pelantar.id – Gunung Anak Krakatau meletus lagi. Letusan yang terjadi sejak Kamis (23/8) pukul 18.10 kemarin, menghasilkan tinggi kolom abu hinga 700 meter dari puncak gunung tersebut.

Kolom abu hasil erupsi saat itu teramati berwarna hitam tebal, condong ke arah timur laut. Seismogram di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau merekam erupsi tersebut dengan amplitudo 27 milimeter, dan durasi berkisar 31 detik.

Suara dentuman erupsi itu terdengar hingga Pos Pengangamatan Anak Krakatu di Pasauran, Banten, yang berjarak 42 kilometer dari gunung tersebut. Getaran akibat letusan itu terasa lemah di Pos Pengamatan Gunung tersebut.

“Masih fluktuatif. Aktivitasnya seperti itu. Saat ini (kolom abu erupsi yang dihasilkan) antara 300 meter, 500 meter, 700 meter, turun lagi,” kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kristianto, Jumat (24/8).

Kristianto mengatakan, PVMBG masih mematok status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Level II (Waspada). Rekomendasinya masih sama, agar tidak mendekati Pulau Anak Krakatau dalam jarak yang kita rekomendasikan dalam radius 2 kilometer.

Menurut dia, aktivitas kegempaan masih terekam di Gunung Anak Krakatau. PVMBG melansir aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai mengalami peningkatan intensitas terhitung sejak 18 Juni 2018 lalu dengan terekam peningkatan gempa vulkanik dan tektonik, serta gempa tremor menerus dengan amplitudo 1-21 milimeter.

Baca Juga :   Jadi Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi Diminta Mundur dari PSSI

Pada 19 Juni 2018 terjadi peningkatan gempa hembusan yang asalnya sehari sekali menjadi 69 kali kejadian. Di hari itu terekam juga gempa low frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari, serta gempa tremor menerus dengan amplitod 1-14 meter.

Peningkatan intensitas gempa juga terekam di hari-hari selanjutnya. Aktivitas kegempaan yang terekam peralatan didominiasi gempa vulkanik dangkal, gempa vulkanik dalam, gempa hembusan, gempa tektonik lokal, dan gempa tektonik jauh. Umumnya visual puncak Gunung Anak Krakatau kerap tertutp kabut.

Kendati demikian sempat teramati kolom asap tipis berwarna kelabu dari kawah utama dengan ketinggian 25-100 meter.  Jumat (24/8),  teramati kolom tinggi kolom asap tipis mencapai ketinggian 50 meter dari puncaknya.

Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap dari kalderanya di Selat Sunda, 20 April 2015. Setiap bulannya, gunung ini mengalami peninggian kurang lebih 20 inci. Saat ini pertumbuhannya sudah mencapai ketinggian sekitar 230 meter dari permukaan laut.
(Foto:Tempo/Dian Triyuli Handoko)

Dalam sebulan terakhir, PVMBG memutuskan memperlebar areal daerah terlarang untuk dimasuki di seputaran Gunung Anak Krakatau, dari radius 1 kilometer menjadi 2 kilometer. Sebab, teramati sejumlah lontaran material pijar letusan gunung itu sudah mencapai bibir pantai Pulau Anak Krakatau.

Baca Juga :   KPK Beri Hadiah untuk Pelapor Kasus Korupsi

“Material pijar itu kalau di foto dengan kamera kecepatan rendah bisa di trace jatuhnya kemana. Ini ada yang sudah mencapai pantai,” kata Kristianto.

Ia mengatakan, beberapa bulan terakhir terindikasi terjadi peningkatan suply magma Gunung Anak Krakatau. Material pijar yang terlontar akibat letusan strombolian, yang menjadi ciri khas gunung itu, asalnya hanya terlontar seputaran kawah gunung itu, kini terpantau sudah mencapai garis pantai.

Pengamatan Gunung Anak Krakatau kini dilakukan intens di Pos Pengamatan di Pasauran, Banten, yang berjarak 42 kilometer dari gunung itu. Letusan strombolian yang mirip kembang api itu bisa telihat jelas di malam hari dari pos tersebut.

Kristianto khawatir dengan kebiasaan wisatawan dan nelayan yang kerap nekat mendarat ke Pulau Gunung Anak Krakatau di tengah kemungkinan lontaran material letusan gunung yang jangkauannya lebih jauh dari biasanya.

“Sekarang banyak wisatawan yang masuk pulau. Cuma berangkat dari peningkatan aktivitasnya itu dengan adanya letusan menerus makanya kita naikkan radiusnya dari 1 kilometer jadi 2 kilometer,” ujarnya.

 

Editor : Yuri B Trisna
Sumber : Tempo.co