Harga Memori Menggila, MacBook Terasa Lebih Masuk Akal daripada Laptop Windows

Harga laptop Windows belakangan terasa makin sulit ditebak, dan tekanan itu datang bukan dari satu merek saja. Gelombang permintaan AI ikut mendorong biaya komponen naik, terutama memori, sehingga banyak perangkat konsumen masuk ke level harga yang dulu sulit dibayangkan.

Di tengah kondisi itu, MacBook justru terlihat lebih masuk akal bagi sebagian pembeli. Bukan karena Apple menjadi murah, melainkan karena laptop Windows bergerak ke arah harga yang makin tinggi, bahkan untuk kelas yang selama ini dikenal sebagai pilihan utama pengguna umum.

Tekanan terbesar saat ini berasal dari pasar memori. Gartner memperkirakan harga DRAM dan SSD akan naik 130% pada akhir 2026, dan kenaikan itu disebut bisa mendorong harga PC naik 17%.

Laporan yang sama juga menyebut segmen PC entry-level di bawah $500 berpotensi menghilang pada 2028. Jika itu terjadi, pasar laptop murah akan makin menyempit dan adopsi AI PC ikut melambat karena perangkatnya semakin jauh dari jangkauan pembeli biasa.

Pasar konsumen ikut terseret kebutuhan AI

TrendForce menggambarkan situasi ini sebagai memory supercycle. Permintaan AI membuat produsen DRAM memprioritaskan HBM dan produk kelas server, sementara perangkat konsumen ikut menanggung dampaknya.

Laptop, tablet, dan perangkat lain yang membutuhkan memori besar tetap harus membayar biaya komponen yang sama. Masalahnya, kebutuhan pasar konsumen tidak tumbuh secepat permintaan pusat data, sehingga tekanan harga terus mengarah ke atas.

Situasi ini membuat banyak pembeli melihat daftar harga baru dengan rasa heran. Produk yang dulu terasa berada di kelas wajar kini tampak seperti barang premium, meski spesifikasinya tidak selalu naik sebanding dengan banderolnya.

Apple tidak berubah murah, tetapi tampak lebih rasional

MacBook Air dengan chip M5 masih dijual mulai $1.099 dengan 16GB memori dan 512GB penyimpanan. Angka itu tidak bisa disebut murah, tetapi di tengah pasar yang makin mahal, harga tersebut justru terlihat lebih mudah diterima.

Perbandingan paling jelas muncul di kubu Microsoft. Surface Laptop 13 inci kini mulai $1.199 setelah kenaikan harga bulan ini, dan beberapa model Surface terbaru disebut naik sampai $500.

Di kelas yang lebih tinggi, sebagian PC Windows bahkan sudah bersaing langsung dengan MacBook Pro terbaru. Kondisi itu membuat pembeli menghadapi pilihan yang tidak biasa, karena laptop Windows yang dulu dianggap alternatif kini sering masuk ke wilayah harga yang sama, atau bahkan melampauinya.

Laptop Windows berbasis ARM belum jadi penahan harga

Harapan sempat muncul dari laptop Windows berbasis ARM. Qualcomm dulu dipandang punya peluang lewat desain yang tipis, daya tahan baterai yang baik, dan efisiensi yang mendekati laptop Apple.

Namun, arah pasar tidak sesederhana itu. ASUS Zenbook A14 dan A16 yang memakai Snapdragon sempat hadir di Amerika Serikat, tetapi harga akhirnya ikut naik setelah ulasan mulai bermunculan.

Zenbook A14 naik menjadi $1.349, sedangkan Zenbook A16 menjadi $1.699. Kenaikan itu juga tercermin di wilayah lain, sehingga janji laptop efisien dengan harga kompetitif terasa semakin jauh dari kenyataan.

AI PC belum memberi pelindung dari lonjakan biaya

Di sisi lain, produsen PC juga sempat menempatkan AI PC sebagai pembuka babak baru. AMD Ryzen AI dan Intel Core Ultra diposisikan sebagai kombinasi yang mampu memberi performa sekaligus efisiensi lebih baik.

Meski begitu, gelombang kenaikan harga komponen mengubah arah cerita. Gartner mencatat vendor dan saluran distribusi sudah menaikkan inventaris pada kuartal pertama karena mengantisipasi kenaikan harga di kuartal kedua akibat inflasi memori.

Artinya, tekanan ini bukan kejutan mendadak. Pasar sebenarnya sudah melihat tanda-tandanya, tetapi industri tetap bergerak ke perangkat yang lebih mahal, bukan lebih terjangkau.

Dalam kondisi seperti ini, AI bukan hanya mendorong kebutuhan server dan memori kelas atas. AI juga membuat pasar laptop konsumen terasa kehilangan pegangan harga, sehingga MacBook tampak sebagai opsi yang paling masuk akal di tengah laptop Windows yang makin sulit dipahami.

Baca Juga

Back to top button