Meski ancaman El Nino Godzilla terus dipantau, sejumlah lahan pertanian di beberapa daerah masih bisa ditanami karena hujan belum sepenuhnya berhenti. Kondisi itu membuat aktivitas petani tetap bergerak, terutama di wilayah yang pasokan airnya masih cukup membantu sawah dan lahan produksi.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono meninjau langsung kondisi lapangan untuk memastikan situasi air di daerah penghasil pangan masih terkendali. Pemantauan dilakukan agar pemerintah bisa membaca lebih cepat daerah mana yang masih aman dan mana yang mulai rawan kekeringan.
Hujan masih jadi penopang di sejumlah daerah
Sudaryono menyebut pemantauan dilakukan ke Sumatera Selatan, Jambi, dan Jawa Tengah. Laporan serupa juga diterima dari Kalimantan, sehingga pemerintah mendapat gambaran awal bahwa belum semua wilayah mengalami tekanan kekeringan yang berat.
Menurut dia, intensitas hujan di beberapa tempat masih cukup membantu petani mempertahankan masa tanam. Karena itu, dampak kekeringan belum terasa signifikan di sebagian wilayah yang dikunjungi maupun yang dilaporkan ke pemerintah.
“Intensitas hujannya masih lumayan,” ujar Sudaryono saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Petani memilih segera tanam setelah panen
Di lapangan, hujan yang masih turun membuat petani tidak ingin kehilangan momentum. Begitu panen selesai, banyak petani langsung menanam lagi agar lahan tetap produktif dan sisa hujan bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.
“Karena intensitas hujannya masih bagus, maka petani itu begitu panen, dia pengen segera nanam, mumpung hujannya masih ada,” kata Sudaryono.
Pola itu menunjukkan petani menyesuaikan langkah dengan kondisi cuaca yang belum sepenuhnya masuk fase kering. Selama air hujan masih tersedia, biaya tambahan untuk pengairan juga bisa ditekan, sehingga kegiatan budidaya tetap berjalan.
Pemerintah tetap siaga menghadapi perubahan cuaca
Meski kondisi di beberapa daerah belum mengkhawatirkan, pemerintah tidak menurunkan kewaspadaan. Mengacu pada prediksi BMKG, sejumlah antisipasi tetap disusun untuk menghadapi kemungkinan cuaca memburuk di daerah yang lebih rentan.
Langkah yang disiapkan mencakup pengadaan puluhan ribu mesin pompa untuk membantu pengairan sawah. Selain itu, jaringan irigasi di wilayah rawan air juga akan dioptimalkan agar lahan tetap mendapat pasokan saat hujan mulai berkurang.
Koordinasi dengan ratusan bupati di seluruh Indonesia juga diperkuat. Cara ini dipakai supaya respons daerah bisa lebih cepat jika tanda-tanda kekeringan makin terasa di lapangan.
Sudaryono menggambarkan ancaman itu sebagai kondisi yang perlu dihadapi serius. “Untuk kita memitigasi bagaimana kita mengantisipasi El Nino Godzilla ini. Bayangkan, El Nino-nya Godzilla. Keluar api dari mulutnya. Jadi kita udah bayang betapa kerasnya,” ujarnya.
Kerja bersama jadi kunci
Sudaryono juga menekankan bahwa penanganan ancaman iklim tidak bisa ditangani sendiri-sendiri. Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, dan HKTI diminta bergerak bersama agar masalah di lapangan tidak berhenti di level wacana.
Ia menegaskan, saat situasi sulit muncul, pihak-pihak terkait perlu saling membantu, bukan saling menyalahkan. “Enggak bisa kita kemudian di situasi sulit, kita nyalahkan orang lain. Kita harus mengantisipasi kesulitan ini dengan kita kerja dan mikir bareng-bareng,” tuturnya.
Pendekatan itu dinilai penting karena kondisi cuaca di setiap daerah tidak sama. Ada wilayah yang masih mendapat hujan, tetapi ada juga daerah yang lebih mudah terdampak jika musim kering menguat.
Dukungan anggaran untuk pompanisasi
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun untuk program pompanisasi. Anggaran itu diarahkan untuk sawah tadah hujan agar tetap bisa berproduksi ketika kekeringan ekstrem datang.
Amran juga menyebut Kementerian Pertanian akan mengerahkan 80.000 unit pompa untuk mendukung strategi tersebut. Program ini diposisikan sebagai cara menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman iklim yang masih terus dipantau.
Selama hujan masih turun di beberapa daerah, pemerintah memilih bergerak cepat sambil memantau perkembangan setiap wilayah. Fokusnya tetap pada ketersediaan air, kelanjutan tanam, dan upaya menjaga produksi pangan agar tidak tersendat saat tekanan El Nino Godzilla makin kuat.