pelantar.id – Harga minyak mentah terpelanting setelah data industri menunjukkan peningkatan tak terduga dalam persediaan minyak Amerika Serikat. Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari 2019 berakhir anjlok 3,48 persen atau 1,61 poin di level US$44,61 pe barel pada perdagangan, Kamis (27/12/18).

Adapun minyak Brent untuk kontrak Februari berakhir anjlok US$2,31 atau 4,24 persen di level US$52,16 per barel di London ICE Futures Europe exchange.

Dilansir Bloomberg, American Petroleum Institute (API) yang didanai industri memperkirakan persediaan minyak mentah AS meningkat 6,92 juta barel pekan lalu, berlawanan dengan ekspektasi analis.

Kenaikan pasokan sebesar itu akan menjadi yang terbesar sejak awal November jika data Energy Information Administration (EIA) mengonfirmasikannya pada hari Jumat.

API juga  melaporkan pasokan minyak mentah di Cushing, Oklahoma naik 1,76 juta barel, sementara persediaan bensin naik 3,67 juta barel dan minyak distilat turun 598.000 barel. Padahal menurut survei terhadap analis Bloomberg, persediaan minyak mentah diperkirakan turun 3,25 juta barel pekan lalu.

Pelaku pasar telah gelisah pekan ini di tengah pergolakan saham dan minyak mentah. Pada hari Senin (24/12/18), minyak mentah patokan AS turun lebih dari 7 persen sebelum mampu melonjak lebih dari 10 persen pada Rabu (26/12/18).

Baca Juga :   5 Kesalahan Saat Menggunakan Masker

“Apa yang terjadi dengan ekonomi secara keseluruhan dan PDB sangat berkorelasi dengan permintaan minyak, itulah yang sebenarnya mendorong pergerakan belakangan ini,” kata Stewart Glickman, analis energi di CFRA Research.

Minyak mentah patokan AS berada di jalur untuk penurunan kuartalan terbesar sejak 2014 di tengah kekhawatiran bahwa perang perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan China akan menekan permintaan.

Pada saat yang sama, beberapa investor ragu bahwa kesepakatan OPEC untuk membatasi produksi dengan sekutunya akan membantu memperketat pasokan.

“OPEC jelas khawatir dengan harga dan ini hanya akan memperkuat kekhawatiran mereka,” kata James Williams, Presiden Direktur WTRG Economics yang berbasis di Arkansas, seperti dikutip Bloomberg.

Harga Batu Bara

Sementara itu, harga batu bara di bursa ICE Newcastle berhasil menguat pada akhir perdagangan Kamis (27/12/18).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Desember 2018 berakhir di level US$101,55 per metrik ton dengan kenaikan 0,54 persen atau 0,55 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Aktivitas bongkar muat di tempat penampungan batu bara di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

Pada perdagangan Rabu (26/12/18), harga batu bara kontrak Desember hanya mampu ditutup stagnan di level US$101 per metrik ton di tengah tipisnya volume perdagangan pascalibur Natal.

Baca Juga :   Penuhi Kebutuhan Air Putih untuk Manfaat Sebagai Berikut

Sebaliknya di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2019 lanjut berakhir melorot 1,14 persen atau 1 poin ke posisi 87, pelemahan hari keenam berturut-turut.

Di sisi lain, harga batu bara thermal untuk pengiriman Mei 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange berhasil rebound dari pelemahannya dan ditutup menguat 0,94 persen atau 5,2 poin di level 560,6 yuan per metrik ton pada perdagangan Kamis (27/12/18).

“Ketika proses pengurangan persediaan batu bara meningkat, ada peluang permintaan dan pembelian dapat mulai rebound,” jelas Nanhua Futures dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

Ketatnya pasokan jangka pendek juga terlihat saat output batu bara China mungkin berkurang pada bulan Desember di tengah inspeksi keselamatan pada tambang-tambang.

*****

Sumber : Bisnis.com