pelantar.id – China mengumumkan siap meluncurkan misi ambisiusnya berupa bulan buatan tangan manusia ke angkasa. Bulan buatan itu merupakan satelit dengan cermin luar angkasa berukuran raksasa yang bisa memantulkan sinar matahari ke Bumi.

Proyek yang diinisiasi oleh Institut Chengdu, Provinsi Sichuan, China Barat Daya, itu akan membuat tiga bulan.

Wu Chenfung sebagai Kepala Lembaga Penelitian Sains dari institusi tersebut mengatakan, berdasarkan rencana penelitian yang meliputi verifikasi peluncuran, injeksi robot, pembongkaran, pencahayaan, penyesuaian, dan pengendalian, bulan buatan manusia ditargetkan selesai pada 2020 dan siap mengorbit pada 2022.

“Pada saat itu, tiga bulan dengan cermin besar akan membagi bidang orbit 360 derajat dan menerangi suatu daerah selama 24 jam terus-menerus,” kata Wu dilansir People’s Daily, Selasa (16/10).

Baca Juga :   Maradona dan Romantisme Politik Sesudahnya

Wu melanjutkan, sinar matahari yang dipantulkan bisa menerangi area seluas 3.600 sampai 6.400 kilometer persegi, dengan intensitas cahaya delapan kali lebih terang dari cahaya bulan.

Untuk informasi, Bulan mengorbit Bumi sekitar 380.000 kilometer dari Bumi. Sementara bulan buatan manusia diperkirakan akan diletakkan di orbit dalam jarak sekitar 500 kilometer dari Bumi.

Menanggapi kekhawatiran apakah cahaya bulan buatan manusia akan mengganggu siklus siang-malam normal hewan dan tumbuhan, Wu mengatakan intensitas cahaya dan waktu iluminasi dapat disesuaikan dan akurasi iluminasi bisa dikontrol dalam jarak beberapa meter.

Saat bulan buatan mengorbit, orang hanya akan melihat bintang terang di langit yang menyinari jalanan suatu daerah.

Baca Juga :   Khabib Nurmagomedov: Alkohol, Wanita, dan Seks Musuh Utama Atlet

Untuk Penghematan Listrik

Proyek ini memang bertujuan untuk penerangan jalan dan penghematan listrik. Jika di malam hari mendadak mati listrik, tak ada masalah karena orang tetap bisa beraktivitas.

“Kalau bulan buatan menerangi area seluas 50 kilometer persegi, artinya kita dapat menghemat 1,2 miliar yuan muatan listrik,” ujarnya.

“(Bulan buatan) juga dapat menerangi suatu kawasan gelap, misalnya saat terjadi bencana gempa bumi yang membuat aliran listrik terputus,” sambungnya.

AS dan Rusia pernah mengeksplorasi bulan buatan manusia, berharap hal ini dapat membawa kenyamanan di malam hari.

Pada 1990-an, Rusia melakukan eksperimen yang disebut Banner, menguji gagasan mengunakan cermin untuk memantulkan cahaya matahari ke bumi. Namun, cermin itu gagal berfungsi di ruang angkasa dan eksperimen dihentikan.

Baca Juga :   Akhiri Dualisme Kewenangan di Batam dengan KEK

“China, Rusia, AS, Jepang, dan Uni Eropa berjuang untuk membuat terobosan teknologi pada aplikasi energi luar angkasa,” tutup WU.

Sumber : Kompas.com