Gus Salam Sebut Relawan GSF Tak Layak Ditahan, Dorong Dunia Hukum Israel Dengan Boikot

Seruan boikot terhadap Israel kembali menguat setelah Gus Salam menyoroti perlakuan terhadap relawan Global Sumud Flotilla atau GSF. Ia menilai tindakan zionis Israel terhadap para relawan itu tidak manusiawi karena misi kemanusiaan justru dibalas dengan kekerasan dan penahanan.

Menurut KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, bantuan kemanusiaan seharusnya mendapat perlindungan, bukan perlakuan seperti ancaman. Dari cara pandang itu, ia menilai penculikan atau penahanan relawan yang membawa bantuan adalah bentuk penghinaan terhadap nilai kemanusiaan.

Gus Salam juga menempatkan kemanusiaan di atas batas-batas formal yang biasa dipakai dalam situasi normal. Ia mencontohkan bahwa ibadah wajib pun bisa dibatalkan bila ada kondisi darurat untuk menyelamatkan manusia, sehingga relawan GSF menurutnya tidak pantas diperlakukan sebagai tawanan dalam keadaan apa pun.

Tekanan politik dan boikot

Dari sikap itu, Gus Salam mendorong dunia untuk memberi tekanan yang lebih tegas kepada Israel. Ia menilai dialog saja tidak cukup jika kekerasan terus terjadi dan aktivis kemanusiaan tetap dihadang saat menjalankan tugas bantuan.

Ia juga menyebut jalur Perserikatan Bangsa-Bangsa bisa saja tidak efektif karena adanya hak veto dari negara tertentu. Karena itu, menurut dia, negara-negara lain masih bisa mengambil langkah politik sendiri, sementara masyarakat sipil dapat bergerak melalui jejaring maupun secara mandiri.

Salah satu langkah yang ia dorong adalah boikot terhadap produk yang berasal dari atau terafiliasi dengan kepentingan ekonomi dan politik zionis Israel. Bagi Gus Salam, boikot menjadi salah satu cara untuk menekan agar Israel menghormati keteraturan bersama dan prinsip perlindungan perdamaian.

Konflik yang meluas di Timur Tengah

Gus Salam menilai tindakan keras terhadap relawan hanya akan memperbesar krisis yang sudah ada di kawasan konflik. Ia juga menyatakan keraguannya bahwa zionis Israel benar-benar ingin tunduk pada hukum internasional.

Dalam pandangannya, karakter politik zionis Israel justru terbentuk untuk merusak tatanan internasional. Dampak konflik, kata dia, tidak berhenti di Gaza, tetapi juga dirasakan di Yerusalem, Tepi Barat, Lebanon, Suriah, dan sejumlah wilayah lain di Timur Tengah.

Kawasan strategis yang diperebutkan

Ia melihat Asia Barat atau Timur Tengah sebagai kawasan yang sangat strategis karena kaya sumber daya alam, terutama minyak dan gas bumi. Kondisi itu, menurut Gus Salam, membuat wilayah tersebut kerap diperebutkan kepentingan kapitalis dari Amerika dan Eropa.

Dalam kerangka itu, zionis Israel dinilainya dipakai sebagai alat pengaruh sekaligus pihak yang diuntungkan untuk menjaga kontrol atas Timur Tengah. Dari situ, ia melihat lahir relasi yang tidak setara dan terus memicu ketegangan berkepanjangan.

Nama Benyamin Netanyahu dan Itamar Ben-Gvir juga disorot Gus Salam sebagai bagian dari kepemimpinan zionis. Ia menilai mereka memahami keuntungan politik Israel sebagai proxy bagi kepentingan Amerika Serikat dan Eropa, dan cenderung angkuh serta hanya mau berbicara jika menguntungkan kepentingan mereka.

Gus Salam menegaskan dunia perlu memberi pelajaran kepada Israel agar menghormati keteraturan bersama. Baginya, upaya melindungi kemanusiaan harus diwujudkan lewat langkah nyata, bukan hanya seruan, ketika kekejaman masih terjadi dan relawan bantuan masih dihadang di lapangan.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button