darah, terutama ketika publik sedang memperhatikan dugaan wabah di kapal ekspedisi MV Hondius yang disebut menewaskan tiga orang.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Bekasi, dr. Melisa Diah Puspitasari, Sp.PD, menjelaskan bahwa pasien diabetes memang lebih rentan terhadap berbagai infeksi. Menurut dia, kondisi gula darah tinggi dapat memberi peluang lebih besar bagi virus dan mikroorganisme lain untuk bertahan di dalam tubuh.

Dalam acara senam dan talkshow Diabetes Connection Care di Bekasi, Jawa Barat, Minggu (10/5/2026), dr. Melisa menuturkan bahwa gula menjadi “makanan” bagi virus, bakteri, parasit, dan jamur. Ia juga menyebut virus cenderung lebih menyukai kondisi tubuh yang sedang berada dalam gula darah tinggi.

Karena itu, pasien diabetes yang kadar gulanya terkontrol dinilai lebih kuat menghadapi infeksi. Sebaliknya, saat gula darah tetap tinggi, tubuh berada dalam kondisi yang lebih mendukung pertumbuhan kuman dan membuat infeksi lebih mudah berkembang.

Batas gula darah yang perlu diperhatikan

Bagi pasien yang merasa gula darahnya belum stabil, dr. Melisa menyarankan agar segera berkonsultasi ke dokter. Ia menyebut gula darah puasa idealnya berada di kisaran minimal 80 hingga 130 mg/dL.

Ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan gula darah dua jam setelah makan. Jika hasilnya masih di atas 180, pasien diminta segera kontrol supaya kondisi tidak terus memburuk.

Gula darah puasa sendiri adalah pemeriksaan kadar glukosa dalam darah sebelum makan atau minum, kecuali air putih, selama 8 sampai 12 jam. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada pagi hari setelah tidur malam sekitar delapan jam.

Kekhawatiran terhadap hantavirus

Peringatan soal diabetes ini menguat di tengah sorotan terhadap hantavirus, termasuk strain Andes yang disebut berpotensi menyebar. Karena itu, menjaga gula darah agar tidak melonjak dipandang sebagai langkah penting untuk membantu tubuh tetap lebih siap menghadapi infeksi.

Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, DTM&H, MCTM(TP), menjelaskan bahwa andes virus dan hantavirus masih berada dalam satu keluarga virus RNA. Keduanya sama-sama ditularkan oleh hewan pengerat seperti tikus, tetapi pola penularannya tidak sama.

Prof. Dominicus menegaskan hantavirus tidak menular antarmanusia, sedangkan andes virus bisa menular dari orang ke orang. Ia juga menambahkan bahwa andes virus tidak ada di Indonesia.

Sorotan terhadap virus ini semakin besar setelah WHO melaporkan dugaan infeksi wabah hantavirus di sebuah kapal pesiar di Samudra Atlantik pada 3 Mei 2026. Dalam unggahan di X, WHO menyebut satu kasus telah terkonfirmasi lewat pemeriksaan laboratorium, lima kasus lainnya masih dugaan, tiga orang meninggal dunia, dan satu pasien dirawat intensif di Afrika Selatan.

Di tengah situasi itu, pesan utama para dokter tetap sama: penderita diabetes perlu menjaga kadar gula darah agar tidak terus tinggi. Langkah itu penting supaya tubuh tidak berada dalam kondisi yang lebih rentan saat menghadapi virus maupun bakteri.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button